Satu Islam Untuk Semua

Monday, 08 August 2016

SOROTAN–Pertanyaan Menggelitik Media Singapura: Emang Bisa Roket Rumahan dari Batam Menjangkau Singapura?


roket

Islamindonesia.id–Pertanyaan Menggelitik Media Singapura: Emang Bisa Roket Rumahan dari Batam Menjangkau Singapura?

Pertanyaan Menggelitik Media Singapura: Emang Bisa Roket Rumahan dari Batam Menjangkau Singapura?
Perhatian media Singapura seketika beralih ke Batam setelah polisi Indonesia, pada Jumat pagi, menangkap enam orang yang mereka tuduh berencana menembakkan roket ke Marina Bay, kawasan resor dan hiburan premium yang menampung kompleks perjudian serta arena balap mobil Formula 1. Tapi dari semua ulasan, ada satu pertanyaan yang selalu berulang dan mengisi hampir setiap pemberitaan terkait penangkapan di Batam: seberapa bisa sih roket homemade alias ‘rumahan’ dari Batam menjangkau Singapura?

Awalnya, pertanyaan itu hanya muncul satu-dua baris dalam berita. Media meminjam mulut sejumlah orang, di Singapura dan Indonesia, yang digambarkan sebagai ‘analis’, ‘pakar’ atau sebangsanya, untuk menghadirkan perspektif. Tapi esok harinya, pada Sabtu, banyak yang tak dapat menahan diri. Edisi online koran Today, misalnya, sampai menyempatkan menulis berita bertajuk: “Could a homemade rocket reach Singapore from Batam?” Masuk akhir pekan, giliran koran paling bonafid, The Straits Times, menurunkan artikel dengan angle yang lebih fokus: ‘Military-grade rocket needed’ to hit S’pore from Batam.

Bahasan senada belakangan seperti mewabah di berbagai berita newswire yang menurunkan tema yang sama. Media mewawancari lebih banyak pakar dan pengamat, dengan seabrek detil dan pemaparan tentang jenis roket yang mampu menjangkau Singapura; ukuran, bahan peledak, sistem pemandu, sudut dan kemiringan, negara produsen dan seterusnya.

Bila diperas-peras, rerata pemberitaan menyebut tipis kemungkinan roket rumahan dari Batam bisa mendarat di Singapura. Ah, sampai disini, geografi tak terelakkan. The Straits Times menyebut Batam dan Singapura terpaut “sekitar 25 kilometer”. Reuters punya hitungan lain: “10 mil atau sekitar 15 kilometer”. Media lain, mengutip Wikipedia, menyebut titik terluar media wilayah terpaut “20 kilometer”.

Mana yang betul? Kenapa untuk sebuah data yang sederhana media-media bonafid berbeda jauh dalam hitungan? Kenapa pula mereka gagal menceritakan soal jarak itu dengan sederhana sehingga mudah banyak orang; bahwa Batam-Singapura hanya selemparan batu; bahwa bila Anda berdiri di pelabuhan Batam pada malam hari, dengan mudah Anda melihat gemerlap Singapura di kejauhan?

Media mainstream di Singapura mungkin punya alasan tersendiri sehingga menjauh dari bercerita gamblang. Mereka juga mungkin masih perlu beberapa hari lagi sebelum bisa ‘mengakurkan’ jarak Batam-Singapura.

Tapi, kembali ke soal utama: kenapa pemberitaan media jiran praktis menafikan kemungkinan roket rumahan dari Batam menghantam daratan Singapura? Apa dalilnya?

Sampai di sini, Anda boleh tertawa. Sebab jawaban sejujurnya adalah tak ada dalil sama sekali yang tertera dalam semua pemberitaan terkait di media jiran. ‘Argumen’ paling kuat yang mereka cantum dalam pemberitaan, semisal pada The Straits Times, adalah cerita betapa Qassam 3, yang digambarkan sebagai roket paling canggih pejuang Hamas di Palestina, hanya sanggup terbang 13 kilometer ke wilayah ‘Israel’.

Lho? Kok Jaka Sembung bawa golok?

Media jiran bisa jadi shock hingga terseret kerancuan berpikir. Atau bisa jadi logika rancu itu lebih berlatar keinginan mereka menenangkan khalayak dalam negeri yang pada Selasa ini bersiap memeriahkan pesta Kemerdekaan. Kemungkinan lain, meski ini terkesan konspiratif, kerancuan itu berlatar kejumawaan yang berlebih atau, dengan kata lain, media jiran memandang rendah lawan di luar pagar.

Militan di Batam, bila benar mereka seperti yang dituduhkan polisi, bisa jadi memang hanya punya sedikit IQ dan kemampuan untuk bisa memproduksi roket rumahan yang kuasa menjangkau Singapura. Tapi hei, bukankah militansi yang lahir dari doktrin dan berbasis pikiran anti logika selalu bisa menutup kekurangan orang per orang dalam urusan teknis? Bukankah pelbagai teror yang menggebah dunia dalam 2-3 bulan terakhir bercerita betapa tidak relevannya berbicara kemampuan teknis pelakunya ketimbang pekatnya doktrin mematikan akal yang membuat mereka tergerak memicu kedurjanaan?

Mungkin sudah waktunya bagi media jiran kembali ke jalur logika dan mengingatkan khalayak dalam negeri; bahwa sepanjang kekuatan anti rasional masih punya ruang untuk tumbuh dan berkembang, maka ada saja energi bagi kaum militan untuk menutupi kekurangannya, apapun bentuknya. Ini memang pahit. Tapi era dimana Singapura tetap ‘aman’ saat tetangganya berdarah-darah telah berlalu. Satu-satunya cara Singapura bisa menikmati keamanan yang langgeng adalah dengan bahu-membahu bersama jirannya memadamkan api militansi anti rasional yang tumbuh subur di kawasan.

Selamat ulang tahun Singapura.[]

RQ/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *