Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 15 October 2017

Tiga Isu Utama Halaqah Ulama ASEAN 2017 yang Digelar Kemenag


Tiga Isu Utama Halaqah Ulama ASEAN 2017 yang Digelar Kemenag

islamindonesia.id – Tiga Isu Utama Halaqah Ulama ASEAN 2017 yang Digelar Kemenag

 

Kementerian Agama kembali menggelar Halaqah (Sarasehan) Ulama ASEAN. Pelaksanaan halaqah tahun ini merupakan yang ketujuh sejak tahun 2010 yang diinisiasi Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan (Penda) Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI.

Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Litbang dan Diklat Kemenag Abdurrahman Mas’ud dalam jumpa pers di Gedung Kemenag Jl MH Thamrin Jakarta, Jumat (13/10/2017). Acara yang dijadwalkan selama tiga hari, Selasa-Kamis, 17-19 Oktober 2017 ini akan dihelat di Hotel Sari Pan Pasific Jakarta.

“Halaqah ini merupakan tindaklanjut dari halaqah tahun 2016 yang saat itu mengetengahkan tema Mengembangkan Islam Moderat Melalui Jaringan Pesantren ASEAN,” ujar Mas’ud didampingi Kepala Puslitbang Penda Amsal Bachtiar dan Ketua Panitia OC Nyai Hj Faiqoh Mansyur.

Mas’ud menambahkan, Halaqah Ulama ASEAN Tahun 2017 ini akan diarahkan kepada tiga isu utama. Pertama, pengembangan Islam moderat (wasathiyah) melalui jaringan pendidikan Islam ASEAN. Kedua, penguatan daya saing lembaga pendidikan Islam di ASEAN. Ketiga, membuat model lembaga pendidikan Islam yang kompetitif, mampu merespon tantangan dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Menurut pria kelahiran Kudus ini, halaqah tahun 2017 lebih istimewa lantaran didahului oleh penelitian tentang pesantren dan lembaga pendidikan yang memiliki kemandirian di bidang ekonomi, baik di Indonesia maupun di negara-negara ASEAN. Dari halaqah ini diharapkan lahirk program kerja yang berkelanjutan (networking).

“Hasil riset menyebut bahwa beberapa pesantren di Indonesia ternyata mampu mandiri dalam membiayai ekonomi dan mendorong jiwa wiraswasta kepada para santrinya. Di negara ASEAN lainnya, lembaga pendidikan Islam berjalan lewat usaha sendiri, terutama di negara-negara minoritas muslim, seperti Kamboja dan Philipina,” ungkapnya.

Dikatakan Mas’ud, tahun ini tema yang diangkat adalah Memperkuat Daya Saing Lembaga Pendidikan Islam ASEAN. Menurutnya, pertimbangan tema ini penting dan perlu diangkat karena peran sentral pendidikan.

“Pendidikan itu segala-galanya, (proses dan hasil) pendidikan itu lambat, tapi ia adalah kekuatan yang dasyat,” tegasnya.

Menurut Mas’ud, halaqah akan diikuti oleh 12 negara, 10 negara ASEAN dan dua dari Tiongkok dan Timor Leste. “Kita bisa belajar masing-masing negara itu, karena tidak mungkin kita berdiri sendiri maka butuh pengalaman dari pembicara dari negara lainnya,” tandasnya.

Sejumlah pembicara akan hadir, antara lain Yunahar Ilyas (Wakil Ketua Umum MUI), Nurhayati Subakat (CEO PT Paragon Technology Innovation), Esmael Ebrahim (Direktur PCID Philipina). Ketiga narasumber tersebut akan berbicara tentang Daya Saing Ekonomi & Lembaga Pendidikan Islam di ASEAN.

Ronald Lukens Bull (University of North Florida, USA), Abdurrahman Mas’ud (Kepala Balitbang Diklat Kemenag RI), dan Dato’ Siddiq Fadzil (Presiden Kolej Dar Hikmah dan Pengurus Institut Darul Ehsan Selangor Malaysia) akan berbicara tentang Pendidikan Islam ASEAN dan Daya Saing Sumber Daya Manusia.

Sementara topik Lembaga Pendidikan Islam di ASEAN: Wacana Moderatisme dan Usaha Mengembangkan Pendidikan Berdaya Saing akan disampaikan Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Azyumardi Azra, Dosen NUS Singapura Khaerudin al-Juned, dan Anggota Komisi VIII DPR RI KH Maman Imanul Haq.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *