Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 16 January 2014

Yang Terlupakan dari Keraton Cirebon


wildfachdi.wordpress.com

“Ingsun titip masjid lan fakir miskin” (Saya titip masjid dan fakir miskin)–Sunan Gunung Jati

Ada satu tradisi unik yang dilakukan masyarakat Cirebon di setiap tahun. Tepatnya, tradisi itu dilaksanakan pada saat tanggal 12 Robiul Awal, guna memperingati kelahiran Nabi Muhammad Saw., atau yang pada tahun ini bertepatan dengan tanggal 14 Januari, kemarin.

Biasanya, perayaan yang dinamakan Panjang Jimat tersebut dimulai ba’da isya, atau sekitar pukul 19.00 dan diakhiri pada tengah malam. Ribuan orang dari berbagai daerah di Indonesia pun ikut memeriahkan acara sakral ini.

Konon, tradisi ini sudah ada sejak zaman Khalifah Sholahudin Al Ayubi 1193 M. Ini berarti tradisi yang juga disebut Pelal tersebut sudah dilakukan lebih dari 6 abad yang lalu atau sekitar 700 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad.

Sultan yang kala itu memerintah di wilayah haramain (Mekah dan Madinah) setingkat gubernur, mengimbau ke seluruh jamaah haji dari berbagai belahan dunia agar jika kembali ke kampung halaman masing-masing segera mensosialisasikan perayaan maulid kepada masyarakat Islam di mana saja berada dengan tujuan untuk mengenang dan selalu meneladani nabi Muhammad Saw. dengan berbagai upacara perayaan. Kemudian, Pangeran Cakrabuana mengadopsi perayaan itu dan disesuaikan dengan adat istiadat setempat, hingga kini dikenal lah apa yang disebut upacara Panjang Jimat.

Dalam perayaan tersebut dilakukan berbagai ritual. Seperti pembacaan ayat suci al-Quran, keterangan singkat tentang Panjang Jimat dari Sultan, memandikan jimat atau benda-benda pusaka peninggalan leluhur Cirebon, abdi dalem dan keluarga Sultan Keraton Cirebon iring-iringan dengan mengumandangkan shalawat, dan berbagai simbol lainnya yang menunjukkan banyak makna.

Pada iringan pertama, Panjang Jimat dimulai dengan barisan lilin yang melambangkan kelahiran nabi pada malam hari sebagai penerang.

Barisan kedua membawa Manggaran, Nagan, dan Jantungan yang lambangkan kebesaran dan keagungan.

Barisan ketiga membawa air mawar, pasatan, dan kembang goyang sebagai perlambang air ketuban dan usus atau ari-ari bayi.

Barisan keempat membawa air serbat dalam empat baki dan dua guci sebagai perlambang simbol air, tanah, api dan angin.

Barisan kelima membawa tumpeng jeneng, 10 nasi uduk, 10 nasi putih sebagai perlambang seorang bayi harus diberi nama yang baik agar menjadi orang yang berguna, dan barisan keenam adalah tujuh nasi jimat.

Iring-iringan tersebut kemudian berjalan menuju Langgar Agung (Mushola) dari Bangsal Purbayaksa yang dipimpin oleh Sultan Kasepuhan. Dengan khidmat, seluruh pengunjung mengumandangkan shalawat dan pengajian kitab Barjanzi bersama hingga tengah malam.

Setelah itu, 38 buah piring pusaka peninggalan Sunan Gunung Jati yang berisi Nasi Jimat Tujuh Rupa dan beragam makanan lainnya pun dibuka. Makanan tadi disantap bersama. Dan, dengan sekejap, ribuan warga pun menyerbu tempat tersebut untuk “ngala berkah” (ambil berkah). Bahkan, ribuan warga yang tidak bisa memasuki area masjid, rela menanti Sultan berjam-jam dan berdesak-desakan hanya untuk sekadar menyalami atau menyentuh tangan Sultan. Hal ini diyakini agar mereka mendapatkan berkah dalam kehidupannya. 

Lebih dari sekadar perayaan

Jika ditelisik lebih dalam, perayaan yang digelar oleh tiga keluarga keraton di Cirebon yakni Kanoman, Kasepuhan, dan Kacirebonan ini pada dasarnya memiliki makna lebih dari sekadar perayaan atau ritual tahunan semata.

Bukan tanpa alasan kata Panjang Jimat ini dipilih sebagai nama sebuah kegiatan. Itu lah yang kemudian dianggap sebagai sesuatu yang sakral dan patut dijaga, dipelihara, dan diperkenalkan secara turun temurun—bukan hanya oleh kalangan yang berasal dari keluarga keturunan keraton, tapi juga oleh masyarakat Cirebon, dan bahkan menjadi kebanggan tersendiri bagi bangsa ini melalui peninggalan bukti syiar Islam terbesar, Sunan Gunung Jati.

“Jimat” yang juga berarti pusaka, berasal dari kata “siji kang dirumat” atau satu yang dihormati. Dalam prosesi ini, makna sesungguhnya dari satu yang dihormati adalah kalimat sahadat “La Illa ha Illahah” sehingga arti gabungan dua kata itu adalah kalimat sahadat yang harus terus dipelihara umat Islam.

Berarti, pesan pertama yang ingin disampaikan dari peringatan ini, sesungguhnya untuk mengingatkan kita semua—yang mengaku sebagai umat muslim untuk selalu mengingat sang Pencipta, di mana pun dan kapan pun.

Hal ini tampak jelas ketika kita memasuki wilayah keraton, yang dihiasi dengan pesan utama Sunan Gunung Jati, yakni “ingsun titip masjid lan fakir miskin” (Saya titip masjid dan fakir miskin).

Ini menandakan bahwa, bukan hanya kita mengingat Tuhan dan Nabi-Nya, lalu melepas tanggungjawab antar sesama manusia. Lebih dari itu, seperti apa yang diungkapkan oleh PRA Arief Natadiningrat, putra mahkota Kesultanan Kasepuhan, “Peringatan Maulud Nabi juga harus mengingatkan kita untuk terus meneladani sikap dan perilaku Rasulullah Saw.”

Lantas, sudahkah pesan demikian terealisasi?

Sayangnya, belum. Ya, bukan hanya belum terealisasi, namun pesan sakral yang sejatinya patut diingat dan dijalankan, kini tampaknya makin terlupakan. Tentunya berbarengan dengan hadirnya hingar bingar perayaan yang meriah, hingga lupa atau mungkin menutupi pesan utamanya.

Betapa tidak, ada pemandangan yang miris sekaligus ironi ketika saya menjejakkan kaki di istana Cirebon tersebut. Di sepanjang jalan menuju keraton, puluhan pengemis dalam jarak yang saling berdekatan ikut turut serta menghiasi perayaan tersebut.

Bahkan, sungguh di luar dugaan saat saya lewat area keraton, dan ada beberapa pengemis yang menimpali rombongan kami dengan sumpah serapah. “Mugo mobile kebalik” (semoga mobilnya terbalik) sambil menarik-narik baju saya. Bukan hanya sekali, tapi beberapa pengemis, dengan nada yang hampir sama itu menyapa kami, para pengunjung—yang kebetulan tidak membawa dompet—karena berniat untuk ziarah.

Kondisi ini berbanding terbalik, dengan ketika saya masih kecil. Saya, yang asli warga Cirebon begitu menikmati liburan akhir pekan bersama keluarga untuk ziarah ke makan Sunan. Bahkan kami memperlakukan keraton bak tempat rekreasi yang sangat murah meriah dan juga menyenangkan.

Namun kini, entah apa yang terjadi. Tapi, satu hal yang kemudian menjadi potret masyarakat masa kini—khususnya bagi kami—warga Cirebon. Jika memang keadaannya memang sangat memprihatinkan, bukankah ini menjadi tanggungjwab kita bersama untuk saling membantu, seperti halnya yang dipesankan Panjang Jimat?

Atau jika memang ini merupakan bagian dari “penyakit” masyarakat yang gemar menengadahkan tangan, bukankah ini pula menjadi tanggungjawab kita bersama untuk kembali mengingatkan pesan utama kanjeng Rasul, tentang betapa indahnya tangan di atas dari pada tangan di bawah?

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *