Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 08 August 2018

Tekun Nabung di Bawah Kasur, Nenek Penjual Nasi Aking Ini Akhirnya Naik Haji


Tekun Nabung di Bawah Kasur, Nenek Penjual Nasi Aking Ini Akhirnya Naik Haji

islamindonesia.id – Tekun Nabung di Bawah Kasur, Nenek Penjual Nasi Aking Ini Akhirnya Naik Haji

 

Selain cerita rekaan dalam sinetron Tukang Bubur Naik Haji, beberapa tahun terakhir ini ternyata tak sedikit kisah nyata tentang calon jemaah haji yang berasal dari kalangan yang kehidupan kesehariannya dipandang kurang berkecukupan bahkan miskin. Keberhasilan mereka berangkat ke Tanah Suci adalah bukti bahwa tekad kuat, niat tulus, yang disertai ketekunan dan kedisiplinan menabung setiap hari selama beberapa tahun, pada akhirnya dapat berbuah manis.

Hal itu pulalah yang dirasakan nenek Tarijah (73 tahun), penjual nasi aking (karak) di pasar Wage Nganjuk yang pada akhirnya berhasil naik haji dengan cara yang cukup konvensional, yakni dengan menyimpan uangnya di bawah kasur. Maklum, nenek 3 cucu asal Bogo Nganjuk ini memang mengaku tak kenal dan tak tahu caranya menabung di bank.

“Saya tidak tahu Bank, bagaimana cara menabung di Bank saya tidak tahu, jadi ya kalau ada uang saya simpan di bawah tikar kasur. Tiap hari kamar itu saya kunci,” tutur Tarijah, Selasa(7/8/2018).

Dalam kesehariannya, janda yang telah ditinggal mati suaminya karena sakit 15 tahun silam ini hidup bersama 1 cucunya. Ia tinggal di rumah yang sangat sederhana. Untuk memasak setiap haripun, ia masih menggunakan tungku berbahan kayu bakar.

Tarijah mulai memiliki keinginan berhaji sejak tahun 2003 ketika suaminya telah tiada. Penghasilan Tarijah tidak menentu. Terkadang ketika pasar sedang sepi, ia tidak mendapatkan penghasilan sama sekali. Namun jika sedang ramai ia mampu mendapatkan uang hingga seratus ribu rupiah.

Dari pekerjaannya sebagai penjual aking, Tarijah mulai menyimpan uangnya sedikit demi sedikit demi mewujudkan keinginannya berangkat ke Tanah Suci. Tarijah tidak kenal dengan Bank, karenanya ia menyimpan uangnya di bawah kasur dan bantal tempat tidurnya.

Setiap hari, usai melaksanakan shalat shubuh, pukul 06.00 WIB Tarijah pergi ke tempat berjualan di pasar Wage dengan berjalan kaki sejauh sekitar dua kilometer. Selain nasi aking, ia juga berjualan buku, koran bekas, kayu arang, jagung, bekatul dan botol bekas di lapak dagangannya.

Di sela waktu ketika tidak ada pembeli di kiosnya, wanita lanjut usia ini selalu menyempatkan diri untuk membaca Al-Quran dan buku-buku bekas yang ia jual.

Ia lantas menunjukkan lampiran buku bekas tentang fadilah bacaan doa yang ia simpan di tas paspornya. Tarijah menuturkan, dirinya senang mengamalkan beberapa doa dan bacaan yang ia baca di beberapa buku bekas yang ia jual.

Untuk makan sehari-hari, nenek yang sudah kehilangan putra satu satunya karena sakit stroke ini memilih memasak sendiri di kios pasar.

“Kalau beli ya mahal, lima ribu dapat nasi sekepel, jadi ya masak ngeliwet nasi 3 ons kadang setengah kilo sehari sudah cukup,” tuturnya lirih.

Tahun 2010, uang Tarijah terkumpul dua puluh juta rupiah. Tarijah berniat untuk daftar haji, namun uangnya masih kurang lima juta rupiah. Untuk menutupi kekuarangan biaya daftar haji tersebut, Tarijah meminjam uang pada seseorang.

“Uangnya kurang lima juta, saya pinjam uang pada orang untuk nutup daftar haji, alhamdulillah 8 tahun sampai saat ini, saya bisa bayar nutup biaya ongkos naik haji,” jelasnya.

Kini, Tarijah tergabung dalam kelompok terbang (kloter) 59. Ia bersama jemaah calon haji (JCH) kloter 59 masuk asrama haji embarkasi Surabaya.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *