Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 14 May 2015

Tutup Perbatasan, 3 Negara Cegat dan Dorong Kapal Pengungsi Rohingya Kembali ke Laut Lepas


500234-1eaf2c98-f87f-11e4-857f-b08ec264ced5

Otoritas keamanan di Indonesia, Malaysia dan Thailand memilih menutup pintu perbatasan dan mendorong kapal-kapal pengungsi Rohingya kembali ke tengah samudera, kata pejabat, memperbesar peluang tragedi pada ribuan orang pengungsi Muslim yang telah berbulan-bulan bertaruh nyawa di perairan internasional.

Pada Rabu, juru bicara TNI Mayor Jenderal Fuad Basya mengkonfirmasi langkah Angkatan Laut di Aceh mendorong  kembali kapal pengungsi Rohingya ke laut lepas.

“Para pengungsi telah diberikan bantuan bahan bakar minyak dan persediaan makanan sebelum meninggalkan Indonesia,” katanya.

Seorang pejabat Angkatan Laut menggambarkan keputusan itu semata memenuhi “keinginan pengungsi” Rohingya yang meninggalkan Myanmar dan Thailand di tengah meningginya gelombang prosekusi dan kebencian etnis dan agama.

Mereka memilih berlabuh di Malaysia dan bukan Indonesia, katanya.

Pada Minggu, warga Aceh Utara menyelamatkan 600 orang pengungsi Rohingya yang hidup mengenaskan dan terapung-apung di lautan setelah kapal mereka kehabisan bahan bakar. 

Pemerintah lokal sementara waktu menampung pengungsi di stadion Lhoksukon, ibu kota Aceh Utara.

“Kebijakan Indonesia adalah menawarkan makanan dan tempat bernaung bagi pengungsi sambil berkerjasama dengan lembaga penanggulangan pengungsi internasional,” kata juru bicara Kementrian Luar Negeri, Arrmanatha Nasir, Rabu.  

“Pengungsi yang sudah mendarat tidak kami kembalikan ke perahu dan dorong ke laut lepas,” katanya seperti dilansir The Jakarta Globe.

Guru Besar Hukum Internasional di Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, membenarkan langkah TNI mendorong kapal pengungsi ke luar pagar perbatasan laut. 

“Kalau Indonesia menampung semuanya, bisa-bisa seluruh Rohingya lari ke Indonesia. Sementara di Indonesia masih banyak rakyat  miskin yang harus ditangani,” katanya ke Islam Indonesia.

Penyelesaian nestapa pengungsi Rohingya di luar kemampuan Jakarta dan semestinya jadi beban di pundak lembaga internasional seperti PBB, katanya.

Malaysia, Thailand

Dari Malaysia, seorang pejabat militer menyatakan keputusan menutup perbatasan laut setelah, pada Minggu yang sama, 1.018 orang pengungsi Rohingya yang berjejalan di tiga kapal kayu, berhasil berlabuh di Utara Pulau Langkawi, Malaysia.

“Kami tidak akan membiarkan kapal asing masuk,” kata Laksamana Pertama Tan Kok Kwee dari  lembaga penegak maritim Malaysia. “Kecuali kapal rusak dan tenggelam. Angkatan laut akan menyediakan keperluan dan (kembali) menyuruh mereka pergi.” 

Di Thailand, junta militer mengirim pernyataan yang bertolak belakang terkait kapal-kapal pengungsi Rohingya. “Sejauh yang saya ketahui, Indonesia, Malaysia dan Thailand memutuskan tidak menerima manusia perahu,” kata jui bicara junta, Mayor Jenderal Werachon Sukhondhapatipak, pada Reuters.

Namun Angkatan Laut Kerajaan menampik kabar itu dan menegaskan tak memilih kebijakan mengusir pengungsi ke laut lepas atas nama kemanusiaan.

“Jika mereka sampai di perairan Thailand, kami wajib menolong mereka dan menyediakan makanan dan minuman,” kaya Laksama Madya Kan Deeubol.

UNHCR, lembaga penanggulangan pengungsi PBB, sebelumnya meminta Indonesia, Malaysia dan Thailand turun tangan menolong ribuan orang pengungsi Rohingya yang kini terombang-ambing di antara Selat Malaka dan Lautan Andaman.
PBB mengingatkan “krisis kemanusiaan besar” kika ketiga negara tak ringan tangan menolong pengungsi di laut lepas.

Sementara itu seorang aktivis di Human Right Watch berpendapat bila penolakan atas kapal pengungsi masih terjadi, negar yang terlibat punya “andil darah” dalam setiap kematian pengungsi Rohingya di laut lepas.

Berdasarkan cerita pengungsi si Aceh, Muslimin Rohingya berlayar dari Rakhine, Myanmar, kemudian berlayar menuju Malaysia dan Thailand. Beberapa tewas dalam perjalanan.

Permasalahan pengungsi Rohingya baru masuk pembahasan pada pertemuan 15 negara, melibatkan Indonesia, Malaysia dan Thailand, di Bangkok, 29 Mei.

Hingga kini tak begitu jelas nasib pengungsi Rohingya setelah TNI Angkatan Laut mendorong kapal mereka kembali ke laut lepas.

(Ami/Islam Indonesia)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *