Satu Islam Untuk Semua

Friday, 13 November 2015

WAWANCARA – Naoki Yamamoto: ‘Kuncinya Front Bersama Tasawuf, Sunni, Syiah’


2015-11-12 13.02.58

Setidaknya 30 orang peneliti dari berbagai negara turut dalam konferensi “Revisiting Sunni and Syiah: Thoughts, Sprituality, and New Movements” di Yogyakarta, (8/11). Hadir di antaranya peneliti Tarekat Imam Birgivi, Qayyim Naoki Yamamoto, dari Universitas Kyoto, Jepang. Imam Birgivi (1571) dikenal sebagai inspirator gerakan pembaharuan Islam pada masa Dinasti Usmaniyah.

Bagi Yamamoto, Birgivi dengan tarikatnya yang dikenal “Al Muhammadiyah”, berhasil menjadi pembaharu sufisme yang bersandar pada Alqur’an dan Hadist. Gerakan pembaharuan ini, bagi Yamamoto, tidak lepas dari sikap kritis Birgivi pada fenomena banyaknya sufi di zamannya yang tidak memiliki kontribusi — bahkan turut merusak masyarakat Islam.

Di sela-sela konfrensi, redaksi Islam Indonesia berkesempatan  mewawancarai Yamamoto ihwal minatnya pada Tasawuf.

Apa yang membuat Anda memilih untuk menulis tasawuf Imam Birgivi?

Sebagaimana yang saya sampaikan dalam pendahuluan (presentasi), saya ingin mengetahui peran sufi yang sebenarnya di masyarakat, khususnya di era kontemporer dalam dunia Islam. Hampir semua sufi mendapat kritik dari Birgivi karena tidak memberikan kontribusi. Bahkan, Birgivi mengkritik, merekalah yang sebenarnya merusak masyarakat, khususnya di Timur Tengah.

Para sufi, di awal sejarahnya, yang benar-benar murni, seperti wali dan para orang-orang saleh. Tapi sufi sekarang, sangat disayangkan, menjadi bagian dari kerusakan. Saya ingin tahu bagaimana perubahan itu terjadi dan apakah benar rusaknya orang-orang yang menamakan dirinya sufi itu dimulai pada masa Dinasti Usmaniyah. Termasuk saya ingin tahu apakah ada sufi yang menentang pengerusakan itu, dan akhirnya saya menemukan Imam Birgivi.

Sejauh yang  saya ketahui, Imam Birgivi dengan Taraiqatnya‘Al Muhammadiyah’ adalah tasawuf yang sebenarnya.

Secara umum, apa sih peran tasawuf menurut Anda?

Selain saya mempelajari tasawuf Birgivi, saya juga mempelajari tasawuf pada beberapa syekh lainnya di Istanbul, Turki. Apa yang tasawuf kontribusikan ialah membantu kita lebih tenang dalam menjalankan syariat. Tasawuf mengajarkan kita untuk menjalankan syariat lebih mudah. Seperti shalat subuh yang kebanyakan orang sulit untuk mengerjakannya karena harus bangun subuh. Tapi dengan tasawuf, dimana kita diajarkan untuk mengalihkan perhatian (batin) hanya pada Tuhan, hingga menjalankan (salat subuh) akan lebih mudah, dan inilah (salah satu peran) tasawuf.

Bagaimana dengan kontribusi pada ranah sosial dalam era kontemporer seperti sekarang?

Saya pikir pada era kontemporer, setiap muslim mesti mengetahui kepada siapa ia harus mengabdikan dirinya, baik di bidang sosial, politik, atau ekonomi. Sebagai hamba Allah, seharusnya tiap muslim mencapai kebebasan (hurriyah). Namun kebebasan dalam tasawuf, berbeda dengan apa yang dikenal di Eropa. Karena kebebasan di Eropa, maksudnya: Anda menjauh dari Tuhan. Namun dalam tasawuf, kebebasan yang dimaksud ialah bebas dari ketundukan pada apapun atau siapapun kecuali pada Allah SWT. Ini termasuk pula mengetahui Allah, dan mengetahui apa yang seharusnya dilakukan. Dan ini yang paling penting dari tasawuf: meninggalkan segala perbuatan yang merusak serta tunduk pada satu keberadaan, yaitu Allah. Ini juga yang menjadi tantangan bagi Muslimin di era kontemporer. Karena dalam dunia Islam, banyak sekali ketundukan (yang tidak semestinya) kepada kekuasaan, baik dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi, dll. Sesungguhnya mereka belum mengenal Sang Penguasa yang sebenarnya. Kekuasaan yang sebenarnya hanya milik Allah.

Kapan Anda mengenal Tasawuf?

Sebelum saya masuk Islam, saya telah mempelajari tasawuf.

Tasawuf semacam apa?

Tasawuf filosofis. Ada buku tasawuf yang diterjemahkan oleh Habibah Nakata, yang berjudul “Risalah Tauhid“. Dari buku ini saya banyak belajar hingga saya tersentuh.

Persisnya kapan Anda mengalami hal itu?

Persis setelah saya tamat dari SMA. Saat itu saya masih remaja dan saya mengalami depresi karena saya tidak temukan solusi (keluar dari depresi). Pada waktu itu, saya tidak memahami, apa makna dari kehidupan ini. Tapi ketika saya membaca buku yang diterjemahkan Habibah Nakata, saya terbebas dari tekanan (kegelisahan). Makna tertinggi (dari hidup) ini seharusnya (disandarkan) hanya pada Allah. Dan inilah kebebasan dan esensi tasawuf, demikian pula esensi ajaran Tauhid. Saya benar-benar merasakan ketenangan.

Nama depan Anda ‘Qayyim’, terinspirasi darimana nama itu?

Guru saya yang memberikan. Diambil dari nama Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, murid Ibnu Taimiyah.

Apa yang Anda harapkan dari pertemuan “Revisiting Sunni-Syiah” di Yogykarta ini?

Dalam konteks tasawuf, dimana banyaknya sufi yang tidak memahami makna tasawuf sebenarnya, oleh sebab itu kita seharusnya menoleh kembali pada dua tradisi tasawuf dalam Islam untuk menggali makna sebenarnya. Seperti yang kita ketahui, setiap tahun di Jepang tidak sedikit yang bunuh diri karena beratnya tantangan hidup yang dihadapi hingga mereka mengalami depresi. Jika mereka mengenal tasawuf, sebagaimana saya sampaikan sebelumnya, mereka tidak perlu mengalami tekanan hidup seperti itu. Ketika kita menyadari adanya Allah, maka hidup kita lebih tenang.

Alih-alih “revisit”, bukankah yang marak terjadi akhir-akhir ini ialah konflik Sunni Syiah, menurut Anda?

Saya tidak terlalu mendalami masalah (konflik) ini, meski hal ini juga terjadi banyak di era kontemporer. Apa yang saya yakini, lewat “revisiting Sunni Syiah” ini dan jika benar-benar ingin “revisit”, maka muslim sunni tidak menyerang Syiah (begitu juga sebaliknya). Perhatian masing-masing pada perlawanan terhadap kerusakan yang dilakukan oleh kekuasaan (yang merusak dan tidak seharusnya dipatuhi). Sebagaimana kita ketahui, kerusakan dalam dunia Islam masih banyak terjadi dan kita harus menyadari dan melakukan perlawanan. Bukan berarti harus dengan kekerasan seperti menggunakan senjata, tapi bisa dengan dengan tulisan. Dan inilah yang seharusnya dunia Islam lakukan, khususnya dalam konteks “Revisiting Sunni-Syiah”.

 

Edy/ Islam Indonesia

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *