Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 23 December 2017

Soal Peluncuran Rudal Yaman, Abdillah Toha Sebut Kecaman Kemenlu RI Salah Kaprah


496229_getattachment6f3dea7d-9b65-4780-8cbe-b01eb635613a487614-720x405

islamindonesia.id – Soal Peluncuran Rudal Yaman, Abdillah Toha Sebut Kecaman Kemenlu RI Salah Kaprah

 
Pengamat politik Abdillah Toha menilai kecaman Pemerintah Indonesia atas serangan rudal balastik Yaman ke wilayah Kerajaan Arab Saudi salah kaprah. Hal ini disampaikan Abdillah menyusul Kementerian Luar Negeri Indonesia melalui akun resmi Twitter-nya mengeluarkan tanggapan atas serangan ke Riyadh itu.

“Indonesia mengecam serangan rudal yang ditargetkan ke wilayah Kerajaan Arab Saudi,” tulis Kementerian Luar Negeri di akunnya kemarin malam, 22 Desember. “Tindakan tersebut mengancam stabilitas, perdamaian dan keamanan kawasan serta melanggar kedaulatan dan integritas teritorial Kerajaan Saudi.”

Screenshot (24)

Bagi Abdillah, Kementerian seharusnya melihat masalah Saudi dan tatengganya itu secara menyeluruh, tidak hanya pada serangan 19 Desember. Jauh sebelum Yaman meluncurkan rudal sebagai serangan balasan, Saudi beserta sekutunya telah melakukan agresi militer ke Yaman setiap hari selama lebih daripada dua tahun terkahir.

“Bagaimana dengan ribuan bom yang dijatuhkan Saudi ke Yaman?” kata mantan anggota Komisi Pertahanan DPR RI ini via akun Twitter-nya menanggapi kecaman Kementerian. “(Agresi Saudi) menimbulkan ribuan korban dan krisis kemanusiaan terbesar di dunia saat ini.”

Hal yang sama disampaikan oleh pengamat Timur Tengah Zuhairi Misrawi. Jika dibandingkan serangan balasan Yaman, Saudi telah menggempur Yaman setiap hari. “Sepuluh ribu orang tewas,” tulis intelektual muda Nahdlatul Ulama ini di akun Twitter-nya, 23 Desember.

Screenshot (23)

Pada Selasa lalu, 19 Desember, Saudi mengumumkan pencegatan peluru kendali di dekat Riyadh. Saudi menyebut rudal itu ditembakkan dari Yaman. Mereka menuding Kelompok Milisi Houthi di Yaman sebagai pihak yang melepaskan rudal itu.

Serangan rudal Houthi tersebut merupakan yang kedua kalinya dalam dua bulan terakhir. Awal November lalu, Houthi menembakkan rudal ke dekat Bandar Udara King Khalid, Riyadh, yang juga berhasil dicegat Saudi.

Kubu Houthi mengklaim serangan rudal Selasa lalu itu untuk menandai 1.000 hari operasi militer pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman. Operasi itu dilakukan mulai Maret 2015. Jumlah korban tewas akibat operasi militer itu diperkirakan telah mencapai 10.000 orang.

”Musuh-musuh memiliki hitungan khayalan sendiri. Tetapi, telah lebih dari 1.000 hari, ini merupakan ketabahan yang luar biasa,” kata pemimpin Houthi, Abdel-Malek al-Houthi, dalam siaran televisi Al-Masirah seperti dilaprokan harian Kompas, 21 Desember.

Dalam sebulan terakhir, kelompok Houthi memperingatkan, mereka membidik obyek sasaran serangan di Arab Saudi dan UEA. Sasaran itu meliputi bandara, pelabuhan, pintu-pintu perbatasan, dan obyek penting lain.

”Hari ini, warga kami mencapai jantung di Riyadh, kerajaan Saudi, dengan serangan rudal balistik,” kata Houthi menegaskan serangannya ke Riyadh.

Houthi mengungkapkan, serangan rudal itu diarahkan pada sasaran Istana Al-Yamama, Riyadh, tempat Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud menggelar rapat pemerintahan dan menjamu tamu kenegaraan. Namun menurut klaim koalisi Saudi, rudal itu diarahkan ke area permukiman dan tidak menimbulkan kerusakan.[]

 

 

YS/ IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *