Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 21 July 2015

SEJARAH – Mengenal Kakek, Ayah & Ibunda Rasulullah Muhammad saw (3)


wpid-12-57-16-muhammad-the-seal-of-prophets.jpg

Di perjalanan lintas provinsi pertamanya, Syaibah lebih banyak tertunduk lesu. Sepanjang jalan, kelelahan menyergapnya. Tapi dia tetap setia duduk di belakang pamannya Muttholib yang lihai mengendarai onta.

Begitu sampainya di Mekkah, kabar kedatangan Muttholib sudah tersebar, lengkap dengan cerita dari mulut ke mulut kalau dia membawa seorang “budak laki-laki” dari Madinah. 

Awalnya, Muttholib menjelaskan kalau anak remaja asal Madina itu bukan budaknya. Dia Syaibah putra Hasyim bin Abdi Manaf, katanya. Namun penduduk Mekkah seperti terlanjur menyukai ‘nama baru’ Syaibah: Abdulmuttholib, “budak” Muttholib. Seakan mendiang Hasyim bin Abdimanaf, almarhum pemimpin Quraisy yang disegani dan dicintai, membisikkan ke benak masing-masing penduduk untuk menyebut Syaibah dengan “budak” Muttholib, seperti isi wasiat ke Muttholib dulu. Sejak itulah Syaibah berganti nama dan resmi dikenal penduduk Makkah sebagai Abdulmuttholib. 

Sejak kedatangannya, kepribadian Abdulmuttholib menjadi daya tarik baru, dan lama-kelamaan mengalihkan perhatian penduduk Makkah dari pamannya. 

Mewarisi Nabi Ibrahim as dari jalur ayahnya, Abdulmuttholib berhasil menjadi pemimpin yang disegani sebagaimana pendahulunya. 

Saat itu anggur, perempuan, penyembahan berhala, riba dan perang dengan sesama melekat dengan budaya masyarakat Makkah. Walaupun Abdulmuttholib hidup hampir 70 tahun di sana, akhlak, budi pekerti dan kemuliaannya tetap terjaga. Dia membawa norma-norma baru ke masyarakat jahiliyyah Mekkah. Dia misalnya, melarang orang berthawaf dengan telanjang sebagaimana kebiasaan waktu itu. Dia menolak praktik perkawinan sesama “muhrim”. Dia juga selalu berusaha keras menghindarkan pembunuhan antar sesama yang sudah menjadi semacam ‘olah raga’ di zaman itu. Digambarkan dalam syair Arab kuno, penduduk Mekkah kerap berujar, “bila tak kami temui lawan, kita perangi saja tetangga dan kawan, agar nafsu perang tersalurkan”. 

Semua sikap Abdulmuttholib itu didasari ketinggian ilmu dan kebaikan hatinya. Maklum, Islam belum lagi ada saat itu. 

Selain itu, dia juga terpandang karena keputusannya yang adil dan bijak, meski menyangkut keluarganya sendiri.

Sejarah mencatat, Harb bin Umayyah (keluarga dekat Abdulmuttholib)  bertengkar dan membunuh seorang Yahudi. Abdul Muttholib pun menghukum Harb dengan wajib bayar tebusan ganti rugi pada keluarga yang terbunuh, sebagaimana hukum yang berlaku kala itu.

Dia juga dikenal sebagai penganut Tauhid dan mengimani Hari Kiamat. Ucapannya tercatat: “Orang zalim akan mendapat hukuman di dunia ini, namun bila ia mati sebelum menjalani hukumannya, ia akan mendapat hukuman di Hari Pengadilan nanti”. 

Abdulmuttholib tak ubahnya manusia suci di tengah masyarakat jahiliyyah. Tak ada pemimpin ataupun tokoh Makkah yang begitu disegani dan sekaligus dicintai melebihi dirinya. 

Itulah Abdulmuttholib bin Hasyim bin Abdi Manaf, pemimpin sejati Quraisy, manusia termulia yang berasal dari suku yang paling dimuliakan saat itu. … BERSAMBUNG

HY/Islam Indonesia. Foto: New-muslim.info

Bagian 2
Bagian 1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *