Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 05 January 2014

Selamatkan Indonesia dari Ulah Teroris Takfiri


Jacob Wackerhausen/Photos.com

Akhir pekan jelas bukan saat bersantai-santai kalau menyangkut urusan keselamatan bangsa. Setidaknya itulah yang tercermin dari sejumlah perbincangan di media sosial Twitter Sabtu 4/12 kemarin, menyusul berita tentang kelompok Abu Omar yang dalam rencana serangan terornya menargetkan,  antara lain, kelompok Syiah di Indonesia.

Haidar Bagir, salah satu tokoh Gerakan Islam Cinta yang juga Presiden Direktur Mizan Group menyatakan bahwa berita semacam itu bukanlah hal yang tak terduga. “Ini merupakan perkembangan yang sudah bisa diperkirakan,” demikian ujar Haidar dalam twitnya saat mengantarkan berita yang dilansir TribunNews.com. Yang terpenting, menurut Haidar, adalah  menghadapi persoalan yang mengancam kesatuan Indonesia ini ini secara lebih serius. “Sekarang Syiah yang jadi sasaran. Setelah itu? Masihkah kita akan diam?” tanyanya retorik.

Keprihatinan Haidar mendapat banyak sekali tanggapan dari sejumlah pegiat twitter yang rupanya juga prihatin dengan perkembangan yang ada. Akun @GalengTingsir misalnya, berpendapat bahwa polisi seharusnya fokus mencari dalang utama, bukan teroris “kelas teri”. Dalang utama, tentu saja termasuk mereka yang melakukan pidato/ceramah menebar kebencian dan menghasut hingga lahir para teroris seperti kelompok Ciputat.

Sementara itu akun @MhmmdSahal dengan menggunakan hash tag #islambukanteroris mengingatkan bahwa sebaiknya kita tak mudah diadu domba, dan harus berhati-hati dengan provokasi. Keprihatinan Sahal tentu mencerminkan mereka yang ingin Islam berdiri tegak bersatu menghadapi “musuh luar”. Hanya saja, seperti dicatat Haidar Bagir, di kalangan Muslim sendiri juga tak sedikit yang menyatakan bahwa kelompok Syiah harus diperangi. Tentang hal ini, @hikmatdarmawan menyatakn miris melihat kenyataan orang-orang yang begitu marah atas cap teroris atas Muslim, namun “’hot’ banget ingin perangi Syiah.“Sebenarnya yang ngotot musuh-musuhan itu minoritas, tapi mengklaim sebagai mayoritas,” demikian menurut pengamatan @insunevrian, yang ditanggapi Haidar dengan menyayangkan bahwa kebanyakan orang juga percaya bahwa kelompok keras ini mewakili mayoritas, sedangkan mayoritas yang sebenarnya cenderung pasif—“diem”. Haidar lantas mengingatkan bahwa kawasan Timur Tengah (Yaman, Irak, Suriah), Afghanistan dan Pakistan sudah dibuat berantakan oleh berkembangnya kelompok-kelompok yang mengkafirkan Muslim lain ini, jangan sampai Indonesia menyusul jadi korban.

Meskipun seperti disampaikan @insunevrian “Darah orang kita (Indonesia) adem-adem (sehingga tak mudah diprovokasi dan dipecah belah),” Haidar mengingatkan bahwa 1000 saja kalangan yang menganggap pihak lain layak dibunuh, dan untuk itu mereka menggunakan bom dan senjata lain, sudah pasti mampu membuat kekacauan. Apalagi kalau sampai jumlahnya 10.000 atau 100.000. Ini senada dengan pernyataan Anggota Komisi III DPR sekaligus pemerhati masalah pluralisme dan hak-hak kaum minoritas, Dra. Eva Sundari, yang berujar, “Intoleransi bisa berkembang bukan karena jumlah mereka yang banyak, tapi karena orang-orang yang pro toleransi tidak melakukan apa-apa.”

David Ahmad Wibawa melalui akunnya @WibawaDavid mengimbuhkan bahwa kelompok-kelompok yang mengaku Muslim namun suka membunuh Muslim lain, biasa disebut Wahabi Takfiri.Ia juga menggarisbawahi bahwa kelompok-kelompok semacam ini memanen konflik mazhab yang dulu ditumbuhkan di kalangan umat. Akun @Zenpotti menambahkan, kelompokm Taliban-Al-Qaeda telah merusak Yaman, Afghanistan, Pakistan, dan menjadikannya negara-negara yang gagal—dan saat ini pun mereka tengah “menggarap” Irak dan Suriah. Disebutkan juga, Wahabi takfiri pun menyusup di kalangan ahlussunnah. Mereka mengklaim paling sunni, padahal sesungguhnya ekstremis. Sedangkan ahlussunnah pada hakikatnya adalah kalangan moderat.

Kemunculan kelompok-kelompok seperti itu, antara lain menurut @LarvaAce, adalah karena agama doktrinal menjadikan perintah-perintahnya gampang begitu saja diterima tanpa repot-repot lagi menggunakan pikiran untuk mencerna. Untuk itu @jprabo memandang perlunya kita secara intensif menginformasikan kepada masyarakat luas tentang bahayanya kelompok-kelompok takfiri, atau sebagaimana diistilahkan Haidar, “Kelompok-kelompok seperti ini harus dilawan dengan hati, lisan (dakwah), dan tangan (kerja/upaya). Sebab bila tidak, thaghut yang akan merajalela dan kemanusiaan akan hancur.” Sebuah keprihatinan yang juga dirasakan Gerakan Masyarakat Penerus Bung Karno (GMP Bung Karno), yang beberapa waktu lalu mengajak masyarakat luas secara bersama-sama melawan sikap-sikap intoleransi. [pn/berbagai sumber]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *