Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 21 October 2018

“Sebab Umat Islam Terpuruk Bukan dari Luar Islam”


Screenshot (65)

islamindonesia.id – “Sebab Umat Islam Terpuruk Bukan dari Luar Islam”

 

 

Habib Ahmad bin Novel bin Jindan menyesalkan sikap umat Islam Indonesia yang mencurahkan seluruh pikiran dan raganya hanya untuk perebutan kekuasaan seperti Pemilihan Presiden 2019. Sedemikian besarnya konsentrasi umat pada calon presidennya masing-masing sehingga melebihi perhatiannya pada ajaran agama seperti berbuat baik dan meninggalkan amal buruk.

“Hal yang lebih kita takutin justru: siapa yang naik (menjadi presiden) dan siapa yang turun,” kata Habib Ahmad dalam kajian yang disiarkan kanal Youtube Al Fachriayah, 2 Oktober. Adapun terkait menjaga kemuliaan akhlak yang justru ditekankan berkali-kali dalam Al-Qur’an tidak lagi diperhatikan termasuk dalam politik.

Tak heran jika umat Islam saat ini terpuruk dalam berbagai bidang. Namun yang menghinakan Muslimin, kata Habib Ahmad, bukan dari luar Islam tapi umat Islam sendiri. “Mereka sendiri meninggalakan Islam dan Allah menghinakan mereka,” ujar pria jebolan Darul Mushthofa Tarim Hadramaut ini.

Padahal Sayidina Umar bin Khattab, kata Habib Ahmad, telah menegaskan bahwa umat sejatinya dapat meraih kemuliaan dengan menjalankan ajaran Islam. Namun sayangnya, umat hanya mencukupkan dirinya dengan simbol dan pakaian agama.

“Kemuliaan tidak didapat dengan embel-emebel dan atribut Islam,” katanya. Tapi dengan berserah secara mutlak kepada Allah sebagaimana makna hakiki Islam. Bersearah diri berarti tunduk dan patuh kepada-Nya.

Di akhirat kelak, seperti disampaikan dalam ragam ayat Al-Qur’an, setiap orang akan menerima catatan amalannya masing-masing. Ada yang menerima dengan tangan kanannya, adapula dengan tangan kirinya. Ada juga yang menerima dengan tangan kiri dari belakang.

“Adapun yang selamat (di hari kebangkitan) ialah mereka yang menerima dengan tangan kananannya,” kata murid Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz ini.

Sebagai orang yang beriman pada hari kiamat, tentunya ia harus mempersiapkan dirinya. Sementara tiada orang yang dapat memastikan dirinya dapat menerima catatan amalnya dengan tangan kanan.

“Tapi saya mau tanya, siapa sekarang yang pusing memikirkan tentang nasib dirinya di hari kiamat?”

Jika seorang tidak memiliki perhatian pada nasibnya di hari kiamat, menurut Habib Ahmad, bagaimana ia dapat dikatakan beriman pada hari kiamat. Bagaimana dia dapat mengklaim dirinya meminta pertolongan kepada Allah padahal tindakannya tidak mencerminkan iman kepada janji Allah di hari kebangkitan.

 

 

 

YS/Islamindonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *