Satu Islam Untuk Semua

Monday, 11 January 2016

SEJARAH – Mengenal Abu Thalib, Paman Nabi Muhammad (7)


ce082785-f5d1-4c02-89dc-1b44ed09c7ee-540x324

Di hadapan para pemimpin kafir Quraisy, Abu Thalib mengumumkan akan menghukum siapa saja yang menyakiti Nabi Muhammad Saw. Dalam pertemuan yang tegang itu Abu Jahal terdiam dan para pemimpin Quraisy lainnya ketakutan. Mengetahui resiko berhadapan dengan Abu Thalib, tidak ada lagi yang berani mengganggu dakwah damai nabi secara langsung.

Hingga suatu ketika, para pemimpin Quraisy khususnya bani Umayyah, mengadakan rapat internal dan disepakatilah pemboikotan bani Hasyim. Hasil kesepakatan dituangkan dalam surat yang ditandatangani 50 pemimpin Quraisy dan ditempel di dinding Ka’bah. Tepat pada bulan Muharram, tujuh tahun kenabian Muhammad, mereka  menetapkan embargo ekonomi dan sosial pada bani Hasyim.

Alih-alih menyerah, Abu Thalib semakin ketat menjaga Muhammad yang menjadi target pembunuhan. Paman nabi yang telah sepuh itu meminta seluruh bani Hasyim untuk pindah ke lembah yang terletak di antara dua bukit demi melindungi Rasulullah.

Bersama saudaranya, Hamzah serta laki-laki bani Hasyim lainnya silih berganti menjaga lembah dari upaya penyusupan khususnya di malam hari. Sedemikian mencekam situasi pada masa itu, Abu Thalib tak jarang mengangkat Muhammad dari tempat tidurnya ke tempat lainnya. Demi utusan Tuhan itu, Abu Thalib bahkan menukar putranya dengan Muhammad yang sedang tidur demi mengecoh musuh.

Demikianlah seterusnya hari-hari yang dijalani di lembah yang kelak dikenal sebagai lembah ‘Syi’b Abu Thalib’. Di lembah sempit itu, hubungan sosial dan ekonomi dengan penduduk kota Makkah diputus oleh bani Umayyah. Di lembah itu, sekitar 400 bani Hasyim – termasuk Muhammad dan keluarga kecilnya; Khadijah, Fatimah dan sepupu Nabi, Ali bin Abi Thalib, – berjuang bertahan hidup selama tiga tahun.

Selain Ali, kemenakan Khadijah yang non Muslim, Hakim bin Hizam, termasuk yang sering membawa pasokan makanan ke lembah. Langkah Ali dan Hakim itu termasuk berbahaya karena harus melewati prajurit bayaran Bani Umayyah yang menjaga ketat perbatasan. Tak jarang mereka kekurangan makanan dan hanya memanfaatkan tumbuhan yang ada di sekitarnya. Sedemikian tragisnya suasana di lembah itu, menurut laporan sejarah, penduduk Makkah bisa mendengar koor tangisan anak-anak pada malam hari.

Masa yang sarat dengan duka itu tidak menciutkan mental Abu Thalib meski usianya telah sepuh. Jika menatap wajah Muhammad, Abu Thalib kerap meneteskan air mata sambil berkata, “jika saya memandangmu, saya selalu teringat pada saudaraku, Abdullah (ayah Muhamamd).”

Suatu malam, ketika Muhammad telah tidur, Abu Thalib menemui putranya Ali yang masih terjaga. “Wahai anakku, tidurlah di tempat tidur Muhamamad,” pinta Abu Thalib.

Penasaran dengan kesetiaan ayahnya pada sang nabi, Ali ‘menggoda’ dengan berkata, “bagaimana jika saya terbunuh…”

“Bersabarlah,” jawab ayahnya.

“Saya tak takut mati. Saya hanya ingin tahu dukungan Ayah pada Muhamamd,” kata Ali.

Mendengar kata-kata anaknya itu, Abu Thalib menepuk punggung Ali lalu membawa Muhammad ke tempat tidur yang lebih aman dan tidurlah Ali di tempat tidur nabi. Kelak, ketika rumah nabi dikepung musuh, putra Abu Thalib ini mempertaruhkan nyawanya dengan mengganti Muhammad tidur hingga sang nabi lolos dari ancaman pembunuhan dan berhasil hijrah ke Madinah dengan selamat.

bersambung…

 

Edy/ ks/ Islam Indonesia

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *