Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 11 June 2015

Selangkah Lagi Eks Gubernur Jakarta, Sutiyoso, jadi Kepala Intelijen


IMG_1193-0.JPG

Eks Gubernur Jakarta, Sutiyoso, mungkin orang paling beruntung di Indonesia hari-hari ini. Di usia 70 tahun, saat dia gagal untuk yang kesekian kalinya di pentas politik dan dia semestinya menghabiskan waktu bersama anak, cucu dan istri di sebuah rumah megah berpekarangan tiga hektar di pinggiran Jakarta, tugas negara memanggilnya.

Pada Selasa, dalam sebuah surat ke DPR, Presiden Joko Widodo mengajukan namanya sebagai calon bos besar Badan Intelijen Negara, menggantikan posisi yang kini diemban eks Komandan Pasukan Pengawal Presiden di era Susilo Bambang Yudhoyono, Marcio Norman.

“Kami sudah terima surat termasuk masalah kepala BIN. Yang beliau tunjuk adalah Pak Sutiyoso,” kata Ketua DPR RI, Setya Novanto, Rabu.

DPR segera membahas penunjukan itu dalam sebuah rapat paripurna, lepas fit & proper test, uji kepatutan, di Komisi I (Pertahanan), katanya.

Ke sejumlah media kemarin, Sutiyoso bilang dia “terkejut” dengan keputusan presiden. Kendati dia  menyatakan “siap menjalankan tugas” dan punya latar yang cukup di bidang intelijen.

“Saya pernah lama bertugas di Sandi Yudha,” katanya merujuk pada unit intelijen Komando Pasukan Khusus.

Sutiyoso dikenal sebagai orang yang pernah menjabat sebagai Gubernur Jakarta dua periode (1997-2007), sebelum digantikan wakilnya, Fauzi Bowo. Enam hari sebelum resmi mundur, pensiunan jendral bintang tiga ini mengumumkan dirinya untuk bertarung di Pemilu Presiden 2009.

Pada 2010, Kongres Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia mengangkat mantan Wakil Komjen Kopassus ini sebagai ketua umum partai.

Aktivitasnya sebagai politikus pun semakin meningkat. Pada Pemilu Gubernur Jakarta 2012, gubernur yang pertama meluncurkan transportasi massal “Transjakarta” ini mendukung Fauzi yang bertarung — lalu kalah — melawan duet Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama.

Dalam Pemilu Legislatif 2014, Sutiyoso,  kelahiran Semarang, gagal membawa partainya masuk ke Palemen. Dalam Pemilu Presiden, lulusan Akedemi Militer 1968 ini menjatuhkan dukungan partainya ke Jokowi-Jusuf Kalla. Walhasil, Jokowi yang diusung partainya sebagai capres menang melawan pesaingnya, Prabowo Subianto, mantan panglima kostrad TNI.

Kemenangan ini membuat  PKPI mendapat peluang masuk ke pemerintahan. Sebut saja seperti sekjen PKPI, Yusuf Kartanegara, yang dilantik sebagai salah satu anggota Watimpres. Terakhir, Presiden Jokowi menunjuk Ketua Umum PKPI, Sutiyoso, sebagai calon tunggal kepala BIN menggantikan Marcio yang menjabat sejak 2011.

Tragedi “Balibo Five”. Catatan karir Sutiyoso di militer sempat bersinggungan dengan kasus terbunuhnya lima wartawan asing di Balibo, Timor Timur, pada 1975. Insiden yang dikenal dengan “Balibo Five” pernah mencuat ketika Sutiyoso, yang masuk ke bursa Pemilu Presiden 2009, didatangi polisi New South Wales di kamar hotel Shangri-La, Sydney, saat dia berkunjung ke Australia pada 29 Mei 2007. Polisi yang ‘menerobos’ ke tempat penginapannya itu memintanya untuk menghadiri sidang ‘Balibo Five’. Perlakuan aparat keamanan atas dirinya tidak diterima oleh mantan panglima Kodam Jaya ini dan menuntut pemerintah Australia meminta maaf.

Ke media kala itu, Sutiyoso mengakui dirinya memang pernah bertugas di Timor Timur pada  1975 namun pasukan yang dipimpinnya tidak pernah memasuki kota Balibo.

Edy/Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *