Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 30 August 2016

RENUNGAN–Setan di Kepala Robles


Qamishili

Islamindonesia.id–Setan di Kepala Robles

Dalam literatur Islam, setan adalah korban daya khayal terbesar. Bahkan, ahli-ahli makrifat menyebut setan sebagai sumber waham itu sendiri. Ia membangkang saat Allah SWT memintanya sujud ke Nabi Adam yang diciptakan “dari tanah” lantaran menyangka bahwa api, asal-usulnya, lebih unggul dari tanah. Padahal, keunggulan api atas tanah itu hanyalah waham yang timbul dalam khayalan setan. Dia tertipu oleh wahamnya sendiri.

Dalam diri manusia, sebenarnya, ketertipuan seperti itu akan menjebak siapa saja yang tidak realistis, sering berilusi dan berwaham.

Kisah Richard Robles di Amerika bisa jadi bahan renungan.

Pada Agustus 1963, tepat ketika Pendeta Martin Luther King, Jr. menyampaikan pidato “I Have a Dream” di hadapan pawai hak-hak asasi manusia di Washington, dia tengah merencanakan sebuah pencurian di kawasan elit New York. Pencurian terakhir, katanya berjanji pada dirinya sendiri. Dia kapok, pernah merasakan sendiri terungku tiga tahun dari 100 kali tertangkap dalam perampokan. Dia tak ingin tertangkap. Ini yang terakhir, katanya berjanji sekali lagi.

Apartemen yang didobraknya hari itu adalah milik dua wanita muda, Janice Wylie yang berusia 21 tahun, seorang peneliti di Majalah Newsweek, dan Emily Hoffert yang berusia 23 tahun, seorang guru sekolah dasar. Meskipun Robles telah memilih apartemen yang akan dirampoknya di wilayah mewah New York, Upper East Side, karena dipikirnya tidak akan ada orang di situ, ternyata Wylie ada di rumah. Seraya mengancamnya dengan sebilah pisau, Robles mengikat gadis itu. Tepat ketika dia akan kabur, Hoffert pulang. Untuk mengamankan pelariannya, Robles akhirnya harus pula mengikat Hoffert.

Ketika Robles menyampaikan kisah ini bertahun-tahun kemudian, dia mengatakan bahwa sementara dia sedang mengikat Hoffert, Janice Waylie mengingatkannya bahwa Robles tidak akan dapat lolos begitu saja: gadis itu akan mengingat wajahnya dan menolong polisi melacaknya.

Robles panik. Dalam kekalutan, dia meraih sebuah botol soda dan memukul gadis-gadis itu sampai pingsan. Kemarahannya ikut memuncak. Dia menyayat dan menikam gadis-gadis itu berulang kali dengan pisau dapur. “Saya bingung sekali,” kata Robles setelah 25 tahun berlalu. “Kepala saya serasa meledak. Saya merasa menjadi setan.”

Apa yang terjadi pada Robles di hari naas itu sebenarnya dapat terjadi pada siapa saja yang terserang waham. Waham, atau setan dalam bahasa agama, menyerang siapa saja yang berniat berbuat jahat, dengan membayangkan bahwa kejahatan itu akan mendatangkan kenikmatan dan berujung dengan kesenangan. Padahal, dalam kenyataannya, tidak ada kejahatan yang dapat menimbulkan kesenangan kecuali jika kita juga percaya bahwa air (atau api) bisa menimbulkan efek mengeringkan.

AJ/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *