Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 30 December 2015

SEJARAH – Mengenal Abu Thalib, Paman Nabi Muhammad (6)


IMG09340283

Nabi Muhammad saw tetap tak mundur meski gelombang teror dari pemimpin kafir Quraisy datang bertubi-tubi. Sang paman, Abu Thalib, juga tak gentar sedikit pun menjadi benteng bagi dakwah damai Muhammad meski usianya telah sepuh.

“Abu Thalib, ini Amarah bin Walid (saudara Khalid bin Walid). Ia adalah pemuda terkuat dan tertampan dari seluruh kaum Quraisy.  Ambil ia dan serahkan Muhammad untuk kami bunuh,” kata utusan kaum kafir Quraisy ke Abu Thalib.

Sontak paman nabi yang juga sesepuh bani Hasyim itu marah dan berkata, “apakah kalian memberikan anak kalian untuk saya pelihara, sementara saya memberikan anakku untuk kalian bunuh?  Pernahkah kalian melihat unta betina yang mengasihi anak unta lain melebihi kasihnya pada anaknya sendiri?”

Sulitnya kaum kafir Quraisy menaklukkan Abu Thalib membuat mereka menebarkan kebencian dan kekerasan pada para pengikut ajaran Muhammad. Melihat situasi buruk ini, kewaspadaan Abu Thalib terhadap keselamatan Muhammad semakin meningkat. Ia sangat khawatir mereka sampai melukai utusan Tuhan itu.

Muhammad  pun dibawa oleh pamannya ke Bani Hasyim agar mendapat perlindungan ekstra. Mereka semua menerimanya — kecuali Abu Jahal. Berselang beberapa waktu kemudian, Abu Thalib mendapat informasi bahwa Abu Jahal dan komplotannya sedang membuat perencanaan untuk membunuh Muhammad. Bersama anaknya Ja’far, Abu Thalib menelusuri lembah-lembah sekitar Makkah mencari tempat persembunyian Muhammad.

Akhirnya Abu Thalib mendapatkan Muhammad sedang salat jama’ah bersama putranya, Ali. Tidak ada seorang pun di tempat itu kecuali Ali yang sedang berdiri di sisi kanan Muhammad dalam salat jama’ah. Kepada putranya, Ja’far – yang turut bersamanya, Abu Thalib berkata untuk ikut shalat di sisi kiri Muhammad.

“Lengkapilah sayap sepupumu,” pinta Abu Thalib ke Ja’far.

Di tengah gelombang terror yang mencekam, Abu Thalib ingin membesarkan hati keponakannya itu. Setelah melakukan pertemuan, Abu Thalib dan Muhammad kembali berpisah. Secara sembunyi-sumbunyi, Muhammad memberikan pencerahan terhadap pengikutnya yang kian lama kian banyak. Adapun Abu Thalib kembali mengawasi pergerakan para pemimpin Quraisy yang tidak suka dengan perubahan yang dibawa Muhammad.

Lama Abu Thalib tidak lagi bertemu keponakannya hingga ia rindu pada Muhammad. Abu Thalib menanti kepulangannya tapi tak kunjung kembali. Ayah Ali itu pun mencari Muhammad termasuk di tempat yang sering dikunjungi keponakannya namun hasilnya nihil. Perasaan Abu Thalib semakin tidak nyaman dengan keadaan Muhammad hingga ia putuskan untuk mengumpulkan pemuda Bani Hasyim.

“Setiap dari kalian harus membawa sebatang besi. Sekarang ikuti saya. Setiap kalian nantinya harus duduk di samping pemimpin kafir Quraisy. Bila ternyata Muhammad telah dibunuh, maka setiap dari kalian harus membunuh mereka,” kata Abu Thalib yang dipatuhi pemuda Bani Hasyim.

Di tempat pertemuan itu, mereka duduk sesuai yang direncanakan. Abu Thalib ikut duduk bersama mereka sambil menunggu kedatangan Muhammad. Tak lama kemudian, Zaid bin Harits datang menemui Abu Thalib dan menyampaikan kabar bahwa Muhammad selamat.

Abu Thalib lega dan bersyukur atas berita itu. Di hadapan para pemimpin kafir Quraisy, Abu Thalib mengumumkan bahwa siapa saja yang berusaha menyakiti Muhammad, ia akan menghukumnya. Abu Jahal terdiam. Adapun wajah pemimpin kafir Quraisy lainnya menjadi pucat ketakutan.

Mengetahui resiko berhadapan dengan Abu Thalib, mereka akhirnya diam-diam melakukan provokasi kepada anak-anak mereka untuk menyakiti Muhammad. Walhasil, suatu hari sejumlah pemuda Makkah tertawa terbahak-bahak setelah melempar kotoran ke tubuh Muhammad yang sedang melakukan sujud ketika salat.

Berita tentang perlakuan yang tidak manusiawi ini sampai di telinga Abu Thalib hingga membuat pembesar Bani Hasyim itu marah besar dan menghunuskan pedangnya. Bersama anaknya, Abu Thalib mendatangi orang-orang yang telah menyakiti penutup para nabi itu. Di hadapan mereka, Abu Thalib memerintahkan anaknya untuk melempar kotoran ke wajah mereka hingga setiap dari mereka berteriak, “Abu Thalib, cukup!”

bersambung…..

Edy/ ks/ Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *