Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 07 January 2017

Tradisi Tolu Batu Lalikan: Cara Masyarakat Toraja Rawat Toleransi Berkelanjutan


tradisi-tolu-batu-lalikan-cara-masyarakat-toraja-rawat-toleransi-berkelanjutan

islamindonesia.id – Tradisi Tolu Batu Lalikan: Cara Masyarakat Toraja Rawat Toleransi Berkelanjutan

 

Masyakarat Tana Toraja, Sulawesi Selatan, yang terkenal sebagai masyarakat multikultural, memiliki ragam suku, ras dan agama, punya cara unik merawat toleransi antaretnis dan umat beragama.

Tradisi “Tolu Batu Lalikan” yang dalam bahasa Toraja kira-kira bermakna persekutuan antara budaya, agama dan pemerintah menjadi perekat kokoh toleransi antar umat beragama di Toraja.

Menggali pemaknaan simbol-simbol budaya dan agama dalam konteks yang luas untuk kemaslahatan manusia yang terus-menerus digalakkan masyarakat, pemerintah dan tokoh agama, menjadikan Toraja tak mudah terpancing konflik atau disharmoni antara umat beragama yang kerap meletup di sejumlah daerah di tanah air.

Pendeta Sulaiman Manguling MTh, yang juga tokoh masyarakat di Tana Toraja, Kamis (29/12/2016), menyebutkan, sinergitas yang terbangun kokoh antaretnis, suku dan umat beragama di Toraja sudah berlangsung ratusan tahun lalu.

Yang menarik, menurut Sulaiman, masyarakat Toraja dalam memperkaya kesadaran toleransi tidak hanya memanfaatkan agama masing-masing sebagai basis, tetapi juga budaya Toraja yang diwariskan secara turun-temurun.

Tradisi “Tolu Batu Lalikan” dalam bahasa Toraja juga dimaknai sebagai saling menopang dan mendukung menjadikan masyarakat Toraja tidak mudah terpecah-belah meski isu disharmoni sedang berlangsung di berbagai daerah.

Menurut Pendeta Sulaiman, persatuan dan kesatuan antarumat beragama dan antaretnis serta golongan di Toraja sangat kokoh dan tidak mudah digoyahkan meski ada upaya mengobok-obok semangat toleransi dari luar daerah.

Sulaiman mengatakan, toleransi unik ala masyarakat Toraja dijumpai dalam agama apa pun di Toraja.

Saat umat Kristiani merayakan Natal dan Paskah, misalnya, umat lain datang menawarkan peran-peran apa saja yang bisa mereka lakukan sebagai bentuk partisipasi dan penghormatan tanpa mereka harus diundang terlebih dahulu.

Demikian sebaliknya, saat umat agama lain seperti Muslim merayakan acara keagamaan seperti Idul Fitri, Isra’ Mi’raj, Maulid Nabi, penganut agama lain-lain juga datang menawarkan bantuan tanpa diminta.

Termasuk juga jika ada orang yang meninggal. Semua warga, tanpa membeda-bedakan agama, ikut berbaur dan saling membantu dari mulai mengurus jenazah hingga pemakaman.

“Dalam acara tertentu simbol-simbol agama atau apa pun malah tak muncul sama sekali, terutama misalnya saat ada kematian salah satu umat atau pemeluk agama tertentu, semua agama lain datang tanpa mengenal identitas apa pun dan ini sudah terpelihara ratusan tahun lalu,” jelas Sulaiman.

Kekompakan masyarakat Toraja juga ditunjukkan ketika konflik bernuasa SARA sedang menimpa kabupaten tetangga, Luwu pada 1998. Masyarakat Toraja yang datang dari beragam agama dan suku ikut berperan menyelesaikan konflik tersebut.

“Saat konflik bernuansa SARA di Luwu 1998 silam, masyakarat Toraja yang multiagama, etnis dan suku ikut terpanggil berperan membantu menyelesaikan konflik. Dan, kita bersyukur konfliknya reda,” ujar Sulaiman.

Sulaiman mengatakan, masyarakat Toraja juga rutin menggelar kongres yang disebut Toraja Makombongan. Rapat yang sudah digelar beberapa hari lalu itu memutuskan bahwa dalam memperkokoh semangat kebersamaan dan persatuan masyarakat, budaya Toraja sebagai salah satu basis nilai yang terbuka untuk agama apa saja harus terus diperkuat dengan cara diinterpretasi ulang dan disesuaikan dengan perkembangan zaman.

 

EH / Islam Indonesia – Sumber: kompas.com 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *