Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 26 July 2015

SEJARAH – Mengenal Kakek, Ayah & Ibunda Rasulullah Muhammad saw (4)


631

Beratus tahun sebelum zaman Abdulmuttholib—sebelum kakek-kakek Rasulullah saw berkuasa di Mekkah—mata air zamzam sudah tak terlihat jejaknya. Ada yang bilang ini berkat kelalaian suku Jurhum yang dulu jadi penanggung jawab mata air yang pertama kali menyembul di zaman Nabi Ismail.

Ceritanya, suku Khaza’ah menyerang Mekkah. Suku Jurhum yang merasa lemah, memilih angkat kaki mengungsi. Cilakanya, mereka pergi dengan menutup sumber air zamzam lebih dulu. Niatnya, mereka bakal kembali membuka sumur setelah Mekkah tenang. Namun nyatanya, suku Jurhum tak jadi pulang kampung.

Diceriterakan juga bahwa mertua Nabi Ismail, Mudzaz bin Amr al-Jurhumiy, pernah mencoba mencari zamzam dengan menggunakan sesajen pedang dan pelana emas. Nihil. Zamzam seolah tak ingin ditemukan. 

Di masa itu air adalah barang langka di seputar Mekkah. Terutama di musim haji, ketika orang berbondong-bondong datang dari berbagai penjuru padang pasir untuk beribadah di Ka’bah. 

Zamzam bagi Quraisy telah menjadi obsesi yang terpendam kuat dan lama membeku di dasar hati mereka. Mereka telah putus asa untuk menemukannya. Meski begitu, zamzam tetaplah jadi harapan dan impian. 

Sebagai pemimpin Quraisy, Abdulmuttholib berniat mencari lokasi dan menggali zamzam. Hampir setiap saat dia memikirkan dimana kiranya letak mata air suci itu. 

Suatu hari, usai melaksanakan “saqooya”—tradisi turun temurun Quraisy untuk memberi minum para tamu Ka’bah—Abdulmuttholib tiba-tiba merasa lebih lelah dari biasanya. Dia pun terlelap di samping Ka’bah. Dalam nyenyak tidurnya, dia mendengar suara yang memerintahkan untuk menggali zamzam. Sontak dia terbangun, sementara suara “perintah” itu masih terngiang di telinganya. Dia yakin itu adalah suara kebenaran. 

Di hari berikutnya mimpi dan perintah yang sama datang lagi, kali ini lengkap dengan lokasi mata air zamzam berada. Wajahnya pun berseri bahagia. Dia bulatkan niat dan tekadnya. Dia meniatkan air zamzam nantinya haruslah dimanfaatkan untuk orang sebanyak-banyaknya secara cuma-cuma. Agar niat mulia itu bisa terwujud, dia merasa perlu menegaskan pada masyarakat Quraisy kalau dia akan bekerja sendiri dan hanya ditemani seorang putranya seorang dalam penggalian zamzam. … BERSAMBUNG.

HY/Islam Indonesia. Foto: ahlanpk.org

Bagian 1

Bagian 2

Bagian 3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *