Satu Islam Untuk Semua

Monday, 15 October 2018

Bersama Semar, Wali Songo Ajak Masyarakat Jawa ke Jalan yang Benar


Bersama Semar, Wali Songo Ajak Masyarakat Jawa ke Jalan yang Benar

islamindonesia.id – Bersama Semar, Wali Songo Ajak Masyarakat Jawa ke Jalan yang Benar

 

Pernah mendengar tokoh Semar? Nama ini kerap kali muncul dalam dunia seni pewayangan bersama tiga sosok wayang lain bernama Gareng, Petruk, dan Bagong. Namun lebih daripada itu, mereka merupakan sosok penghantar dakwah yang makin dipopulerkan Sunan Kalijaga untuk menyiarkan Islam di Pulau Jawa.

Dalam sejarah Nusantara, wayang merupakan kesenian khas Jawa yang diyakini hadir sejak tahun 1500 SM. Pada masa itu, masyarakat meyakini bahwa setiap benda hidup memiliki ruh, baik dan jahat. Sehingga dibuatlah wayang dalam bentuk bayangan yang menggambarkan kehidupan manusia pada umumnya.

Pergelaran kesenian ini hanya diadakan pada acara tertentu, seperti upacara kelahiran atau upacara tolak bala. Namun seiring dengan perkembangan kepercayaan di Tanah Air, wayang pun digunakan untuk menyampaikan ajaran agama yang masuk ke Indonesia. Adalah Sunan Kalijaga yang menciptakan tokoh-tokoh seperti Semar, Petruk, Gareng, Bagong. Keempatnya termasuk dalam Punakawan, yang bermakna mentor bijak bagi para Pandawa.

Penamaan tokoh yang menemani syiar Sunan Kalijaga diambil dari bahasa Arab. Semar yang digambarkan sebagai sosok bijak dan kaya pengetahuan, diambil dari bahasa Arab “simaar” atau “ismarun” yang berarti paku. Ia memiliki nama lain “ismaya” yang berasal dari kata asma-Ku atau simbol kemantapan dan keteguhan.

Gareng atau Nara Gareng yang cerdik namun kurang dapat menyampaikan pemikirannya secara lugas, berasal dari kata naala qarin yang berarti memperoleh banyak kawan. Petruk yang kurang cerdas namun banyak bicara, disadur dari kata faruk yang berarti tinggalkan yang jelek. Bagong yang kritis nan humoris, berakar dari kata “bagha” yang berarti pertimbangan makna dan rasa antara baik-buruk, benar-salah. Nama Bagong juga diperkirakan berasal dari kata “baqa'” yang berarti kekal.

Bersama Semar dan kawan-kawan Punakawan, para Wali Songo menyampaikan ajaran Islam melalui kisah-kisah pewayangan yang menyesuaikan dengan sikap masing-masing tokoh yang beragam, untuk dipertunjukkan pada masyarakat Jawa. Pendekatan melalui seni yang mendarah daging kemudian melekat pada masyarakat Jawa hingga kini. Semar pun menjadi identik dengan nilai religi.

Di balik layar putih, bayangan Semar sedang menjalankan tugas para Wali Songo yang melahirkannya, yakni mengajak masyarakat ke jalan yang benar.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *