Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 25 August 2016

SOROTAN–Adu Domba Pribumi-Nonpribumi itu Kebodohan


images

IslamIndonesia.id–Adu Domba Pribumi-Nonpribumi itu Kebodohan

Tujuh bulan menjelang pemilihan kepala daerah serentak, proses politik di berbagai wilayah semakin dinamis. Di Jakarta misalnya, pernyataan yang dinilai sarat penghakiman ras kian tak terkendali seiring majunya calon kepala daerah yang dianggap nonpribumi. Situasi semakin memanas akibat sikap yang dinilai tak mencerminkan kebhinekaan itu mucul dari sejumlah tokoh masyarakat hingga elit politik.

“Kalau dilihat kan, Ahok ini mirip kompeni, penjajah. Dia mengusir pribumi dan memfasilitasi pemilik modal,” kata Eks Wakil Gubernur DkI Jakarta, Prijanto, mengomentari sosok bakal calon Gubernur DKI, Basuki Tjahja Purnama.

Seorang pendiri dan pemimpin partai seperti Gerindra bahkan secara terbuka menyatakan ‘antek asing’ bagi yang tak mendukung calon gubernur dari partainya. “Yang tidak dukung Sandiaga Uno antek asing, saudara-saudara,” kata Prabowo Subianto di depan para pendukungnya seperti dilansir detik.com (17/8)

Penghakiman pribumi, non-pribumi, tanpa diiringi definisi yang jelas dan untuk kepentingan politis jangka pendek akan berpotensi menyebabkan perpecahan, kata Ridwan Kamil. Padahal, lanjut walikota Bandung ini, sebagian masyarakat Indonesia saat ini dari bangsa Mikronesia yang berasal dari Tiangkok.

“Sehingga mengadu domba etnisitas manusia Indonesia hari ini dengan istilah pribumi – bukan pribumi adalah kebodohan,” kata wali kota yang akrab disapa Kang Emil itu melalui akun facebooknya, (29/2).

Mengutip seorang Indonesianis, Ben Anderson, Kang Emil menyinggung kekayaan Indonesia yang salah satunya dari keragaman pulau, bahasa, suku dan keyakinan. Sedemikian tingginya tingkat keragamannya sehingga Ben menyebut Indonesia sebagai  “imagined community”. Kang Emil kembali menekankan secara historis bahwa masyarakat Indonesia saat ini adalah hasil percampuran orang Micronesia yang datang ke Indonesia ribuan tahun lalu. Mereka juga mendatangi Taiwan dan Filipina.

“Jika mau melihat leluhur bangsa Indonesia, datangi kaum aborigin Taiwan yang genetikanya mirip dengan sawo matang manusia modern Indonesia hari ini,” katanya.

Selain kesukuan, isu sektarian seperti penghakiman agama dan mazhab tertentu juga kerap digunakan sebagai kampanye hitam untuk menjatuhkan lawan-lawan politik.  Bahkan dalam kasus tertentu, isu sektarian menurut intelektual muda Nahdatul Ulama Akhmad Sahal, juga tidak lepas dari politik global.

Mengingatkan urgensi persatuan di atas keberagaman, lewat akun twitternya, Sahal mengatakan bahwa gerakan ujar kebencian sektarian seperti terhadap Muslim Syiah adalah proyek Arab saudi (Wahabi) yang ingin membawa perang konyolnya dengan Iran ke bumi Pertiwi, Indonesia. []

 

YS/islamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *