Satu Islam Untuk Semua

Friday, 02 November 2018

Seminar Jangan Suriahkan Indonesia: Sunni-Syiah Baik-baik Saja


JANGAN SURIAHKAN INDONESIA

islamindonesia.id – Seminar Jangan Suriahkan Indonesia: Sunni-Syiah Baik-baik Saja

 

Ikatan Alumni Syam Indonesia (Alsyami) menyelenggarakan seminar yang berjudul “Jangan Suriahkan Indonesia…!” Berdasarkan surat undangan yang ditujukan kepada anggota Alsyami, pengurus mengatakan bahwa seminar tersebut bertujuan agar Indonesia dapat mengambil pelajaran dari pengalaman pahit yang menimpa Timur Tengah. Dan juga, sebagai bentuk antisipasi agar Indonesia tidak mengalami kejadian serupa.

Seminar itu diselenggarakan di Jakarta pada Kamis (1/11), hadir sebagai narasumber Syeikh Dr. M. Adnan al-Afyouni (Mufti Damaskus dan Ketua Dewan Rekonsiliasi Nasional Suriah), Drs. Djoko Harjanto (Dubes RI untuk Suriah), Dr. Ziyad  Zahrudin (Dubes Suriah untuk RI), dan Ahsin Mahrus (Perhimpunan Pelajar Indonesia di Suriah).

Dilansir dari inews, dalam seminar itu Syeikh Adnan meminta umat Islam di seluruh dunia untuk mengutamakan kepentingan agama dibandingkan kepentingan politik atau kelompok tertentu yang ingin memecah belah ukhuwah. Menempatkan agama di atas kepentingan politik itu juga mestinya berlaku di Indonesia, terlebih melihat situasi akhir-akhir ini.

“Kami berharap agar Indonesia dan seluruh komponen saling paham untuk menghindari konflik. Agama harus dijadikan pondasi untuk mempersatukan bangsa,” ujarnya.

Dia lantas mencontohkan masyarakat Suriah yang sesungguhnya santun dan toleran dalam membangun peradaban dunia hingga hari ini. Suriah, kata dia bukan negara homogen, namun punya keberagaman etnik dan agama.

Menurut dia, masyarakat Suriah tidak membedakan satu rumah dan rumah lainnya walau mereka beda keyakinan. Mereka makan, minum, dan hidup bersama. “Agama menyatukan manusia, bukan memecah belah manusia. Agama itu memberikan norma-norma yang baik dan juga mendorong manusia bekerja sama bersatu dalam sebuah negara,” jelasnya.

Menyingkapi adanya konflik sebagian warga Suriah dengan pemerintahnya saat ini, Syeikh Adnan menilai, bahwa peristiwa itu merupakan efek dari musim semi Arab (Arab Spring) yang dimulai dari Tunisia, kemudian berlanjut ke Mesir dan Yaman, dan setelahnya berlanjut ke Libya.

Rentetan peristiwa itu mempengaruhi sebagian rakyat Suriah untuk melakukan hal yang sama. “Karena tujuan mereka politik, dalam artian krisis politik didengungkan untuk pergantian rezim,” kata dia.

Kemudian, Syeikh Adnan mengidentifikasi, bahwa masalah sebenarnya yang dihadapi Suriah bukan dari rakyatnya sendiri, melainkan dari wilayah luar. “Sebagaimana disampaikan dubes Indonesia, banyak negara yang terlibat. Mereka bertempur untuk memperebutkan kepentingan masing-masing,” katanya, dilansir dari NU Online.

Qatar, katanya, menginginkan jalur pipa gasnya melalui Suriah. Amerika Serikat ingin mengamankan Israel dari kemungkinan serangan dari Suriah. Lain dari itu, Amerika juga dari sejak tahun 2008 telah menemukan adanya kekayaan alam gas di Suriah. Amerika ingin menguasai gas dan minyak sebagaimana yang dilakukannya di Irak.

Syeikh Adnan menyatakan bahwa sebelum konflik itu muncul, masyarakat Suriah menikmati toleransi, keamanan, dan ekonomi yang terjamin, “Lalu apa lagi yang dicari?” ujarnya.

Disamping itu Suriah juga menggratiskan pendidikan bagi seluruh masyarakatnya dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Layanan kesehatan juga gratis di semua rumah sakit. “Segala sesuatu yang menyangkut kebutuhan pokok dijamin Pemerintah,” terangnya.

Bahkan, dia menegaskan bahwa Suriah termasuk negara yang paling aman dan murah dalam memenuhi kebutuhan hidup, “Tidak ada orang faqir satu pun di Suriah,” katanya.

Dia pun meminta klarifikasi dari para alumni Suriah yang hadir, “Sohih (apakah semua itu benar)?” tanyanya. Semua alumni itu membenarkannya, “Sohih (benar).”

Hanya saja, ada kelompok tertentu yang memainkan emosi kelompok agama tertentu melalui propaganda di masjid. Pasalnya, tidak ada lagi celah yang bisa dimasuki selain agama. Mereka pun menebar teror pembunuhan kepada penganut Kristen dan Syiah. Akan tetapi mereka tidak berhasil. “Itu semua tidak berhasil karena mayoritas orang Suriah tidak rela agama dijadikan politik,” tuturnya.

 

Sunni dan Syiah baik-baik saja

Terkait narasi yang beredar luas di Indonesia, yang menyatakan bahwa konflik di Suriah adalah karena persoalan sektarian antara Sunni dan Syiah, Dubes Indonesia untuk Suriah Djoko Harjanto memberikan klarifikasinya, dia mengatakan bahwa di Suriah ada kelompok Syiah dan Sunni, tetapi mereka tidak berkonflik. Pertikaian saat ini lebih karena persoalan politik.

Dia dengan tegas menyatakan tidak ada konflik agama. Pasalnya, dia yang Sunni biasa saja ketika shalat di masjid Syiah. “Saya shalat di masjid Syiah sana tidak apa-apa. Tidak ada yang dipel lantai atau karpetnya. Intinya saya sampaikan bahwa kehidupan antara Syiah dan Sunni sebenarnya baik-baik saja,” kata dia.

Sebelumnya Djoko mengatakan bahwa ada banyak keterlibatan negara luar di sana selain dua negara yang telah disebutkan tadi (Qatar dan Amerika), seperti Turki, Yordania, dan Perancis. Tiongkok juga bermain di sektor ekonominya. Karenanya, pemerintah Suriah berupaya mempertahankan diri dengan mengundang Rusia dan Iran.

“Yang menjadi panas karena Suriah dibantu Iran. Itu mungkin yang dibuat ramai,” ujarnya.

 

 

PH/IslamIndonesia

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *