Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 02 December 2015

SEJARAH – Mengenal Abu Thalib, Paman Nabi Muhammad (3)


خديجة

Sebagai tokoh yang selalu peduli pada permasalahan sosial, Abu Thalib juga dikenal sebagai pendiri Perserikatan Fudhul. Perserikatan ini diikuti oleh sejumlah pemimpin suku di Makkah, yang salah satu misinya melawan sistem yang dzalim. Mereka membantu orang-orang tertindas dan menghukum para penindas.

Suatu hari, sejumlah orang Makkah menyerang para peziarah Ka’bah. Setidaknya serangan itu menjatuhkan dua korban dari suku Khataam, seorang laki-laki dan seorang anak perempuannya. Salah satu dari pelaku membawa paksa anak perempuan itu hingga peziarah lainnya berteriak minta tolong.

Seseorang yang melewati peristiwa itu menyarankan untuk pergi meminta pertolongan ke Perserikatan Fudhul. Setelah sampai di tempat perserikatan dan menyampaikan apa yang terjadi, anggota Fudhul pun langsung mengambil pedang dan mengejar para pelaku. Berselang beberapa waktu kemudian, anggota Fudhul kembali ke para peziarah dengan membawa anak perempuan yang diculik dalam keadaan selamat.

Meski berasal dari keluarga besar, Abu Thalib selalu membantu orang-orang miskin. Sedemikian sehingga, ia pun menjadi miskin. Ketika beranjak sebagai sosok pemuda, Muhammad mulai banyak membantu pamannya berdagang. Ketika Khadijah mengumumkan lowongan kerja sebagai agen kafilah dagangnya, Muhammad memutuskan untuk mendaftar.

Meski belum punya banyak pengalaman, keputusan Muhammad didukung oleh pamannya Abu Thalib. Hal ini disebabkan Abu Thalib tidak pernah meragukan integritas keponakannya itu. Singkat kisah, Muhammad berhasil kembali dari Syam dengan keuntungan besar yang tidak pernah diperoleh  Khadijah sebelumnya.

Nama Muhammad sebagai pemuda yang dijuluki masyarakat ‘Al Amin’ (yang terpercaya) memang tidak asing di telinga perempuan terkaya di Makkah ini. Namun ketika ia mendapat laporan tentang bagaimana Muhammad bekerja selama memimpin kafilah dangannya, Khadijah pun jatuh cinta padanya. Ketika ditawarkan menikah dengan perempuan yang dikenal Ratu Makkah ini, Muhammad berkonsultasi ke pamannya Abu Thalib.

Abu Thalib mengenal betul Muhammad, begitu juga dengan Khadijah, perempuan yang dikenal baik, penyantun fakir miskin dan pengikut setia ajaran Tauhid Nabi Ibrahim. Kedua paman Muhammad, Abu Thalib dan Hamzah bin Abdul Muthalib beserta sejumlah bani Hasyim datang melamar ke keluarga Khadijah.

Kedua pihak akhirnya sepakat dengan pernikahan Muhammad dan Khadijah. Abu Thalib, yang selama ini mengasuh Muhammad sejak kecil, merasa haru dan sangat bahagia dengan keputusan itu. Abu Thalib pun berkata, “segala puji bagi Allah yang menjadikan kami putra-putri Ibrahim dan Ismail, yang membuat rumah perlindungan dan tempat suci yang aman (Ka’bah), dan membuat negeri kita diberkahi.”

Sang paman yang sangat mencintai Muhammad itu melanjutkan, “keponakanku Muhammad bin Abdullah adalah orang terbaik dan terbesar di seluruh kaum Quraisy. Di samping itu, ia lebih baik daripada harta, karena harta bisa habis. Muhammad menyukai Khadijah dan Khadijah pun menyukai beliau. Demi Allah, Muhammad akan menjadi orang penting. Mahar Khadijah dari uangku.”

Teka teki yang lama beredar di masyarakat Makkah tentang siapakah pria yang pantas menikahi perempuan kaya dan baik hati itu akhirnya terjawab. Kedua pasangan serasi itu pun melangsungkan pernikahan. Tidak lama setelah pernikahan itu, istri Abu Thalib melahirkan putra yang kelak dikenal dunia sebagai Ali bin Abi Thalib. Untuk mengurangi beban pamannya, Muhammad membawa Ali ke rumahnya dan diasuh sebagaimana anaknya sendiri.

bersambung

 

Edy/ ks/ Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *