Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 27 February 2014

Umar bin Abdul Aziz dan Maut Sang Pemimpin


www.radio.alfatah.net

Suatu hari, khalifah Bani Umayah Umar bin Abdul Aziz hadir di tengah-tengah rakyatnya. Kedatangannya merupakan suatu kesempatan emas yang paling ditunggu-tunggu, khususnya bagi kalangan bawah.

Bukan tanpa alasan, kehadiran Umar ini menjadi momen berharga bagi rakyat. Sebab, selain bisa ngobrol santai dengan orang nomor satu di Madinah itu, rakyat pun akan pulang dengan sekarung bahan makanan pokok—yang sengaja Umar sisihkan dari gaji bulanannya.

Namun, di tengah hari, Umar merasa capek. Ia pun berkata pada khalayak, “Wahai saudaraku, badanku terasa letih karena sudah sejak pagi membagikan ini dan itu untuk kalian. Bagi yang belum mendapat giliran, diamlah di tempat kalian sejenak. Tunggulah sampai aku kembali dari istirahat.”

Lalu khalifah pun bergegas masuk. Tiba-tiba, puteranya, Abdul Malik datang dan bertanya tentang keberadaan ayahnya. “Di mana ayahku? Mengapa kalian duduk berdiam tanpa ada yang menemani?”

Sebagian besar rakyat, dengan suara agak gaduh menjawab, “Pemimpin besar kami mohon pamit untuk istirahat sejenak, wahai Putera Mahkota.”

Mendengar penjelasan itu, Abdul Malik segera masuk dan meminta izin untuk menemui ayahnya. Setelah diizinkan, ia berkata, “Wahai Amirul Mukminin, apa yang membuatmu memilih masuk dan duduk di kamar ini?”

“Anakku, Ayah ingin istirahat sejenak.” Jawabnya.

Dengan ramah Abdul Malik berkata, “Apa Ayah yakin jika maut tidak akan menjemputmu ketika rakyat—titipan Allah—itu menunggumu di depan pintu sembari berkucuran keringat, sementara Ayah menutup diri dari mereka?”

Seketika itu Umar pun bangkit dan keluar menemui rakyatnya.

—–

Maut—salah satu hak bagi setiap makhluk yang  bernyawa itu, bisa datang kapan dan di mana saja. Melalui mulut buah  hatinya, Khalifah Umar mendapat teguran dari Allah, bahwa betapa pentingnya mendahulukan kepentingan rakyat dibanding diri sendiri.

Bahkan, Umar begitu menyegerakan bangkit dan melupakan rasa lelahnya seketika itu pula saat ia mengingat “jatahnya” (maut) yang bisa datang kapan pun dan di mana pun. Umar menyadari, betapa ruginya ia jika seandainya maut itu datang sementara dirinya tengah terlena—melupakan tititpan Allah—yang akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Tuhan Semesta Alam.

Ya, maut—sesuatu yang pasti—tanpa bisa kita ketahui kapan dan di mana. Bukankah ini (pula) yang seharusnya disadari oleh setiap insan?

Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin Hakam bin Abi Ash. lahir di keluarga bangsawan dan ulama. Ibunya bernama Laila binti Ashim bin Umar bin Khattab. Ia diangkat sebagai gubernur Mekah dan Madinah pada masa Walid bin Abdul Malik, khalifah keenam Bani Umayah di usianya yang ke-36.

Meski hanya menjabat kurang dari waktu tiga tahun, tapi kepemimpinannya ini konon berhasil membuat rakyatnya makmur.

Tak hanya itu, ia pun hidup sederhana dan sangat terbuka serta merasa senang apabila ada orang yang memberi kritik atas kebijakan-kebijakan yang ia keluarkan. Bahkan, ia sendiri yang meminta agar selalu diingatkan dan dibimbing.

Hal ini lah yang kemudian mengantarkan Umar sebagai pepimpin paling disegani sekaligus menjadi panutan di negerinya pada masa itu, hingga sekarang.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *