Satu Islam Untuk Semua

Friday, 05 August 2016

RENUNGAN JUM’AT–Al-Qur’an Mukjizat Abadi


alqur'an-edited

Islamindonesia.id— Al-Qur’an Mukjizat Abadi

﴿وَإِنْ كُنْتُمْ فِى رَيْب مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُواْ بِسُورَة مِّنْ مِّثْلِهِ وَادْعُواْ شُهَدَآءَكُمْ مِّن دُونِ اللهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ﴾
Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. (QS. Al-Baqarah [2]: 23)

Ayat di atas ditujukan kepada orang-orang kafir dan munafik yang menentang firman Tuhan dan tidak memahami hakikat kenabian.

Ayat yang sedang kita bahas ini menegaskan mukjizat abadi Al-Qur’an. Tujuannya adalah untuk menepis segala keraguan dan kebingungan terhadap risalah Nabi Muhammad Saw. Bukankah pada awal surah Al-Baqarah telah disebutkan bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang tiada keraguan di dalamnya?

Ayat tersebut menyatakan, “Jika kalian berada dalam keragu-raguan atas yang Kami turunkan atas hamba Kami (Muhammad Saw), maka datangkanlah satu surah saja yang serupa.”

Dengan kalimat tersebut, Al-Qur’an mengajukan tantangan kepada siapa saja yang mengingkari ayat-ayat-Nya agar membuat satu surah yang menyerupainya. Tantangan ini melemahkan (mu’jiz) mereka dan menunjukkan orisinalitas Al-Qur’an sebagai wahyu Tuhan dan risalah kenabian Muhammad Saw.

Untuk mempertegas tantangan ini, Al-Qur’an juga mengajak siapa saja yang mengingkarinya untuk menyeru saksi-saksi selain Allah, jika memang mereka orang yang benar.

Kata Syuhada’ di dalam ayat ini merujuk kepada kelompok pendukung mereka dalam penolakan terhadap risalah kenabian Muhammad Saw. Sedangkan ungkapan ‘selain Allah’ merupakan isyarat untuk melemahkan semua manusia memiliki kemampuan dalam membuat surah Al-Qur’an. Dalam ayat lain disebutkan pula, “Sekalipun mereka saling bahu membahu (untuk membuatnya).” (QS. Al-Isra [17]: 88)

Adapun ungkapan “Jika kalian adalah orang-orang yang benar” bertujuan untuk mengajak mereka agar menerima tantangan ini. Ungkapan ini menyimpan makna, “Jika kalian tidak mampu melakukannya, maka itu merupakan dalil yang kuat atas kedustaan kalian. Dengan demikian sirnalah asumsi dan arogansi kalian.”

Sifat suatu tantangan adalah menyerukan hingga ke batas maksimal agar sejauh mungkin menggetarkan musuh. Dengan kata lain, tantangan akan memicu adrenalin yang mendengarnya.

Ketika yang mendengarnya mengerahkan segala kemampuan untuk memenangkan tantangan namun tidak berhasil, maka serta merta dia akan yakin dengan kelemahannya lalu bertekuk lutut. Dengan demikian, dia akan menyadari bahwa Al-Qur’an yang dihadapinya adalah mukjizat Tuhan bukan manusia.

 

Tom/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *