Satu Islam Untuk Semua

Monday, 07 December 2015

SEJARAH – Mengenal Abu Thalib, Paman Nabi Muhammad (4)


89110_684

Abu Thalib telah sepuh, usianya mencapai tujuh puluh tahun. Meski demikian, kecintaannya pada keponakannya, Muhammad, tidak pernah kendur. Bahkan di usia inilah cinta Abu Thalib pada Muhammad mulai diuji. Ketika itu, Muhammad yang berusia empat puluh tahun tidak jarang pergi menyendiri ke Gua Hira. Hingga suatu ketika, sebagaimana tercatat dalam sejarah, Muhammad menerima wahyu yang pertama dengan perantara Malaikat Jibril.

Singkat kisah, Muhammad kembali dari Gua Hira dengan mengemban misi ilahi. Dengan misi agung ini, Muhammad telah terpilih sebagai utusan Allah. Sesampainya di rumah, Muhammad menyampaikan apa yang diterimanya dari Jibril. Tidak ada yang meragukan kredibilitas Muhammad yang sejak remaja telah dikenal sebagai ‘Al Amin’ (yang terpercaya) itu. Istrinya, Khadijah, mengimani kabar yang dibawa Muhammad demikian pula sepupunya, Ali bin Abi Thalib.

Setelah dua keluarga Muhammad ini beriman pada kenabian Muhammad, mereka diajari berwudhu dan shalat. Keduanya mengikuti Muhammad sebagai imam dalam shalat jama’ah. Suatu hari, Abu Thalib datang dan mendapatkan anaknya Ali sedang shalat bersama Muhammad. Setelah usai, dengan penasaran pamannya bertanya, “wahai keponakanku, apa yang sedang engkau lakukan?”

“Kami sedang menyembah Allah yang telah menurunkan agama Islam,” jawab Muhammad.

Ramalan tentang Muhammad yang bertahun-tahun dijaga Abu Thalib akhirnya menjadi kenyataan. Wasiat ayahnya dan ramalan para pendeta yang pernah didengar Abu Thalib kini benar-benar terwujud. Dengan perasaan bahagia dan penuh kewaspadaan, Abu Thalib meyakinkan Muhamamad, “tak ada yang akan mengganggumu.”

Kemudian Abu Thalib beralih ke putranya dan berkata, “wahai Ali, dukunglah sepupumu. Tidak ada yang dia lakukan melainkan kebaikan.”

Tidak lama kemudian, Jibril datang membawa perintah dari Allah: “Dan berikanlah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS. Asa Syu’araa’: 214)

Sang Nabi meminta Ali yang berusia sepuluh tahun itu untuk mengumpulkan keluarganya, bani Hasyim. Datanglah Abu Thalib, Abu Lahab beserta kerabatnya yang lain. Setelah makan bersama, Muhammad memulai pembicaraan, “tidak ada seorang pemuda Arab yang membawakan kepada kaumnya seperti yang aku bawakan pada kalian. Aku bawakan kebaikan dunia dan akhirat untuk kalian.”

Penutup pintu kenabian itu kemudian mengajak mereka memeluk ajaran Islam. Sontak Abu Lahab berdiri dan berkata dengan keras, “Muhammad telah menyihir kalian!”

“Diam! Itu bukan urusanmu!” timpal Abu Thalib menjawab Abu Lahab. Ayah Ali itu kemudian beralih ke Muhammad dan berkata, “berdirilah dan katakanlah apa yang akan engkau katakan. Sebarkan misi Tuhanmu, karena engkau adalah Al Amin.

Nabi pun berdiri dan berkata, “Tuhanku memerintahkanku untuk mengajak kalian agar beriman pada-Nya. Maka, siapakah yang akan mendukung misiku ini?”

Semua yang ada di ruangan seketika terdiam. Kemudian Ali berdiri dan dengan lantang berkata, “Ya Rasulullah, aku.”

Air mata Muhammad seketika tumpah membasahi pipinya. Dengan penuh gembira, sang nabi memeluk sepupunya yang masih muda itu. Tidak lama kemudian, berdirilah seluruh bani Hasyim kecuali Abu Lahab. Melihat Abu Thalib, sesepuh bani Hasyim ikut berdiri, Abu Lahab tertawa dan mengolok-oloknya.

Paman nabi yang telah mengorbankan harta dan jiwanya sejak mengasuh Muhammad kecil itu tidak bergeming. Ocehan Abu Lahab terpental dan Abu Thalib tetap setia. Dengan penuh kasih sayang, Abu Thalib berkata pada keponakannya, “laksanakan apa yang diperintahkan Allah. Demi Allah, aku akan mendukung dan melindungimu.”

 

bersambung…..

 

Edy/ ks/ islam indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *