Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 04 September 2016

RESENSI – Politik Islam Minus Teologi


turkey-coup-1

IslamIndonesia.id – RESENSI — Politik Islam Minus Teologi

10357453_10152355726007839_576641636837934454_n

Oleh: Hertasning Ichlas

Buku “Islamic Populism in Indonesia and Middle East” adalah sebuah ikhtiar bagus untuk melengkapi pelbagai kekurangan atau pertanyaan-pertanyaan tak terjawab dalam studi politik Islam yang ada.

Buku ini merupakan komparasi atas formasi politik Islam di 3 negara: Indonesia, Mesir dan Turki. Ini merupakan buku terbaru yang ditulis dengan gaya novel oleh intelektual asal Indonesia, Vedi R Hadiz. Terlihat jelas di dalam bukunya bagaimana Vedi ingin menjelaskan daya tahan hidup dan evolusi politik Islam di 3 negara dengan menggunakan pendekatan ekonomi politik.

Pendekatan yang digunakan sesungguhnya agak tidak lazim dilakukan dibandingkan dengan penelitian politik Islam yang ada dan berkembang, yang menurut penulisnya, sering terlalu bertumpu pada aspek teologi, isu terorisme serta keamanan seraya mengabaikan spektrum ekonomi politik dan motivasi kapital.

Vedi R. Hadiz, yang sekarang menjadi guru besar di Asian Institute di Universitas Melbourne, menjelaskan trajektori politik Islam di 3 negara dan menguji serta berusaha membandingkan mengapa politik Islam di 3 negara itu berbeda. Kemudian faktor lingkungan ekonomi politik apa yang mereka hadapi. Apa yang disebut Vedi kemudian sebagai menguatnya pamor lingkungan kapitalis neoliberal di 3 negara itu.

Saat membahas Turki, Vedi menyebut di Turki, apa yang disebut “social agents” telah berhasil menguasai negara, setelah melalui serangkaian ujian-ujian dari militer dan politik Kemalisasi. Meskipun penguasaan politik Islam oleh AKP di Turki mengalami adaptasi penguasaan yang tidak bisa dibayangkan seperti cita-cita politik Islam di tahun 70-an

Elemen politik Islam di Turki menurut Vedi, kini tidak lagi secara militan menginginkan negara Islam. Mereka dari partai Islam berkuasa, misalnya, telah sedemikian setuju dengan bentuk negara yang sudah ada di Turki dan pola-pola demokrasi bahkan setuju dan menjadi bagian kuat dari nexus ekonomi kapitalisme neo-liberal.

Sementara di Mesir, terjadi suatu trajektori politik Islam yang berbeda. Setelah mengalami penindasan yang mirip dengan Indonesia misalnya, kolonialisasi, ideologi perang dingin, kontestasi pembangunan, Ikhwanul Muslimin justru berhasil menguasai civil society dan menjadi kekuatan oposisi politik yang paling terorganisir di Mesir. Tapi Ikhwan di saat itu pula tidak cukup berhasil menguasai negara. Bahkan ketika menguasai negara, usianya hanya sebentar saja, dengan pukulan balik yang justru sangat mematikan bagi eksistensi Ikhwanul Muslimin.

Ketiga, Vedi menguji trajektori politik Islam di Indonesia, sejak zaman kolonial, pascakolonial dan mempertimbangkan perkembangan kapitalisme dan neoliberalisme di Indonesia. Vedi melihat ketika Islam terpinggirkan di Indonesia dan kemudian menjadi kekuataan oposisi yang menguat di era reformasi, tetapi politik Islam tidak pernah benar-benar menjadi kekuatan civil society apalagi menguasai negara. Berbeda dengan Turki dan Mesir, sirkulasi elit borjuasi Islam juga mengalami stagnasi di Indonesia. Beberapa elit yang bertahan merupakan hasil dari kroni Soeharto dengan model “crony dan ersatz capitalism” seperti ditulis sangat bagus oleh Kunio Yoshihara.

Di dalam bukunya, Vedi menggunakan pendekatan komparatif, historis dan struktural. Dia melihat perkembangan politik Islam tidak berdiri sendiri secara politik. Tetapi merupakan perkembangan dari kontestasi sosial ekonomi politik secara luas dan global. Vedi melihat bagaimana politik Islam dibentuk oleh lingkungan yang lebih luas sehingga strategi dan pikiran politik Islam yang dipilih pun mengalami adaptasi-adaptasi untuk merespons lingkungan dan tantangan-tantangan lebih luas.

Konsep populisme Islam yang ditulis oleh Vedi adalah upaya kritik atau tepatnya memberikan basis material terhadap pandangan populisme Ernesto Laclau yang sangat terkenal dan berpengaruh dalam karyanya “On Populist Reason”.

Laclau menyajikan populisme sebagai suatu diskursus ketika suatu ide dapat menyatukan kepentingan-kepentingan yang berbeda di dalam masyarakat.

Menurut Vedi, Islam dan populisme adalah varian di dalam populisme. Populisme sendiri adalah sebentuk gerakan atau aliansi dari multi-kelas yang asimetris. Maksudnya, meskipun terdapat aliansi tetapi sesungguhnya artikulasi di dalam aliansi itu sangat terbatas. Bergantung kepada kekuatan kelas mana yang dominan di dalam aliansi itu.

Vedi menambahkan bagaimana diskursus populisme itu dibentuk oleh apa yang dia sebut sebagai shifting basis of social support yang berbeda. Dukungan kelas tertentu selalu melahirkan kepentingan, aliansi sosial dan artikulasi politik tertentu yang berbeda-beda.

Misalnya di dalam politik Islam di 3 negara itu, menurut Vedi, agen-agennya cenderung berasal dari kelas borjuasi. Seperti kelompok Sarekat Islam di Indonesia atau kelas elit borjuasi provinsi di Turki.

Vedi meneliti bagaimana Islam oleh AKP dikelola menjadi simbol untuk menyatukan borjuasi besar dari provinsi-provinsi untuk menyingkirkan kaum elit Kemalis di Turki. Di dalam simbol itu ada bisnis besar terutama proyek pemerintah, kelas menengah terdidik hasil dari modernisasi dan lumpen proletar di kota yang kehilangan jati diri.

Partai AKP dan organisasinya di Turki dijalankan oleh kelas menengah, dengan uang yang bersumber dari borjuasinya. Strategi untuk merekatkan orang-orang bawah atau lumpen proletar di Turki dilakukan dengan cara memberikan semacam sedekah dan charity. Pilihan sedekah dan bukan subsidi anggaran negara yang berkelanjutan ini dilakukan karena politik Islam di Turki terkenal sangat kapitalis neoliberal.

Di Mesir juga terjadi seperti AKP, tapi tidak sebesar di Turki karena mereka baru bisa berkembang di tahun 90-an. Namun menurut Vedi, jelas ada pengakuan dari kelompok Ikhwan bahwa Islam di Mesir persis digunakan oleh kelompok Ikhwan seperti di Turki untuk menjadi simbol politik menyingkirkan elit dominan dari militer berkuasa.

Satu hal yang disayangkan dari buku Vedi, adalah kekurangan konseptual dalam menjawab motivasi ide dan tafsir doktrim keagamaan. Apakah pilihan-pilihan adaptasi yang kerap mencolok di 3 negara itu semata-mata datang dari perubahan relasi ekonomi politik dan mobilisasi kapital, atau pula datang dari peran ide-ide dan tafsir teologis yang juga berubah. Misalnya dari suatu aspek penghayatan Islam ortodoks yang berkembang menjadi lebih politis dan pragmatis. Selain pula pentingnya untuk memberi latar belakang yang cukup apakah studi Vedi R. Hadiz di 3 negara ini sebenarnya sedang berbicara Islam politik ala teologi Sunni atau sesuatu yang lebih heterodoks dan kompleks yang tetap bisa dijelaskan motivasinya dalam spektrum ekonomi politik.

9781316402382i

Buku: Islamic Populism in Indonesia and Middle East
Penulis: Vedi R, Hadiz
Penerbit: Cambridge University
Terbit: Februari 2016. []

 

 

YS/IslamIndonesia

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *