Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 02 October 2016

SOROTAN—Gus Mus: ISIS Payu di Indonesia itu Keterlaluan


gus-mus-isis-payu-di-indonesia-itu-keterlaluan

IslamIndonesia.id—Gus Mus: ISIS Payu di Indonesia itu Keterlaluan

 

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah, KH Ahmad Mustofa Bisri, mengaku resah atas peredaran informasi tentang persoalan-persoalan agama yang tersiar di media-media online.

Tokoh Nahdlatul Ulama ini menyatakan saat ini teknologi informasi di media online dan media sosial justru dikuasai oleh kelompok-kelompok yang tak memahami dan menguasai agama secara mendalam.

“Itu Masya Allah. Jadinya kacau semua,” kata Gus Mus.

Dia mencontohkan, begitu orang membuka mesin pencari di Internet seperti Google mengenai tanya jawab tentang hukum tertentu, maka yang pertama sekali muncul keluar justru dari orang-orang yang tidak jelas. Kata dia, banyak sekali situs-situs berisi agama Islam yang tidak memahami agama secara mendalam.

“Dia tidak dunung (paham), tapi dia menguasai IT (informasi dan teknologi),” tegas Mustasyar PBNU itu.

Saat berbicara di hadapan para dosen dan mahasiswa, Gus Mus meminta agar kalangan kampus ikut bergerak untuk menangani masalah tersebut.

“Fakultas Syariah harus muncul di Internet. Biar yang lain hanya jadi bandingan saja,” kata Gus Mus. “Kampus harus memberi pemahaman kepada orang-orang yang tidak paham,” sambung budayawan asal Jawa Tengah ini, “Khususnya dalam menghadapi penguasaan media oleh orang-orang yang tidak paham agama. Maka kami di Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin sedang menyiapkan progam dakwa media.”

Gus Mus juga merasa heran kenapa gerakan Islam radikal seperti kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) ada pengikutnya di Indonesia.

“ISIS payu (laku terjual) di Indonesia itu keterlaluan,” kata Gus Mus. Gus Mus juga heran munculnya orang-orang di televisi yang dengan gampang dilabeli dai atau ustad. Padahal, pemahaman agama mereka masih sangat minim.

Gus Mus berujar, betapa banyak orang yang ingin meniru Nabi Muhammad secara salah kaprah. Ia mencontohkan adanya kelompok dalam Islam yang merasa sudah seperti Nabi Muhammad cukup hanya dengan memakai jubah, surban, dan berjenggot. Padahal, wajah dan perilakunya selalu marah kepada orang lain.

Bahkan, kata Gus Mus, “Mereka ini menyalahgunakan nama Allah untuk melakukan kerusakan. Meski berjubah ingin meniru Nabi Muhammad, mereka justru mengkafirkan orang yang sudah Islam. Bukan seperti perjuangan para Walisongo yang mengislamkan orang yang belum Islam.”

Gus Mus berpendapat meniru Nabi Muhammad tidaklah cukup hanya dengan cara memakai jubah, surban, dan berjenggot. Sebab, orang-orang Arab yang memusuhi Nabi Muhammad pun memakai surban dan jubah, salah satunya sebut saja Abu Jahal.

“Jika pakai jubah tapi wajahnya selalu marah, maka itu bukan mengikuti Nabi Muhammad, tapi mengikuti Abu Jahal,” kata Gus Mus.

Gus Mus menyatakan Nabi Muhammad memakai surban dan jubah sebagai pakaian budaya dan adat masyarakat Arab saat itu. Itu sebabnya, Gus Mus mengaku juga selalu tak ragu memakai pakaian adat lokal, seperti batik, sebagai wujud perilaku mengikuti Nabi Muhammad.

“Wajah Muslim itu mestinya selalu tersenyum dan ramah,bukan suka mengkafir-kafirkan dengan penuh amarah,” tandas Gus Mus.

 

EH/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *