Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 30 October 2016

Sumpah Pemuda, Peran Kiai, Pemuda dan Para Santri


kajian-sumpah-pemuda-peran-kiai-pemuda-dan-para-santri

islamindonesia.id — Sumpah Pemuda, Peran Kiai, Pemuda dan Para Santri

 

Genap 88 tahun Sumpah Pemuda berlalu. Tak terhitung banyaknya penggalan sejarah tentang peristiwa penting itu telah ditulis dan hingga kini bisa dijadikan referensi. Sumpah Pemuda memang penting dan sangat berharga bagi bangsa Indonesia.

Tanggal 28 Oktober 2016, Hari Sumpah Pemuda diperingati dengan penuh khidmat. Di bulan yang sama, sepekan yang lalu, tepatnya 22 Oktober 2016, Hari Santri Nasional juga dirayakan dengan antusias dengan pengumandangan kembali Resolusi Jihad.

Jika peringatan hari Sumpah Pemuda sudah memasuki usia 88 tahun, sementara Hari Santri Nasional, baru menginjak tahun kedua sejak pencanangan pertamanya dua tahun lalu. Tanggal 22 Oktober sengaja dipilih, bertepatan dengan tanggal deklarasi maklumat Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama (NU) oleh KH Hasyim ‘Asyari. Inilah resolusi yang sangat berpengaruh besar bagi tercapainya kemerdekaan bangsa, terutama karena para pemuda, khususnya kalangan santri pada masanya, sontak tersengat semangat nasionalisme mereka dan kemudian tanpa ragu bergegas ke medan jihad melawan penjajah Belanda.

Itulah sekilas peran besar KH Hasyim ‘Asyari bagi perjuangan merebut kemerdekaan, yang melalui deklarasi Resolusi Jihadnya dengan tegas menyatakan, bahwa hukum membela Tanah Air adalah fardhu ‘ain bagi para pejuang, tak terkecuali para pemuda dan para santri.

Lalu apa dan bagaimana peran para Kiai NU menjelang deklarasi Sumpah Pemuda?

Sebagaimana telah banyak ditulis para sejarawan bahwa Nahdlatul Ulama dideklarasikan sebagai muara dari tiga gerakan aktivis pesantren, yaitu gerakan pencerahan (tashwirul afkar), gerakan nasionalisme (nahdlatul wathan) dan gerakan kemandirian ekonomi (nahdlatut tujjar). Kehadiran NU pada 1926 itu tak lebih dari tahapan dari proses gerakan kebangsaan yang makin menguat memasuki abad ke 20.

Maka dari sisi usia, pada saat momentum Sumpah Pemuda, NU masih memasuki umur 3 tahun kala itu. NU belum populer sebagai organisasi berbasis massa apalagi hidup di era penjajah. Namun meski masih bayi, tokoh-tokoh NU era itu bukanlah orang asing di dunia pergerakan. Karena itu NU pun mampu bergerak cepat.

Pelaku sejarah, almarhum Ruslan Abdul Gani mencatat NU tumbuh cepat dan nyaris merata. Sehingga terasakan dalam kelahiran NU terdapat jiwa self help. Ruslan menambahkan, deklarasi NU itu wujudnya adalah gerakan sistematis kaum Muslim desa yang termasuk mata rantai kebangkitan rakyat secara nasional.

Merujuk pada dokumen institusi NU, setahun sebelum deklarasi Sumpah Pemuda, tepatnya pada tanggal 9 Oktober 1927, para kiai NU dalam forum tertinggi NU memutuskan menabuh genderang perang kebudayaan. Para kiai NU menyasar pada pelarangan budaya Belanda yang tersimbolkan dalam ornamen mode pakaian.

Ahmad Syalabi (sejarawan Mesir) mencatat bahwa keputusan NU tahun 1927 tersebut merupakan bentuk perlawanan budaya para Kiai terhadap penjajah. Perang kebudayaan yang digelorakan para Kiai NU itu dalam implementasinya berwujud boikot dan delegitimasi atas budaya yang bersumber dari penjajah. Perang kebudayaan tersebut secara ekstrem juga berwujud legitimasi para Kiai NU untuk berperang melawan penjajah. Keputusan NU tahun 1927 tentang perang kebudayaan secara langsung memang melahirkan hukum kewajiban Muslim Nusantara untuk berperang mengangkat senjata. Sebab untuk kali pertama, NU menggolongkan penjajah saat itu sebagai kaum kafir yang harus diperangi dan ditundukkan.

Keputusan NU tahun 1927 untuk perang kebudayaan cepat tersosialisasi ke tengah masyarakat. Muslim Nusantara meresponnya dengan patuh dengan cara langsung dipraktikkan. Segala macam asesoris, ornamen, simbol yang berbau penjajah mendapatkan penolakan keras dari masyarakat desa. Selama satu tahun NU melakukan perang kebudayaan dengan berbagai konsekuensi turunannya. Babak selanjutnya terjadi pada tanggal 9 September 1928 saat NU menggelar Muktamar, sebulan sebelum deklarasi Sumpah Pemuda.

Saat Muktamar NU 1928 tersebut para kiai memutuskan untuk melanjutkan perang kebudayaan menghadapi penjajah. Para Kiai pun menambah agenda baru konfrontasi dengan Belanda dengan memasukkan isu ekonomi dan politik. Pada isu ekonomi para Kiai melakukan delegitimasi mata uang penjajah. Sedangkan isu politik digulirkan dengan mempertanyakan keabsahan kekuasaan penjajah di bidang keagamaan. Maka menjelang Sumpah Pemuda, perlawanan para Kiai NU maju dua langkah: pertama, menyisir dari kelemahan mata uang penjajah. Kedua, menyisir dari kelemahan kekuasaan penjajah di bidang keagamaan.

Satu bulan pasca Muktamar NU ke-3, tepatnya pada tanggal 28 Oktober 1928, Sumpah Pemuda dideklarasikan. Tema besar Sumpah Pemuda cepat direspons masyarakat mengingat Sumpah Pemuda adalah bagian dari babak perjuangan anak bangsa, termasuk Nahdlatul Ulama. Inilah yang dimaksud Ruslan Abdul Ghani bahwa NU adalah bagian dari gerakan sistematik kebangkitan nasional.

Catatan ini memang tidak populer di tengah masyarakat Indonesia. Saifuddin Zuhri, Menteri Agama RI era Bung Karno, mengatakan NU memang tidak populer dan baru dikenal empat puluh tahun setelah kelahirannya. Saifuddin menambahkan popularitas NU baru muncul saat menjadi organisasi massa Islam terbesar di Indonesia.

Sumpah Pemuda memang selayaknya selalu kita jadikan spirit membangun negeri. KH Ahmad Mustofa Bisri dalam salah satu catatannya saat peringatan Hari Sumpah Pemuda, mengajak pemuda Indonesia dan para santri, untuk senantiasa bangga dengan Indonesia. Sama seperti para Kiai tahun 1927, Gus Mus—begitu beliau biasa disapa, juga mengingatkan bahwa tidak sepatutnya menganggap semua hal yang berasal dari luar, dan bukan berasal dari bangsa kita sendiri itu pasti lebih baik, sehingga membuat kita menjadi bangsa yang minder, menjadi kehilangan kepercayaan diri.

Nasionalisme para Kiai, baik mereka yang berkiprah aktif dalam pergerakan dan perjuangan mencapai kemerdekaan, maupun para Kiai masa kini seperti Gus Mus, tentu layak kita jadikan teladan. Karena bagaimanapun, keyakinan dan rasa percaya diri sebagai bangsa yang besar memang layak terus digelorakan, terutama semangat untuk menjaga persatuan dan kesatuan, yang menjadi pondasi dasar tetap tegaknya NKRI. Dalam hal inilah peran vital dan strategis para Kiai, pemuda dan para santri mesti terus berkesinambungan, tak boleh lekang oleh perputaran zaman.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *