Satu Islam Untuk Semua

Friday, 23 October 2015

BLOG – Kisah Perempuan Saudi di Iran (3)


shumal

Pengantar Redaksi: Tulisan berikut bersumber dari blog “saudiiniran“. Isinya merangkum kisah keseharian penulisnya, Sara Masry, seorang peneliti perempuan asal Arab Saudi, selama menetap dan belajar di sebuah universitas di Tehran, Iran, dalam 10 bulan terakhir. Redaksi Islam Indonesia memilih menayangkannya secara berseri untuk menghadirkan perspektif baru di tengah keterbelahan dunia Islam dan pekatnya iklim prasangka, kebencian dan stereotip yang mengiringi perseteruan Arab Saudi vs Iran ihwal sebab musabah Tragedi Mina. 

* * *

Berkunjung ke Shumal dan Puas

Jika kebetulan ada libur umum dan akhir pekan panjang di Iran, biasanya warga akan pergi jalan-jalan. Sebagian pulang kampung untuk mengunjungi keluarga, yang lain akan berkeliling berbagai daerah, menjadi turis dan bersenang-senang. Meski akhir-akhir ini agak sulit bagi keluarga berpenghasilan rendah untuk mengumpulkan biaya liburan, tapi praktek jalan-jalan ini masih tersebar luas di kalangan rakyat Iran. Tujuan perjalanan biasanya tergantung pada waktu yang ada, kecuali jika Anda memang ingin pulang kampung. Wilayah utara Iran merupakan wilayah paling populer untuk liburan musim semi dan panas.

Berbekal akhir pekan panjang, saya dan beberapa teman memutuskan pergi keluar kota selama beberapa hari. Cuaca di Tehran mulai gerah, dan kami pikir perubahan pemandangan mungkin bisa jadi pemacu yang sangat diperlukan dalam belajar. Aku sendiri belum bisa menghilangkan perasaan bahwa liburan musim panas sudah bermula sejak kelas berakhir, meski ujian akan segera tiba, dimulai dengan ujian bahasa Farsi besok.

Kami memutuskan pergi ke Ramsar, sebuah kota yang terkenal dengan keindahan alamnya di utara Iran. Seorang teman membantu kami menggunakan sebuah villa. Satu-satunya yang jadi masalah, setiap orang yang pergi ke sana memang melakukan perjalanan untuk menghabiskan akhir pekan yang panjang. Kami sudah mendengar cerita horor dari banyak orang tentang antrian lalu lintas luar biasa panjang di jalan menuju Shumal (utara Iran). Perjalanan kami, yang biasanya hanya menghabiskan empat jam dengan mobil, diproyeksikan akan molor sampai 14 jam oleh beberapa orang. Dalam beberapa kesempatan, kami bahkan disarankan untuk membatalkan rencana, terutama setelah satu dari empat jalan menuju utara ditutup polisi. Tanpa rasa takut, kami berupaya mengalahkan sistem macet itu, dengan begadang pada Rabu malam agar tiba di jalan pukul 4 pagi dengan keyakinan kami hanyalah sebagian kecil dari orang-orang yang berpikir untuk memulai perjalanan lebih awal. Ternyata betapa keliru kami.

Sebelum terjebak dalam macet pertama, sopir taksi kami mengatakan kami sudah memilih waktu terbaik — mengingat kami harus menunggu sampai jam kerja salah satu teman kami berakhir. Tapi dia yakin kami tetap akan terjebak macet. Dia bahkan mengatakan, meski istrinya berkali-kali mengajak pergi ke utara untuk menghabiskan akhir pekan yang panjang, dirinya tidak pernah mengabulkan karena macet yang luar biasa. Saya lalu minta maaf padanya karena kami akan membuatnya terpaksa menghadapi mimpi buruk itu, apalagi posisi kami hanyalah penumpang, bukan keluarganya.

Lepas meninggalkan Tehran, lalu lintas mulai padat, sporadis dan akhirnya terhenti. Karena terjebak dalam kemacetan adalah hal baru bagi saya dan adrenalin saya tumpah ruah seperti saat sedang begadang, menyaksikan kemacetan jadi bagian yang sangat menarik bagi saya. Rasanya seolah kami tengah berada di antara ribuan konvoi yang bergerak menuju satu tempat umum, seperti sebuah festival. Saya menatap kendaraan-kendaraan di sekitar kami — beberapa penumpang menaruh barang-barang di atap mobil. Terlihat beragam suasana hati yang berbeda dalam diri mereka. Ada mobil yang penumpangnya tertidur pulas, membiarkan sopir mobil yang malang sendirian; ada mobil dengan penumpang yang tertawa-tawa bahkan menari, memulai perayaan akhir pekan mereka di jalan; ada yang diam membisu, dengan pandangan penuh amarah dan mengamati lalu lintas di depannya. Ada juga bus lintas kota yang dipenuhi para penumpang yang ternyata sangat berpikir ke depan. Semua tiket bus ke Ramsar sudah ludes dipesan jauh-jauh hari sebelumnya. Lambat laun, beberapa mobil berhenti dan mendirikan tenda di sisi jalan, memulai piknik. Beberapa pria tua berjalan dengan peralatan mendaki (Shumal memang terkenal dengan jalan mendaki yang menakjubkan), sementara yang lain ber-selfie ria di depan sungai dan pemandangan spektakuler lainnya. Restoran, toko-toko di pojokan dan penjual makanan di jalanan buka 24 jam untuk memasok keperluan wisatawan yang lelah di jalan, menghidupkan suasana dan melipatgandakan rasa migrasi bersama kami. Beberapa pedagang asongan mengitari mobil-mobil menawarkan bunga dan CD, sementara yang lain menyalakan dupa Iran yang disebut Esfand. Meski saya yakin mereka yang sudah biasa menghadapi suasana ini akan merasa sangat lelah dan bosan, tapi saya berusaha menikmatinya.

Begitu macet reda dan fajar terbit, teman-teman saya jatuh tertidur meninggalkan, sopir taksi dan saya — sepertinya sayalah penduduk Tehran yang tersisa – yang menyaksikan megahnya pegunungan menuju Shumal. Ini memberi saya cukup waktu untuk berpikir dan merefleksikan waktu saya di sini, apakah saya sudah mencapai sebagaian keinginan lewat liburan yang begitu cepat menghampiri.

Pertanyaan utama di pikiran saya adalah apakah masuk ke daerah yang tidak diketahui memang cukup berharga untuk meninggalkan pekerjaan tetap dan bermanfaat, untuk mengkhawatirkan ibu yang berharap saya akan segera menikah dan memberikan anak-anak yang akan bermain bersamanya, dan berpotensi membuat saya harus memperhatikan beberapa list di daerah itu.

Saya datang ke sini demi membenamkan diri dalam budaya lokal, mempelajari bahasa dan memperoleh pemahaman mendalam tentang rakyat di sini, berharap bisa memperoleh beberapa hal untuk melawan beberapa stereotip. Saya mulai mengevaluasi kemajuan saya dalam hal tersebut. Sementara ujian saya nanti mungkin akan mendapat nilai lebih akurat, saya cukup senang dengan tingkat Farsi saya. Karena kedekatan bahasa Arab dan Farsi, serta intensifitas kursus bahasa yang saya ikuti, saya kadang-kadang mencampur aduk kata dengan bahasa Farsi saat berbicara bahasa Arab dengan keluarga, teman atau orang-orang Arab yang saya temui di Iran. Selain itu, saya sadar terkadang mengucapkan kata-kata Farsi dengan ejaan yang sama tapi beda pengucapan dalam dua bahasa itu. Sepertinya saya sudah membuat sebuah merek ‘Farabic’ yang sangat khusus, dan pastinya memicu tatapan ingin tahu dari orang Arab asli ketika itu terjadi. Mudah-mudahan, saya bisa segera keluar dari kebiasaan ini.

Selanjutnya, selama di sini, saya bertemu dan berteman dengan beberapa orang yang sangat luar biasa. Hal ini terlihat dalam acara ulang tahun saya seminggu yang lalu, kala saya menyadari rasa benar-benar kehilangan teman selama liburan musim panas. Sepasang suami istri membuatkan saya sebuah buku indah berisi gambar berbagai perjalanan kami di seluruh Iran, mengingatkan saya tentang semua petualangan kami dan memicu antisipasi saya untuk melanjutkannya. Acara ulang tahun saya itu cukup unik karena tamunya adalah orang Iran dari beragam latar belakang sosial, tetapi mereka semua bersatu dalam kebaikan. Saat mendengar dari putrid mereka, Donya — yang kemudian menjadi teman baik saya — bahwa saya berencana mengundang lebih banyak orang, tetangga saya itu bersikeras membuatkan berbagai hidangan lezat. Mengingat keterampilan memasak saya yang menyedihkan — tujuan lain saya datang ke sini dan tinggal sendirian adalah perbaikan ketrampilan memasak, dan ini masih dalam proses — tawaran baiknya itu plus bantuan beberapa teman — yang untungnya datang lebih awal dari acara — memungkinkan saya menyuguhkan makanan dengan sangat baik pada tamu-tamu sambil terus memperbaiki pujian mereka perihal kemampuan memasaka ‘saya’ yang luar biasa.

Adapun tujuan mengambil lagi pandangan yang lebih akurat tentang negara ini dan rakyatnya — sementara saya cukup yakin tidak bisa mengubah dunia — saya sangat berharap blog ini serta berbagai percakapan saya dan pertanyaan orang saat saya pulang ke rumah akan jadi jalan pintas untuk mencapai tujuan ini. Saya menyadari saya punya kesempatan dan pengalaman unik di Iran, dan saya ingin tidak membuang-buangnya karena ada begitu banyak orang di wilayah Timur Tengah yang punya ide salah tentang Iran. Ada perasaan cukup aneh kala mengetahui bahwa saya akan meninggalkan Iran setelah tiga bulan. Saya merasa seperti saya sudah menyatu di sini — sebuah hadiah, yang benar-benar saya nikmati — dan saya ingin melihat apa yang akan terjadi setelah saya pulang dari persinggahan musim panas ini. Saya sangat berharap bahasa Farsi saya akan bertahan, dan saya berencana mencari sebanyak mungkin orang Iran untuk berlatih bahasa selama liburan, serta meneruskan seri Farsi Harry Potter (saya sekarang sudah membaca Harry Potter o Zendaniye Azkaban).

Mengenang kembali jalan dengan pemandangan gunung hijau dan alam yang indah membuat saya tersentak keluar dari pikiran, Shumal benar-benar indah (lihat foto). Kami makan makanan lezat (karena dekat Laut Kaspia, makanan khas Shumal adalah ikan — favorit saya), naik mobil kabel ke puncak gunung dimana kami bisa melihat kota pantai indah di bawahnya, dan mendaki gunung secara spontan (kalau dipikir-pikir, cukup berbahaya) karena kami mendaki bukit curam, sementara beberapa dari kami hanya mengenakan sandal. Meski saya mungkin tidak akan rela memilih menghabiskan waktu lagi dalam kemacetan dan menculik teman-teman saya yang bekerja untuk pergi sebelum bermulanya akhir pekan panjang secara resmi, saya pasti akan datang kembali dan menjelajahi kota sepanjang pantai Kaspia itu lebih juh. Sayangnya tidak banyak studi yang saya lakukan, tapi saya menghibur diri dengan kenyataan bahwa saya menghabiskan seluruh liburan dengan berbicara bahasa Farsi dengan penduduk setempat dan karena itu, ujian pertama saya akan baik-baik saja. Sementara saya menjawab sendiri renungan perjalanan tentang datang ke Iran dengan nada positif, saya kira kami akan tahu jawaban untuk [ujian] yang satu ini besok.

Anisa/Saudiiniran.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *