Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 02 January 2016

‘Umat Islam dan Kristen Palestina Sama Menderita’


hqdefault

Uskup Kristen Ortodoks Palestina di Tanah Suci Jerusalem termasuk yang lantang menyeruakan  derita umat Kristen Palestina. Mereka ikut memperjuangkan kemerdekaan Palestina bersama pejuang Muslim lainnya.

“Saya adalah orang Palestina dan saya adalah bagian dari orang-orang beragama yang berjuang untuk kebebasan dan kehormatan untuk mewujudkan mimpi-mimpi dan hak-hak nasional mereka. Saya mendukung mereka. Kami kaum Kristen Ortodoks tidak terpisah dari penderitaan mereka,” kata Uskup Sebastia Theodosios (Atallah Hanna).

Uskup Sebastia Theodosios merupakan satu-satunya uskup Kristen kelahiran Palestina yang menetap di Jerusalem. Adapun uskup lainnya berasal dari Yunani.

Kewarganegaraan sebagai orang Palestina menjadikan pria 49 tahun ini sebagai satu-satunya uskup yang tidak memiliki hak istimewa. Pemerintah Israel sering kali menolak atau menghambat Uskup Sebastia di perbatasan bahkan kerap menyita paspornya.

“Menurut pemerintah Israel, saya bukanlah uskup, tetapi seorang warga Palestina biasa,” katanya seperti dikutip rt.com

Bagi Sebastia, sebuah kebanggaan untuk menjadi bagian dari agama yang telah ada sejak 2000 tahun silam. Sebastia bangga dengan agama dan kewarganegaraannnya serta tanah airnya. Isu-isu Palestina, lanjut Uskup Sebastia, adalah masalah yang melibatkan umat Kristen maupun Muslim sendiri. Masalah dari setiap orang berakal yang menginginkan kebebasan dan keadilan di dunia ini.

Uskup Sebastia menekankan bahwa kaum Kristen Palestina juga sama-sama kehilangan pekerjaan dan merasakan penderitaan dari situasi ekonomi. “Umat Islam dan Kristiani sama-sama menderita dan berada pada keadaan yang sama-sama rumit,” katanya

Uskup Sebastia tidak lupa menjelaskan bagaimana pemerintah Israel memperlakukan orang Palestina dengan cara yang tidak bisa diterima atau disetujui. Sebabnya karena Israel memperlakukan orang Palestina seperti orang asing di tanah sendiri.

“Padahal kami adalah orang asli atau pribumi. Kami bukan pendatang di sini, kami ada sejak dahulu. Sebaliknya Israel-lah yang pendatang. Mereka memperlakukan kami seperti kami datang dari suatu tempat dan secara tak sengaja tersesat di sini. Kami adalah pemilik yang sah. Di tanah ini kami sudah ada sejak lama. Sebelum Israel, leluhur kami telah tinggal di sini selama berabad-abad.”

Itulah alasan, menurut Sebastia, mengapa sikap Israel tidak bisa diterima. Israel tidak pernah mempedulikan apa dan siapa mereka (warga Palestina).  “Pertanyaan utamanya adalah apakah mereka memiliki izin untuk memasuki Jerusalem atau tidak,” katanya

Bahkan sebenarnya, demi kepentingan Israel dan peraturan yang sangat rasis ini, umat Kristian Palestina tetap menjadi target utama mereka. Israel mengambil alih kontrol gereja-gereja mereka secara penuh. Bahkan secara tidak langsung mereka ingin orang-orang Kristen Palestina hengkang. “Dengan begitu apa yang dialami umat Islam dan Kristen Palestina sama saja,” katanya. []

 

Andi/ Edy/ Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *