Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 21 July 2016

WAWANCARA – Peneliti Amerika: Apakah Masjid Bisa Menjadi Sekolah Demokrasi?


masjid-in-agung-royal-mosque-yogyakarta-indonesia

IslamIndonesia.id – WAWANCARA – Peneliti Amerika: Apakah Masjid Bisa Menjadi Sekolah Demokrasi?

Dari masjid kampung ke masjid kampung lainnya, Danielle N. Lussier, seorang peneliti politik dari Grinnell College Amerika Serikat mengamati sejumlah aktivitas jama’ah masjid di Yogyakarta, termasuk ibadahnya. Mulai dari shalat jama’ah, khutbah jum’at, pengajian ibu-ibu, kegiatan Ramadhan, hingga ikut dalam rapat takmir masjid.

“Kalau saya masuk gereja, suasananya biasa saja. Tapi ketika saya masuk masjid, setiap orang akan memandang ke arah saya,” kata perempuan berambut pirang ini sambil mengekspresikan pengalamannya soal kehebohan ketika masuk masjid-masjid kampung.

Setidaknya telah terkumpul 500 halaman yang menampung data lapangan sebagai bahan analisis penelitiannya seputar ‘Peran Rumah Ibadah di Dalam Proses Politik Pribadi di Yogyakarta’. Salah satunya untuk mendapatkan jawaban, “Apakah masjid bisa menjadi sekolah demokrasi?”

Di tengah kesibukannya mempersiapkan ‘mudik’ ke negaranya, asisten profesor yang sedang berkunjung ke Masjid Jendral Sudirman Yogyakarta ini  berkesempatan menerima wawancara dari Islam Indonesia. Berikut petikannya:

Sejak kapan tertarik belajar tentang Indonesia?

Saya belajar Indonesia sejak 20 tahun yang lalu, sejak belajar gamelan Jawa di Amerika dan saya punya beberapa guru dari Solo. Waktu itu saya masih strata-1, jurusan Bahasa Rusia. Namun saya tertarik belajar gamelan Jawa hingga selama 3 tahun di universitas saya. Setelah itu saya tetap belajar sebagai hobi.

Beralih dari studi Rusia ke studi Indonesia, alasannya?

Belajar tentang Rusia juga cukup lama. Pertama kali saya ke Rusia 26 tahun yang lalu. Saya bisa bahasa Rusia dengan baik dan sempat tinggal di sana selama tiga tahun. Saya tertarik pada waktu karena di sana proses demokratisasi berjalan dengan baik. Namun ketika saya telah mencapai S-3, demokratisasi di Rusia telah ‘selasai’.

Nah, pada waktu itu, proses demokratisasi di Indonesia sudah mulai. Dan saya juga telah tertarik dengan kebudayaan Jawa. Indonesia, negara yang sangat besar. Bahasa, suku bangsa sangat banyak, beragam, dan demokratisasi sangat baik sehingga saya tertarik mengikutinya.

Bisa diceritakan lebih detail mengapa dari hobi gamelan bisa tertarik pada studi Indonesia. Apa ada kisah di balik gamelan?

Ketika saya S-3 saya sudah bisa belajar bahasa Rusia dengan baik, namun saya berpikir masih ingin belajar bahasa lagi.  Dan universitas di mana saya belajar, juga punya kelas bahasa Indonesia. Saya sempat berfikir apakah belajar bahasa Indonesia sulit atau tidak. Namun setelah saya pertimbangkan, mungkin saja (kalau saya bisa bahasa Indonesia) saya bisa ke Indonesia musim panas untuk belajar gamelan.

Akhirnya saya masuk kelas (bahasa Indonesia) hari pertama, dan ketika saya masuk saya melihat pembimbing saya di kelas itu. Dia orang Rusia, dan setelah bertemu (serta diskusi), dia pun berkata bahwa studi tentang perbandingan Rusia dan Indonesia sangat menarik. Dan sejak itu saya mulai belajar bahasa Indonesia. Bagi saya, tidak terlalu sulit untuk mempelajarinya. Meskipun saya sedikit malas belajar. Tapi setelah belajar bahasa, jadi ingin selalu memperaktikkannya.

Anda mengapresiasi demokrasi di Indonesia, bagaimana dengan praktik-praktik politik kotor yang marak terjadi dalam proses demokrasi?

Demokrasi yang saya maksud tidak termasuk pemerintah yang tidak bekerja dengan baik.

Apa catatan Anda, khususnya kekurangan, mengenai demokrasi di Indonesia secara keseluruhan?

Bagi saya, kekurangan di Indonesia ada dua, dan ini menurut saya sangat penting. Pertama, kurang dipenuhinya hak minoritas. Kalau orang-orang Kristen ingin membangun gereja misalnya, mereka perlu izin dari semua penduduk di daerah itu. Tapi kalau umat Islam ingin membangun masjid, tidak perlu izin.

Yang kedua ialah korupsi dimana politik uang berperan. Praktik ini dilakukan di mana-mana.  Biasanya ini hanya satu periode dalam proses demokratisasi, karena setelah beberapa lama partai politik semakin mengerti bahwa membuat program yang baik untuk rakyat lebih menguntungkan dibanding memberi mereka uang. Saya tidak tahu banyak politik uang di desa-desa, tapi biasanya politik uang lebih banyak di desa daripada di kota.

Pengalaman Anda sendiri tentang Islam, khususnya Islam Indonesia?

Saya juga sempat belajar sedikit tentang Islam di Rusia. Karena di sana ada minoritas Islam yang (waktu itu) kurang lebih 10 persen.  Saya juga pernah kolaborasi dengan beberapa dosen di Amerika untuk sebuah survei soal Islam di Libanon, Indonesia dan Yordania. Dan ketika saya S-3 saya turut membantu pembimbing saya menulis tentang komunitas Muslim dimana saya bertugas melakukan survei di 20 negara. Di Amerika Serikat pun saya pernah mengajar tentang Islam dan Politik.

Menurut saya, di mana-mana, Islam sangat berhubungan dengan kebudayaan lokal. Kebudayaan lokal di Timur Tengah, atau di Rusia berbeda dengan Indonesia. Sejumlah faktor penting (yang mengkhususkan) Islam di Indonesia, seperti  sejarah penjajahan, sejarah minoritas, masuknya Islam ke Indonesia setelah kebudayaan Budha dan Hindu. Jadi menurut saya Islam di Indonesia dapat menyerap hal-hal positif dari kebudayaan lain dan dapat menghormati kebudayaan sebelumnya. Berbeda dengan Islam di negara lainnya, di sini misalnya buka puasa dengan beduk. Begitu juga gereja di sini ada gong, yang juga tidak ditemukan di gereja luar Indonesia.

Dalam studi Indonesia sendiri, sejak kapan Anda tertarik meneliti peran agama?

Memang persoalan agama, dulunya, belum masuk ke dalam konsepsi saya (tentang Indonesia). Hanya, setelah saya selesai S-3 dan telah menyelesaikan buku saya tentang ‘Partisipasi dan Demokrasi di Indonesia’, saya mulai melihat peran agama lebih menentukan. Dan karena itu, mengapa saya ke sini (Indonesia) lagi.

Penelitian Anda ingin mencari tahu apakah masjid bisa menjadi sekolah demokrasi. Bisa diceritakan latar belakangnya?

Di Indonesia, dimana mayoritas beragama Islam dan juga (menjalankan) demokrasi. Dalam studi politik, kami juga tertarik mengapa di banyak negara Islam tidak banyak yang menerapkan demokrasi? Dan saya berusaha melihat proses-proses demokrasi terjadi (di umat Islam), termasuk apakah di masjid menjadi bagian penting dalam proses demokrasi?  Saya belum tahu, tapi dari penelitian saya sebelumnya saya (berkesimpulan) orang yang lebih sering ikut ibadah, lebih sering berpartisipasi dalam ruang  politik. Nah, korelasi inilah yang ingin saya ketahui lebih dalam lagi.

***

Di Masjid Jendral Sudirman Yogyakarta, Danielle sempat memaparkan soal penelitiannya ini dan berdiskusi dengan sejumlah pengurus masjid termasuk dengan Redaksi Islam Indonesia. Dalam bukunya “Constraining Elites in Russia and Indonesia”,  tentang proses demokratisasi setelah dimulainya masa reformasi di Indonesia, Danielle berpendapat bahwa orang yang lebih sering ikut ke rumah ibadah juga lebih aktif di dalam partisipasi politik. Menurutnya, hasil tersebut benar untuk orang Muslim dan orang Nasrani.

Di sisi lain, kebanyakan studi tentang hubungan antara Islam dan politik memfokuskan tentang organisasi-organisasi dan tokoh-tokoh pemimpin dan aktivis. Nah, menurut jebolan Universitas California ini, ada kekurangan studi tentang warga-warga di tingkat pribadi sejauh ini.  Pada titik ini, pertanyaan tentang “Apakah masjid juga menambah kemungkinan untuk warga Muslim menjadi lebih efektif di dalam partisipasi politik?”

Misal saja, jama’ah masjid memungkinkan mendapat keterampilan sipil (civic skills) yang kemudian bertransformasi ke partisipasi politik. Dari sejumlah sampel rumah ibadah yang diteliti di Yogyakarta, umumnya kata Danielle, gereja-gereja memberi kemungkinan lebih besar kepada jama’ahnya untuk melaksanakan keterampilan sipil dari pada masjid-masjid.

Bukan tanpa alasan, ilmuan yang mengkaji demokratisasi ini tertarik mencari korelasi rumah ibadah dan partisipasi politik ini. Walaupun tugas utama rumah ibadah adalah membuat kondisi untuk kebaktian keagamaan, tapi menurutnya rumah ibadah juga adalah tempat di mana komunitas bisa berkumpul untuk membahas kesulitan di dalam kehidupan mereka. Selain itu, rumah ibadah adalah tempat di mana orang-orang bersama-sama mendiami nilai-nilai utama.

Sedemikian sehingga mereka merasa kepercayaan lebih kuat sesama jama’ahnya dibanding dari luar. Dengan demikian, rumah ibadah juga merupakan tempat penting untuk memperkuat hubungan antara jama’ah dari beragam latar dan juga bisa berperan sebagai tempat untuk menerima informasi yang dapat dipercaya.

Jadi, apakah apakah masjid bisa menjadi sekolah demokrasi? Kita tunggu Danielle N. Lussier menuntaskan hasil penelitiannya.[]

 

YS/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *