Satu Islam Untuk Semua

Monday, 09 January 2017

Resmikan Pendirian Pura di Sekolah Inklusif, Buya Syafii: Pendidikan Toleran itu Tunas Peradaban


resmikan-pendirian-pura-di-sekolah-inklusif-buya-syafii-pendidikan-toleran-itu-tunas-peradaban

islamindonesia.id – Resmikan Pendirian Pura di Sekolah Inklusif, Buya Syafii: Pendidikan Toleran itu Tunas Peradaban

 

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafii Maarif, atau yang akrab disapa Buya Syafii pada Sabtu (7/1/2017) meresmikan pembangunan sebuah pura di Yayasan Perguruan Iskandar Muda, Medan, Sumatera Utara.

Pura yang baru diresmikan itu berdiri diapit sebuah vihara dan masjid yang sudah terlebih dahulu berdiri di samping sebuah gereja.

“Sekolah yang toleran itu adalah tunas peradaban. Intoleransi simbol kebiadaban. Toleransi inti keberadaban,” kata Buya Syafii dalam sambutannya.

“Ini perlu ditegaskan di saat kita sekarang dirundung intoleransi dan kebencian, tidak hanya di Indonesia tetapi juga fenomena global. Dunia pendidikan harus melek terhadap ancaman ini,” lanjut Buya.

Sementara itu, Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Muhadjir Effendy yang hadir dalam peresmian itu mengatakan, toleransi dan kerukunan adalah dua hal yang tak terpisah dalam budaya gotong royong.

Muhadjir kemudian memberikan kisah Nabi Muhammad tentang nilai-nilai toleransi di hadapan para siswa perguruan itu.

“Ratusan tahun lalu saat batu Hajar Aswad di Ka’bah terseret hanyut oleh banjir besar, kepala suku sempat berselisih mengenai siapa yang paling berhak mengembalikan ke tempat asalnya. Akhirnya, mereka bermusyawarah dan bersepakat bahwa seorang pemuda bernama Muhammad yang akan ditunjuk,” kata Muhadjir.

“Namun Muhammad, yang kelak diangkat sebagai Nabi, meminta perwakilan para suku untuk memegang ujung surbannya yang dipakai memindahkan Hajar Aswad tersebut. Kisah ini jelas pesannya, gotong royong tumbuh karena ada kerukunan dan toleransi,” tambah Muhadjir.

Sehingga, Muhadjir melanjutkan, dia sangat menghargai upaya Yayasan Perguruan Iskandar Muda merintis lembaga pendidikan yang berbasis gotong royong dan toleransi.

“Merintis dan membesarkan lembaga pendidikan itu tidak mudah, apalagi sekolah yang dibangunnya atas dasar budaya gotong royong dan merangkul kemajemukan. Membangun sekolah dari dana patungan,” kata Muhadjir.

Sehingga, lanjut dia, sangat layak jika Yayasan Perguruan Iskandar Muda ini mendapatkan penghargaan bergengsi semacam MAARIF Award.

Yayasan Pendidikan Iskandar Muda meraih penghargaan MAARIF Award pada 2014.

Lembaga pendidikan ini memiliki ciri menyemaikan nilai-nilai toleransi dan penghargaan terhadap kebhinnekaan dengan berpijak pada pendidikan inklusif.

Siswa sekolah ini memiliki latar belakang yang sangat beragam dan keragaman itu difasilitasi dengan baik oleh manajemen sekolah.

Salah satu contoh nyata terfasilitasinya keragaman itu adalah tersedianya rumah ibadah semua agama yang diakui pemerintah di dekat kompleks sekolah.

Menurut situs resminya, Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda didirikan pada 25 Agustus 1987 oleh dr Sofyan Tan, pria keturunan Tionghoa asal Desa Sunggal, Medan, Sumatera Utara.

Setelah hampir 30 tahun berdiri, sekolah ini sudah menjadi lembaga pendidikan yang mapan dan ternama dengan dilengkapi berbagai fasilitas penunjang yang sangat memadai.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *