Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 18 February 2014

Sudirman, Jenderal Besar Semangat Jihad


“Hidup mulia atau mati syahid,” tegas terucap dari seorang jenderal besar.

Sudirman yang tinggi kurus, berdiri dan berpidato dihadapan prajuritnya dengan gagah. Ayat-ayat Quran meluncur deras dan tegas membakar semangat prajurit. Kata “Jihad” dalam Al Quran selalu menjadi idola untuk diucapkannya. Gema takbir pun hadir dari bibir jenderal besar ini ketika akan memimpin peperangan, ‘Allahu Akbar!”

Satu waktu di pertengahan tahun 1946, beliau mengunjungi laskar Hisbullah-Sabilillah Surakarta yang sedang mempersiapkan kembali maju ke medan perang di Alas Tuo dan Bugen. Waktu itu diadakan pertemuan di rumah Kyai H. Adnan di Tegalsari, Surakarta. Kedatangan sang jeneral besar kontan makin menambah semangat juang anggota Hisbullah-Sabilillah yang tengah bersiap berangkat ke medan perang. Jenderal Besar Sudirman mengawali kata sambutannya dengan melantunkan ayat-ayat al-Qur’an surah Ash-Shaf ayat 10-12 yang kemudian diterjemahkannya sendiri: “Hai orang-orang yang beriman, maukah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang akan menyelematkanmu dari siksa yang pedih. Yaitu, kamu yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta berjuang di jalan Allah dengan harta dan jiwamu…”

Hidupnya singkat namun lekat dalam catatan sejarah perang mempertahankan Indonesia. Makna yang terkandung dari singkat hidupnya, ada sekelumit kedekatan beliau dengan Islam.

Kajine, biasa beliau dipanggil oleh anak buahnya. Meski tak pernah sekalipun mengunjungi Baitullah untuk beribadah haji, gelar kajine—panggilan jawa untuk pak haji—melekat pada dirinya. Bukan tanpa alasan gelar tersebut tersemat pada dirinya. Ketika perang gerilya berkecamuk, Jenderal Sudirman biasa melakukan pengajian setiap ada kesempatan mampir ke pedesaaan atau perkampungan. Kegemaran inilah alasan anak buahnya memanggil kajine.

Hubungan kerjasama dengan pesantren-pesantren beliau jalin dengan erat untuk mengobarkan semangat jihad di kalangan tentara dan masyarakat.  Ketika  pertempuran di Magelang dan Ambarawa terjadi, Jenderal Sudirman kerap berkunjung ke Payaman (sebelah utara Magelang) dan bekerja sama dengan pondok pesantren pimpinan Kyai Siraj. Dari pondok pesantre itulah sang jenderal lewat Kyai Siraj banyak menggiring santri untuk berjihad dalam pertempuran Ambarawa.

Kisah Jenderal Sudirman adalah kisah heroik perang gerilya sebagai taktik melawan Belanda. Sakit paru-paru kronis yang diderita tak membuatnya surut dalam mempertahankan republik. Taktik gerilya dari Jenderal Sudirman mencontoh rasulullah ketika hijrah ke Madinah. Pengekabuan Rasulullah pada kaum Quraisy ketika menginspirasinya dengan melakukan taktik penyamaran di desa Karangnongko. Soedriman meninggalkan desa tersebut dengan taktik penyamaran sebagaimana rasul beserta sahabat saat berhijrah.

19 Desember 1948 Belanda melakukan agresi militer kedua. Jenderal Sudirman sebagai Panglima Besar TKR mengeluarkan perintah pada seluruh tentara Indonesia melakukan gerilya melawan Belanda.

Sudirman memimpin gerilya bersama pasukannya dengan keluar masuk hutan, naik turun gunung untuk menyerang pos-pos militer belanda. Taktik ini mampu melemahkan moral Belanda. Rasa putus asa dan kecemasan hadir karena mendapat serangan mendadak dari Jenderal Sudirman. Belanda kewalahan. Hanya perkotaan yang bisa dikuasai, selebihnya masuk dalam wilayah gerilya.

Semangat jihad terus dikobarkan Sudirman dalam peperangan ini. Selabaran-selaaran berupa seruan disebarkan kepada seluruh tentara. “Insyaflah! Barangsiapa mati, padahal (sewaktu hidupnya) belum pernah ikut berperang (membela keadilan) bahkan hatinya tidak ada hasrat sedikitpun berperang, maka matinya di atas cabang kemunafikan,” seru Jenderal Sudirman dalam selebaran itu.

Secara khusus Sudirman juga memberi semangat pasukannya agar tidak takut dan bersedih karena Allah bersama orang-orang beriman. Di samping itu, Sudirman selalu mengingatkan pasukannya agar membersihkan hatinya dalam perjuangan tersebut. Mereka harus yakin  bahwa Allah tidak akan melalaikan hamba-Nya yang memperjuangkan sesuatu yang adil berdasar kesucian batin.

Jenderal Sudirman berperang dengan menahan sakit paru kronis. Keteguhan, kegigihan, juga semangat jihadnya menjadi jejak hikmah buat bangsa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *