Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 26 November 2016

Tura Janji: Jimat Anti Radikalisme Masyarakat NTT


tura-janji-jimat-anti-radikalisme-masyarakat-ntt

islamindonesia.id – Tura Janji: Jimat Anti Radikalisme Masyarakat NTT

 

Isu kebangsaan berupa ancaman instabilitas nasional akibat pengaruh buruk paham radikal yang semakin massif penyebarannya di Tanah Air, tak dapat dianggap sebelah mata. Jika dibiarkan tanpa pencegahan dini, tak mustahil dampaknya akan membuat bangsa kita terpecah-belah dan hidup dalam teror dan ketakutan. Hal inilah yang dalam beberapa tahun terakhir memantik keprihatinan sejumlah pihak, yang menginginkan Indonesia tetap menjadi negeri yang aman dan damai, jauh dari aksi-aksi pemanisme dan kekerasan atas nama apapun, apalagi atas nama agama.

Belakangan, banyak peristiwa mengenaskan telah terjadi di beberapa daerah di Tanah Air, di antaranya penyerangan aparat keamanan dan pemboman tempat-tempat ibadah, yang pelakunya teridentifikasi sebagai pengikut paham radikal dan terbukti berafiliasi dengan kelompok atau jaringan teroris internasional.

Namun hal semacam itu, sampai saat ini belum pernah terjadi di NTT. Padahal dari sisi geografis, wilayah NTT terletak di bibir pantai dan rawan akan potensi masuk dan menyebarnya paham kekerasan. Tapi kenapa Nusa Tenggara Timur nyatanya aman dari bahaya itu?

Penelitian yang dilakukan oleh Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) selama 8 bulan (Maret-Oktober 2016) menemukan jawabannya.

Penelitian yang dilakukan dengan pendekatan sosio kultural ini mengungkap bahwa alasan dibalik kuatnya masyarakat NTT menahan laju radikalisme dan terorisme adalah adanya sebuah perjanjian adat yang disebut “Tura Janji” untuk hidup berdampingan secara damai di kalangan suku Lio.

Hal ini diungkap pada gelaran seminar hasil penelitian FKPT yang dilakukan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Rabu (23/11/16) lalu, di Hotel T-More, Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pada paparan hasil penelitian ini juga dinyatakan bahwa masyarakat NTT menghormati Tura Janji itu dengan sepenuh hati, sehingga masyarakat tidak akan mudah terpengaruh oleh paham-paham yang masuk ranah mereka.

Tura Janji diharapkan mampu untuk terus menjadi penyemangat masyarakat NTT agar hidup dalam perdamaian dan berdampingan dengan sesama, sehingga paham-paham yang mengajarkan permusuhan dan kekerasan seperti radikalisme dan terorisme akan sendirinya tertolak oleh masyarakat.

Wakil Gubernur NTT, Drs. Benny A. Litelnoni, SH, M.Si yang hadir dalam seminar ini mengaku sangat berterima kasih atasnama pemda NTT kepada BNPT dan FKPT NTT yang telah melaksanakan penelitian dan seminar hasil penelitian ini. Baginya, hasil penelitian ini penting karena dapat memberikan gambaran dan deteksi dini tentang perkembangan radikalisme di wilayah NTT, sehingga masyarakat NTT dapat meningkatkan kewaspadaannya.

NTT sendiri tercatat memiliki 1109 pulau dengan hanya 300-an di antaranya yang berpenghuni, hal ini tentu berpotensi ‘mengundang masuk’ kelompok radikal. Namun, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat NTT telah memiliki caranya tersendiri untuk menjaga wilayah dan masyarakatnya aman dari radikalisme dan terorisme, dan cara itu terbukti sangat efektif, yakni melalui perjanjian adat.

Seminar ini sendiri dihadiri oleh sedikitnya 40 tamu undangan yang terdiri dari pegawai Pemda, TNI Polri, akademisi, tokoh masyarakat dan agama, serta jurnalis media.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *