Satu Islam Untuk Semua

Monday, 24 February 2014

Venesia di Barat Asia


foto:pbase.com

Semula  merupakan kantong militer. Berkembang menjadi kota niaga dan ilmu pengetahuan di zaman Bani Umayyah. Kini, justru menjadi incaran Inggris dan Amerika Serikat.

 

Maret 2003, Brigade Ke-7 Pasukan Lapis Baja Inggris yang populer dengan julukan Tikus-Tikus Gurun,bergerak memasuki kota Basrah, Irak Selatan. Di kota yang terkenal sebagai kawasan anti Sadam Husein itu, mereka justru kecele. Alih-alih disambut hangat, mereka malah mendapat hadiah gempuran mortir dan artileri.

“Ini di luar perkiraan kami. Basrah mestinya diserang satu divisi pasukan, tak cukup hanya dengan Pasukan Ke-7 Lapis Baja,” kata seorang pejabat militer Inggris kepada surat kabar ternama The Guardian.

Perang memang bukan hal yang asing bagi penduduk Basrah. Sejak awal pendiriannya, Basrah seolah sudah ditabalkan sebagai sebuah amsar (garnisun militer). Itu pertama kali dilontarkan oleh seorang panglima pasukan Arab Islam.

Tersebutlah, Panglima  Utbah ibn Gazwan. Usai menaklukan kota Ubullah, ia merasa ribuan anak buahnya membutuhkan  tempat bernaung untuk menghadapi musim dingin. Lantas disuratinya Khalifah Umar ibn Khattab di Madinah.

Permintaan Panglima Utbah dikabulkan oleh Khalif Umar. Maka pada 638 M, ribuan orang yang terdiri dari tentara dan rakyat sekitar bahu membahu membangun kawasan yang dilukiskan Utbah kepada Khalif Umar sebagai “tanah subur yang dekat dengan mata air dan tempat penggembalaan.”

“Orang berdatangan ke tempat itu dan membangun tempat tinggal dari buluh, dan Utbah membangun sebuah masjid juga dari batang buluh. Kalau pasukan itu berperang mereka mencabuti bambu-bambu itu lalu diikat. Bilamana kelak kembali dari medan perang mereka bangun kembali…”tulis Muhammad Husain Haekal dalam Umar bin Khattab.

Semenjak itu, Basrah menjadi tempat bertolak pasukan Arab Islam dalam beberapa ekspedisi penaklukan. Di kota garnisun Basrah, para prajurit Arab diajarkan untuk menjalani kehidupan islami yang penuh kesederhanaan dan kewaspadaan.”Dari sinilah berbagai tradisi yang bisa diakomodasikan dengan pandangan duniawi Qur’an diteruskan di negeri asing,”ungkap Karen Armstrong dalam Islam, A Short History.

Selama pemerintahan tiga rasyidin pertama, Basrah tidak begitu popular dibanding Mekah dan Madinah. Hingga pada 657, kala kota tersebut menjadi arena peperangan yang dalam tarikh Islam dikenal sebagai Perang Unta (harb al-jamal). Itu adalah puncak perseteruan antara kubu Khalifah Ali ibn Abithalib dengan Ummu Mukminin Aisyah. “Awalnya perang itu terjadi disebabkan oleh ketidakpuasan para sahabat pimpinan Aisyah yang menganggap Khalif Ali bersikap tidak tegas terhadap para pembunuh Khalif Utsman,” tulis  Joesoef Sou’yb  dalam Sejarah Daulat Khulafaur Rasyidin.

Sejarah mencatat adu nyawa antara saudara tersebut berakhir dengan kekalahan di pihak Ummul Mukminin Aisyah. Korban keseluruhan tercatat berjumlah sekitar 10.000 jiwa. Itu termasuk dua sahabat Nabi: Thulhah dan Zubair. Aisyah sendiri luput dari maut dan mendapat perlakuan hormat dari Ali. Ia lantas kembali ke Madinah dan menghindari dunia politik hingga wafat.

Usai berakhirnya masa khalifah yang empat, Basrah berkembang menjadi kota niaga dan pertanian. Tahun 670 M, Gubernur Khurasan—provinsi yang ada dibawah  kendali Dinasti Umayyah—menyulap  kota militer tersebut menjadi kota pelabuhan bertaraf internasional. Sungai Shatt al-Arab yang ada di sana menjadi pintu masuk menuju Teluk Persia.

Begitu pentingnya posisi Basrah bagi Kekhalifahan Bani Umayyah, hingga  soal tata kota pun diperhatikan betul. Selain membangun berbagai gedung dagang dan tempat pertahanan, Bani Umayyah pun membuat 120 ribu kanal di Basrah. Itulah sebabnya beberapa sejarawan Barat menyebut  Basrah sebagai Venesia di Barat Asia.

Terbukanya jalur dari Teluk Persia, menjadikan Basrah ramai oleh lalu lalang berbagai bangsa dari  hampir seluruh mancanegara. Orang-orang Cina, Yunani, Romawi, India dan Persia, setiap waktu memenuhi bandar internasional Basrah. Selain berniaga, tak jarang mereka pun melakukan riset-riset sekaligus menjadi tenaga pengajar bagi orang-orang Arab. Dan untuk soal belajar ini, saat itu orang-orang Arab memang terkenal rajin dan ulet.

“Orang-orang Arab menjadi murid-murid yang rakus dari orang-orang Yunani, Romawi, India dan Persia,”ungkap Philip K.Hitti dalam History of the Arabs.

Di Basrah, hampir semua disiplin ilmu berkembang secara pesat kala itu. Namun yang paling termasyur adalah hukum Islam dan seni. Nama-nama seperti Hasan al-Bashri, Ibn Syihab dan Al Zuhri adalah para ahli hukum yang berpengaruh saat itu di Basrah.

Kisah Ali Baba dengan 40 penyamunnya juga adalah produk Basrah abad pertengahan. Ali Baba adalah seorang anak muda miskin, penemu sebuah gua tempat menyimpan harta para penyamun. Untuk memasuki gua tersebut, ada sebuah mantra yang harus diucapkan. Bunyinya: “Sesam, buka pintu Anda.” Mantra itulah yang jadi terkenal ke seluruh dunia saat Hollywood meluncurkan film “Ali Baba and the Forty Thieves” pada 1944.

Tahun 1922, para ahli menemukan kenyataan bumi Basrah dipenuhi oleh minyak. Jumlahnya sungguh fantastik: 20 milyar barel. Itu adalah 17% dari minyak bumi Irak, yang merupakan negara kedua terbesar penghasil minyak bumi di dunia.  Sejak itu, Basrah menjadi rebutan banyak perusahaan kilang minyak dunia, termasuk 2 raksasa perusahaan minyak Inggris: BP Amoco dan Royal Dutch Shell.

Jadi kalau “Tikus-Tikus Gurun”  Inggris  berkeliaran hingga ke Basrah,itu bukan suatu hal yang aneh. ”Mereka ada di Irak, semata-mata hanya untuk minyak dan minyak…”kata Noam Chomsky,seorang intelektual anti perang asal Amerika Serikat.

 

Sumber: Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *