Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 28 September 2016

SOROTAN—Gus Mus: Islam Kita Islam Indonesia Bukan Islam Saudi Arabia


gus-mus-islam-kita-islam-indonesia-bukan-islam-saudi-arabia

IslamIndonesia.id—Gus Mus: Islam Kita Islam Indonesia Bukan Islam Saudi Arabia

 

KH A Mustofa Bisri di dalam banyak kesempatan seringkali menegaskan perbedaan antara Muslimin Indonesia dan Arab Saudi. Menurut Kiai yang akrab disapa Gus Mus ini, meski keduanya menganut agama yang sama tapi masing-masing memiliki kekhasan dalam sisi budaya dan tradisi lokalnya.

“Islam kita itu ya Islam Indonesia bukan Islam Saudi Arabia. Jadi, bukan berarti kalau tidak pakai jubah dan sorban, lalu Islam kita tidak diterima,” katanya saat membuka Pameran Seni Rupa Nasirun di Bentara Budaya Yogyakarta, suatu ketika.

Pengasuh Ponpes Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang ini berpesan kepada umat Islam di Indonesia untuk meneladani Nabi Muhammad SAW secara tepat. Karena menurutnya, Nabi termasuk pribadi yang menghargai tradisi lokal setempat dan berperangai menyenangkan.

“Rasulullah SAW memakai jubah, sorban dan berjenggot ya karena tradisi orang Arab seperti itu. Abu Jahal juga berpakaian sama, berjenggot pula. Bedanya kalau Rasul wajahnya mesem (sarat senyum) karena menghargai tradisi setempat. Nah, kalau Abu Jahal wajahnya kereng (buas/pemarah). Silakan mau pilih yang mana?” tanya Gus Mus disambut gelak tawa hadirin.

Apa yang kerap disampaikan oleh Gus Mus, tentu layak menjadi perhatian kita semua karena faktanya memang semakin relevan dengan kondisi kaum Muslimin Indonesia saat ini. Terutama dalam beberapa tahun terakhir setelah marak dan massifnya gerakan sekelompok orang yang mengusung Islam ala Arab berupa paham yang lebih dikenal sebagai Wahabi Salafi ke Tanah Air.

Gus Mus berpendapat meniru Nabi Muhammad tidaklah cukup hanya dengan cara memakai jubah, surban, dan berjenggot. Sebab, kata Gus Mus, orang-orang Arab yang memusuhi Nabi Muhammad juga memakai surban dan jubah, seperti Abu Jahal.

“Jika pakai jubah tapi wajahnya selalu marah, maka itu bukan mengikuti Kanjeng Nabi Muhammad, tapi justru mengikuti musuh beliau, Abu Jahal,” kata Gus Mus.

Paham Wahabi yang pembawaannya selalau marah inilah yang kemudian seringkali membid’ah-kafirkan amaliah-amaliah dan tradisi lokal yang sudah sekian lama menjadi kebiasaan kaum Muslimin di Indonesia, seperti perayaan Maulid Nabi, Tahlil, Ziarah Kubur dan lain-lain.

Akibatnya, tudingan sepihak dari kelompok Takfiri semacam inilah yang pada akhirnya menimbulkan gejolak penentangan di kalangan umat dan potensial mengancam kerukunan dan kedamaian dalam kehidupan beragama di Tanah Air. Terutama di kalangan Nahdlatul Ulama atau kaum Nahdliyin.

 

EH/IslanIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *