Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 01 May 2018

Serangan Missile Kembali Menghantam Suriah; Timur Tengah Siaga


merlin_137519949_d21d5fd4-3d58-4d5d-8cb8-2ef5bfdb41d5-master768

islamindonesia.id – Serangan Missile Kembali Menghantam Suriah; Timur Tengah Siaga

 

Pada hari minggu malam, 30 April 2018, Suriah kembali dikejutkan oleh serangan mendadak. Sebuah missile yang belum diketahui dari mana asalnya menyasar wilayah utara Suriah. nytimes.com mengabarkan bahwa missile tersebut “menghancurkan salah satu fasilitas di Suriah di mana Iran dan para militannya mendirikan kamp, membakar gedung-gedung dan menyebabkan ledakan yang begitu besar sehingga mengguncang tanah seperti gempa bumi kecil.”

Situs bbc.com memberitakan bahwa 26 orang tewas dalam serangan tersebut, sebagian besar di antaranya adalah warga Negara Iran. Angka korban tersebut masih belum fix, dan besar kemungkinan terus bertambah.

Berdasarkan informasi dari Syrian Observatory for Human Rights yang dikutip oleh BBC, serangan missile yang dilancarkan minggu malam lalu menghantam dua sasaran militer di provinsi Aleppo dan Hama. Serangan yang di propinsi Hama menargetkan pangkalan Brigade 47, dan berhasil menghancurkan 200 rudal serta menewaskan 16 orang, termasuk 11 orang Iran.

Wilayah yang terkenal serangan missile pada 30 April 2018. Sumber gambar: bbc.com 

Wilayah yang terkenal serangan missile pada 30 April 2018. Sumber gambar: bbc.com

The Wall Street Journal (wsj.com) menyatakan bahwa menurut banyak Media Suriah yang pro-Assad, serangan tersebut dilakukan oleh Israel dengan menggunakan bom GBU-39 yang ditembakkan oleh pesawat jet tempur F-35. Rami Abdel Rahman, yang mengepalai organisasi pemantauan yang berbasis di Inggris, menyatakan “Mengingat sifat dari target, itu mungkin adalah serangan Israel.”

Namun Menteri Intelijen Israel, Yisrael Katz mengatakan bahwa ia tidak menyadari tentang serangan ini. Dia melanjutkan, “semua kekerasan dan ketidakstabilan di Suriah adalah hasil dari upaya Iran untuk membangun kehadiran militer di sana. Israel tidak akan mengizinkan pembukaan front utara di Suriah.” Demikian seperti dikutip dari laman bbc.com.

The New York Times, dalam analisanya menyatakan, bahwa serangan pada minggu malam tersebut terjadi hanya beberapa saat setelah Trump berbicara melalui sambungan telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Dalam pembicaraan tersebut, Israel menyampaikan kekhawatirannya tentang “ancaman dan tantangan yang terus berlanjut yang dihadapi wilayah Timur Tengah, terutama masalah yang ditimbulkan oleh aktivitas destabilisasi rezim Iran,”

The New York Times melanjutkan, bahwa Israel tampaknya mendapat dukungan jelas dari pemerintahan Trump dalam upaya mereka untuk menghadapi Iran. Hal ini ditegaskan pula oleh Mike Pompeo, Secretary of State Amerika yang baru, dalam konferensi pers nya ketika mengunjungi Israel pada 30 April 2018 lalu, yang mengatakan “Amerika Serikat bersama Israel dalam pertempuran ini, dan kami sangat mendukung hak berdaulat Israel untuk membela diri,” kata Pompeo.

Ketegangan ini terjadi ketika mendekati tenggat waktu 12 Mei mendatang yang mana Presiden Trump mengatakan dia akan memutuskan apakah akan menarik Amerika Serikat keluar dari perjanjian internasional untuk mengekang program nuklir Iran. Sejauh ini, Iran telah berusaha untuk mempertahankan kesepakatan yang sudah dibuat pada 2015 lalu. Meski di sisi lain, sekutu regional Amerika Serikat terus melakukan kampanye untuk membatalkan isi perjanjian tersebut, dan berbalik mengajak AS untuk menghukum Iran karena apa yang mereka lihat sebagai kegiatan destabilisasi di Timur Tengah.

Masih menurut analisa dari The New York Times, serangan ini sangat mungkin meningkatkan ketegangan di Timur Tengah. Frekuensi serangan yang meningkat, dan pilihan diksi atau Bahasa para pemimpinan Negara yang terus memanas, bisa berpotensi menciptakan perang baru.

 

AL/Islamindonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *