Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 09 August 2015

SEJARAH – Mengenal Khadijah Al Kubra (4)


hqdefault

Adalah tradisi bagi penduduk Makkah menyambut dengan meriah kepulangan kafilah yang berdagang berbulan-bulan di negeri seberang. Hampir semua penduduk Makkah menginvestasikan hartanya dalam industri ekpor-impor ini. Ribuan unta, ratusan budak, kuda dan keledai, kulit binatang, anggur kering, perak, yang diberangkatkan ke Syria kembali dengan bentuk minyak, parfum, dan barang-barang produksi Syria, Mesir, serta Persia. Adapun barang yang datang dari kawasan selatan biasanya berupa emas, dan rempah-rempah.

Kafilah besar yang dipimpin Muhammad pertama kalinya bukan hanya kembali dengan selamat tapi juga mendatangkan keuntungan paling yang tertinggi dalam sejarah bisnis Khadijah. Setelah tawaf tujuh kali di Ka’bah, Muhammad menemui Khadijah dengan membawa dokumen-dokumen penting. Pemuda berusia 25 tahun ini melaporkan catatan transaksisnya dengan jelas, detail dan rapi.

Setelah Muhammad pulang ke rumah pamannya, Khadijah bertemu Maysarah. Selain bercerita tentang keuntungan yang dihasilkan, Maysarah lebih banyak bercerita tentang kepribadian Muhammad. Selama di perjalanan, sekretaris Khadijah ini memperhatikan Muhammad dari cara memimpin, berdagang, menyikapi masalah, memutuskan kebijakan dan segala karakternya yang amanah, berani dan santun. Apa yang Maysarah rekam selama menemani Muhammad didengarkan oleh Khadijah hingga Ratu Makkah ini pun  terpesona dengan Muhammad.

Ketika Waraqah bin Naufal datang, Khadijah menceritakan tentang pemuda yang menjadi agen kafilah dagangnya. Setelah mendengar cerita Khadijah, Waraqah menemui Maysarah untuk mendapatkan cerita yang lebih detailnya. Mendengar cerita dari keduanya, saudara sepupu Khadijah ini terdiam dan merenung cukup lama. Penganut ajaran Tauhid dan pembaca naskah-naskah teolog Nasrani dan Yahudi ini berkata pada Khadijah:

“Mendengar cerita darimu dan Maysarah tentang Muhammad, dan juga apa yang kulihat sendiri, aku berpendapat ia memiliki semua sifat-sifat serta kemampuan sebagai utusan Allah. Mungkin beliaulah yang ditakdirkan untuk menjadi salah seorang di antara para rasul di masa yang akan datang.”

Kekaguman Khadijah pada agen kafilahnya tercium oleh sahabat karibnya, Nafisah (atau Nufaysah), yang juga perempuan bangsawan Makkah. Nafisah pernah terheran-heran pada Khadijah yang menolak para pangeran dan bangsawan Arab yang datang melamarnya. Hingga pada akhirnya Nafisah mengetahui bahwa laki-laki yang bergelimangan harta ataupun kekuasaan bukanlah kriteria menarik bagi Khadijah. Putri Khuwaylid ini hanya tertarik pada laki-laki yang memiliki akhlak yang mulia. Nafisah juga tidak ketinggalan berita tentang pemuda dari Bani Hasyim yang selama ini dikenal masyarakat sebagai Al Amiin (yang terpercaya) dan As Shadiq (yang jujur). Apalagi adanya kabar tentang kesuksesan Muhammad sebagai agen kafilah dagang Khadijah.

Diriwayatkan ketika Muhammad pulang dari Ka’bah, Nafisah menghentikan langkahnya. Setelah bertegur sapa, Nafisah memulai perbincangan,

“Wahai Muhammad, Anda adalah pemuda yang belum menikah. Banyak laki-laki yang lebih muda dari Anda dan sudah menikah. Sebagian di antaranya bahkan telah memiliki anak. Mengapa Anda belum menikah?”

“Aku belum mampu untuk menikah. Aku tidak memilik harta yang cukup untuk menikah,” jawab Muhammad.

“Apa jawaban Anda bila ada seorang wanita yang cantik, kaya, dan terhormat mau menikah dengan Anda walaupun Anda tidak memiliki harta yang cukup untuk menikah?” Nafisah ingin memancing isi hati Muhammad

“Siapakah wanita yang Anda maksud?” 

“Wanita yang aku maksud ialah Khadijah putri Khuwaylid.” 

“Khadijah? Bagaimana mungkin Khadijah mau menikah denganku? Bukankah Anda sendiri tahu bahwa banyak pangeran kaya raya, dan kepala suku yang datang untuk melamarnya. Apakah dia telah menolak semuanya?” Kata Muhammad seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar.

“Bila Anda mau menikah dengannya, katakan saja, dan serahkan kepadaku. Aku yang akan mengurus semuanya.”  Nafisah kembali memancing Muhammad sambil menawarkan solusi yang kongkrit.

Muhammad tidak serta merta memberikan jawaban kepada Nafisah. Tawaran menikah dengan Ratu Makkah ini disampaikan Muhammad kepada pamannya Abu Thalib untuk mendapatkan pertimbangan. Muhammad yang bijak ini sangat paham jika pamannya telah mengenalnya sejak kecil dan juga lebih mengenal siapa sosok Khadijah binti Khuwaylid. Bersambung

Edy/Islam Indonesia/ Foto: Youtube.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *