Satu Islam Untuk Semua

Monday, 15 August 2016

SOROTAN—Menyoal dan Melawan Ulah Nakal Google Hapus Negara Palestina dari Peta


Menyoal Ulah Nakal Google Hapus Negara Palestina dari Peta

IslamIndonesia.id—Menyoal dan Melawan Ulah Nakal Google Hapus Negara Palestina dari Peta

 

Google tengah menjadi sorotan publik setelah tak mencantumkan nama negara Palestina di Google Maps. Keputusan Google ini diketahui setelah Palestine Journalist Forum (PJF) atau Forum Jurnalis Palestina melayangkan protes keras karena tak melihat nama negara mereka di Google Maps.

Senada, publik di Tanah Air pun bereaksi cukup keras terkait tidak adanya nama Palestina dalam Peta Google tersebut. Beragam reaksi pun bermunculan, khususnya dalam bentuk kecaman. Salah satunya adalah seperti yang disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siradj. PBNU, kata Kang Said, mendesak pihak Google Maps mengembalikan peta Palestina yang dihilangkan dan sudah mereka gantikan dengan Israel itu.

Menyoroti kasus yang sama, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara mengaku sudah berkomunikasi dengan pihak Google terkait hal tersebut. Pada prinsipnya, kata Rudiantara, Google membuat peta dengan mengacu pada keanggotaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Meski demikian, karena persoalan ini terkait dengan politik Internasional, maka pihaknya merasa perlu berkonsultasi dan berkoordinasi terlebih dahulu dengan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.

“Di PBB, kan status Palestina baru observer, belum menjadi anggota penuh. Meski begitu, posisi Pemerintah Indonesia jelas. Kita mendukung dan mengakui keberadaan Palestina. Pemerintah mendorong dunia agar mengakui eksistensi keberadaan Palestina.
Salah satunya melalui pembahasan dalam Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Kerja Sama Islam (KTT OKI). Tetapi, saya cek, mereka (Google) mengacu kepada PBB,” ujar Rudiantara di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta beberapa hari lalu.

Akibat ulah nakal Google tersebut, setiap kata “Palestine” dimasukkan di aplikasi Google Maps, maka pencari akan diarahkan pada beberapa kota di wilayah Palestina, tanpa adanya nama negara Palestina.

Sebelumnya, Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid menyentil Google yang menghapus peta Palestina di layanan Google Maps ke pengguna dan mengganti seluruhnya dengan nama Israel.

Menurutnya, Google harus menjelaskan apa alasan di balik aksinya menghapus peta Palestina padahal PBB sudah mengakui Palestina sebagai negara merdeka. Palestina sudah menjadi anggota badan dunia itu bahkan dalam Olimpiade di Brasil yang tengah berlangsung saat ini, Palestina tercatat sebagai peserta.

“Google harus segera mengoreksi itu, sebab tak sesuai dengan fakta,” ujar HNW.

Dia menegaskan, media massa harus mampu menjalankan fungsinya untuk melakukan pendidikan kepada masyarakat, tidak melakukan fitnah, dan black campaign.

“Salah satu fungsi media massa menyampaikan kebenaran supaya masyarakat tercerahkan,” ujarnya.

Sementara itu Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Arrmanatha Nasir mengatakan, Peta Google bukanlah peta resmi dunia, dan oleh karena itu publik di Indonesia tak perlu khawatir tentang tidak adanya Palestina dalam peta tersebut.

“Google Map bukan peta resmi dunia, sama seperti peta Bing atau Apple yang dibuat untuk kepentingan perusahaan mereka sendiri,” kata Arrmanatha Nasir di Jakarta, Sabtu (13/8/2016).

“Bahkan pada Sidang Umum PBB 2015 lalu, bendera Palestina sudah dikibarkan di Markas Besar PBB di New York,” kata dia.

Menurut Arrmanatha, dalam peta resmi PBB tersebut, batas antara Palestina dan Israel dipisahkan dengan “juris geospatial”, yakni  garis hijau yang menggambarkan wilayah yang masih dipertentangkan.

Arrmanatha juga kembali menegaskan bahwa pemerintah Indonesia tidak akan berhenti memberikan dukungan bagi Palestina agar solusi dua negara dapat tercapai dan rakyat Palestina merdeka sepenuhnya.

Seolah berkilah, dalam sebuah pernyataan resminya, Google mengakui bahwa memang tidak pernah ada nama “Palestine” dalam Peta Google, namun yang terjadi adalah terdapat kesalahan yang membuat label “Tepi Barat” dan “Gaza” hilang dari peta tersebut.

Apapun alasan dan justifikasi Google, faktanya nama Palestina memang sudah raib dan justru berganti dengan nama Israel.

Lebih jauh terkait apa alasan sebenarnya yang melatarbelakangi aksi nakal tersebut, tampaknya hanya Google sendirilah yang tahu pasti.

Pertanyaan pentingnya saat ini adalah: bagaimana cara menyadarkan pihak Google agar mengembalikan nama Palestina ke dalam Google Maps?

Deded, salah seorang Praktisi Teknologi Informasi asal kota Bandung, menyatakan sangat prihatin soal hilangnya negeri bersejarah bagi umat Muslim tersebut. Tapi menurutnya hal ini bisa dilawan antara lain dengan mengikuti petisi digital.

“Keprihatian ini harus diwujudkan dengan langkah konkret. Kita bisa ikut mendesak Google memunculkan kembali Palestina di Google Maps (Gmaps), antara lain dengan ikut menandatangani petisi digital yang sudah ada inisiatornya,” katanya di Bandung beberapa waktu lalu.

Petisi tersebut, kata ahli pemrograman ini, bisa diikuti di Change.org dengan mengklik tautan Petisi Put Palestine on Your Maps.

Saat ini, lanjut Deded, sudah ada sekitar 230.000 netizen yang mendesak Google mengembalikan Palestina ke dalam Gmaps. Ditargetkan, ada 300.000 yang ikut menandatangani petisi digital tersebut untuk kemudian diberikan kepada Google.

“Ini memprihatinkan bagi kita sebagai negara Muslim terbesar di dunia, menyaksikan saudara kita di Palestina seolah tidak diakui. Padahal kalau di Bings, label Palestina masih bisa kita temukan,” keluhnya.

Muhammad James Falahuddin sebagai CEO PT Codephile Rekadaya menambahkan, langkah tersebut mencerminkan pilihan sikap Google. Ketika internet menjadi pilihan rujukan masyarakat dunia, terutama bagi generasi millennial yang jarang membaca buku sejarah, maka memori netizen dipudarkan akan eksistensi Palestina.

“Padahal PBB sudah mengibarkan bendera Palestina di kantornya, pemerintah Amerika Serikat juga sudah mengakui Palestina sebagai dual state, jadi mengapa Google malah menghilangkan?” pungkasnya.

 

EH/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *