Satu Islam Untuk Semua

Monday, 16 November 2015

REPORTASE – Asyura di Tanah Mullah


Arx-Eolj3ovzoCrCEXUnhOmYhauyIcuGNoU7eTw0PZJx

Laporan pandangan mata peringatan Asyura di Mashad, Iran.

Hertasning Ichlas*


LANGIT kota Mashad, Iran, masih separo temaram saat saya keluar dari hotel kira-kira pukul 4 pagi dengan tubuh sedikit menggigil. Suhu udara sekitar 9 derajat Celsius.

Subuh itu saya melangkah cepat menuju haram Imam Ridha. Jadwal salat subuh tercatat pukul 04.16. Burung-burung gagak berarak mendekati atap langit bangunan kawasan haram Imam Ridha disertai ciutan-ciutan yang begitu parau.

Haram istilah untuk menyebut situs pekuburan yang juga disertai masjid dan begitu banyak fasilitas lain untuk para peziarah. Imam Ridha adalah imam ke-8 dari 12 imam yang dipercayai muslim Syiah.

Imam Ridha satu-satunya imam Syiah yang makamnya terpisah jauh dari makam 11 imam-imam lain yang umumnya berada di Irak dan Madinah. Meski terpisah, tapi kesendiriannya telah memanggil kehadiran 5 juta lebih peziarah asing setiap tahun.

Menurut sejarah, Imam Ridha dijebak penguasa Ma’mun Al Abasi untuk datang ke tanah Persia, persisnya kini disebut Mashad, kota suci di Iran selain kota Qom, dan kota berpenduduk terbesar nomor dua di Iran, yang saat itu menjadi bagian wilayah kekuasaan Ma’mun.

Aj2RHSQzrL8LO8YoRNrsdWFE5szxnJ3g5_IsZUW7uaSbUndangan Ma’mun itu sebenarnya sangat politis untuk menjauhkan pengaruh dan wibawa Imam Ridha dari murid dan pengikutnya yang semakin besar di Irak, Madinah dan sekitarnya. Sebelum tiba di Mashad, Imam Ridha, seperti Imam lainnya menurut sejarah, telah menjalani pengucilan dan prosekusi panjang dari kekuasan Bani Abbas.

Di tanah Persia itulah Imam Ridha menjalani sisa hidupnya sampai kemudian tewas diracun oleh Ma’mun dan dimakamkan di sana. Semenjak itu kota Mashad semerbak harum jutaan bunga peziarah dan menjadi episentrum spiritual muslim Syiah dan Sunni karena makam Imam Ridha.

Hotel tempat saya menginap tak seberapa jauh dari lokasi haram. Sekitar 5 menit berjalan kaki. Perjalanan menuju haram, dari aspek luas, mirip perjalanan menuju medan lapangan Tiananmen di Tiongkok atau Naqsh-e Jehaaan (Meidan Emam) di Isfahan. Dua medan itu terkenal sebagai taman terbesar di dunia. Begitu juga kawasan haram Imam Ridha.

Hari ini hari istimewa karena bertepatan dengan peringatan Asyura, yang dalam bahasa Arab berarti ke-10. Mulai dari 1 Muharram, warga Iran dan dunia memperingati perkabungan monumental peristiwa Asyura dengan pelbagai macam aktivitas seperti ceramah, doa ziarah, hingga turun ke jalan mengekspresikan duka dan kecintaan pada Imam Husain.

Pada tanggal 10 Muharram seluruh umat Islam, khususnya muslim Syiah memperingati syahadah cucu Nabi Husain bin Ali, sekaligus imam ketiga dalam keyakinan Syiah.

Imam Husain gugur bersama keluarga dan pengikut setianya di sebuah daerah bernama Karbala pada 61 Hijriah atau 680 Masehi, karena mempertahankan prinsip-prinsip kemuliaan Islam dan keadilan yang daripada tunduk berbaiat pada penguasa lalim yang menyelewengkan nilai-nilai ajaran kakeknya Rasulullah.

Bagi muslim Syiah, mungkin pula muslim Sunni yang mengkaji sejarah, peristiwa Karbala tak bisa direduksi menjadi persoalan politik kekuasaan. Lebih besar dari sekadar itu, menurut mereka, peristiwa Karbala adalah peristiwa penentu keberlangsungan ajaran Islam yang dibawa Rasulullah.

Pilihan di tanah Karbala dari penguasa Yazid saat itu hanya dua: Imam Husain ikut dan tunduk kepada penguasa atau dibantai.   

Peristiwa itu dikenang sebagai syahadah besar dalam tradisi Syiah. Di Indonesia, masyarakat secara budaya turut mengenang peristiwa ini, menyebut di antaranya seperti kita lihat pada tradisi Tabuik, Tabot, dan Bubur Syuro. Tradisi di Nahdlatul Ulama juga punya kidung elegi bagi keluarga Nabi, termasuk Imam Husain.

Dalam perjalanan ke haram, saya melihat orang-orang umumnya berpakaian hitam, berjalan bergegas masuk ke lokasi haram yang di dalamnya juga tersedia masjid dan ruang ibadah lainnya.

Pintu pertama menuju haram yang saya masuki begitu megah dengan altar tinggi menjulang. Ornamen-ornamen keramik, kristal, marmer, dan batu granit mendominasi setiap dinding. Kubah emas masjid Imam Ridha berkelip diterpa angin subuh dan pendar cahaya langit yang juga keemasan.

Seterusnya melewati pintu demi pintu menuju lokasi haram, saya menyaksikan pameran keindahan arsitektur Persia. Orang Persia punya selera tinggi dalam seni dan aristektur, terutama ekspresi itu diwujudkan pada tempat-tempat penting dan makam-makam yang dianggap suci dan mulia, seperti di makam Imam Ridha.

Situasi di dalam haram begitu sibuk dan ramai, padahal masih pagi buta. Hari ini dari hari-hari sebelumnya begitu terlihat berbeda. Orang tampak lebih banyak. Rombongan-rombongan dari luar kota dan luar negeri kabarnya telah memasuki haram untuk memperingati Asyura.

Saya melihat banyak orang membaca Alquran. Sebagian lain menunaikan salat dan membaca doa ziarah. Selesai melakukan itu semua, mereka bergegas menuju lokasi makam Imam Ridha.

Sesampai di makam, para peziarah berbaris cukup teratur mendekati pagar makam. Air mata mereka tumpah di depan pagar makam seraya menyentuh dan mengusap-usap pagar makam yang berbentuk seperti kubus.

Mulut peziarah melantunkan doa, menyampaikan hajat, rindu, dan keharuan seperti sedang bertemu fisik dengan Imam Ridha. Tradisi Syiah terkenal sangat kuat dengan ziarah kubur sebagai bagian dari kontak spiritual.

Para peziarah itu meyakini imam mereka mendengar, menolong, memberi tahu jalan keluar, dan melegakan kehampaan spiritual mereka di tengah hidup yang pengap dan kompetitif.

Pakaian peziarah rata-rata hitam karena menyambut duka peringatan Asyura di hari itu. Tak lama berselang azan subuh menggema di dalam haram. Saking banyaknya peziarah yang datang, digelar begitu banyak tempat salat berjamaah di dalam haram. Saya memilih lokasi salat berdekatan dengan makam Imam Ridha.

Usai salat subuh, imam salat berdiri menyampaikan semacam kultum. Dia menyampaikan pentingnya salat berjamaah dan kisah detik-detik syahadah Imam Husain di Karbala. Sebagian peserta salat menangis mendengarnya. Tak lama berselang orang-orang bangkit dan sebagian memilih membaca Alquran di pojok-pojok ruang-ruang lega dan nyaman di dalam haram. Suasana terasa begitu spiritual dan khusyuk.

Saya memilih mengamati hiruk-pikuk di sekitar haram, kemudian keluar ke area pelataran. Informasi yang saya dapat, peringatan dan parade Asyura di jalan-jalan dimulai sejak subuh. Kurang dari 10 menit mengitari pelataran luar haram, saya menemukan parade itu. Dari jalan-jalan raya tampak rombongan-rombongan manusia rata-rata berpakaian hitam berbaris membentuk kelompok dan berjalan dari jalan raya menuju haram.

“Husain, engkau di mana wahai Imam? Kami mencarimu sampai Karbala.”

Begitu kira-kira semacam nyanyian yang dilantunkan bersama-sama dengan suara nyaring tetapi rapi. Sambil bernyanyi dengan bersemangat, mereka memainkan tangan menepuk dada secara ritmis. Satu rombongan masuk haram, disusul rombongan berikutnya, lengkap dengan nyanyian mars dan beragam koreografi. Mereka masuk haram untuk mendengar ceramah Asyura dan membaca doa ziarah.

Jam baru pukul 04.45 tetapi jalan-jalan raya sekitar haram di kota Mashad sudah ramai dipenuhi para peziarah dan mereka yang ingin memperingati Asyura.

Toko-toko di Mashad tutup saat Asyura. Mereka semuanya turut memperingati perayaan Asyura. Kalaupun mereka memasak atau membuat minuman, itu untuk dibagikan pada peserta parade peringatan Asyura. Menurut tradisi, semua orang ingin berkhidmat pada Imam Husain di hari ini.

Semakin siang parade makin ramai dan warna-warna hitam terlihat menutupi seluruh jalan-jalan utama kota Mashad. Saya turut berkeliling melihat macam rupa kegiatan Asyura di jalan raya.

Ada satu kelompok mendengar ceramah, ada yang bernyanyi mengenang Imam Husain, ada yang menari syahdu menggunakan sejumlah alat seraya menyebut Imam Husain seperti hendak merasakan penderitaan dan kepedihan peristiwa Karbala.

Ada pula yang membaca cerita, semacam kilas balik epiknya peristiwa Karbala didengar oleh ratusan orang. Semuanya berjalan menyusuri jalan raya menuju haram Imam Ridha menuju puncak acara sekitar pukul 2 siang.

Pelbagai kelompok bertemu dan bergabung dengan kelompok lain. Sekitar pukul 11.00 massa di jalan yang memperingati Asyura sudah  tumpah ruah menguasai seluruh jalan. Polisi bersiaga mengatur arus parade dengan santai seperti sudah terbiasa. Setiap rombongan berjalan teratur tanpa ada masalah.

Hari itu saya meyaksikan bagaimana peringatan Asyura telah menjadi budaya rakyat di Iran. Lelaki, perempuan, tua muda, anak-anak, si kaya dan papa lebur dalam indentitas yang sama sebagai pecinta. Mereka berbaur turun di jalan-jalan kota Mashad memanggil-manggil Imam Husain, larut dalam cinta dan perasaan kehilangan disertai lantunan doa-doa.

*wartawan, tinggal di Jakarta. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *