Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 30 April 2016

RENUNGAN–Abdillah Toha: Tentang Umur Manusia


9b0e34589afce0f12dc64c94efe87259

Islamindonesia.id–Tentang Umur Manusia
Kemarin hari ulang tahunku. Dihitung sejak hari aku dilahirkan ke bumi ini. Dari rahim ibu tercinta yang sudah mendahuluiku. Aku bersyukur atas karunia nikmat dari Allah yang melebihi kebutuhanku.

Orang bisa saja mengatakan makin lama makin bertambah usiaku. Karena umur dihitung sebagai deret tambah sejak lahir. Tapi bisa juga begini melihatnya. Makin tua makin berkurang usiaku bila dihitung dari tanggal kematianku. Hanya saja tanggal kematianku adalah rahasia Allah. Andai aku tahu tanggal kematianku, maka jika ditanya berapa umurku, akan kujawab minus sepuluh, minus lima tahun atau lainnya. Dengan demikian, seorang yang berumur 40 tahun bisa lebih tua dari yang berumur 50 tahun bila yang “muda” lebih dekat kepada kematiannya.

Kita sering mendengar tentang tradisi peringatan Haul bagi ulama dan orang-orang terpandang dalam komunitas Muslim. Haul adalah hari ulang tahun kematian. Haul diperingati setiap tahun dengan mengulang ingatan kita tentang riwayat kebaikan para salihin yang diperingati dengan harapan yang hidup dapat meneladaninya. Haul, bukan hari lahir, diperingati karena bagi Muslim sejati hari kematian dianggap lebih penting daripada hari kelahiran. Ada berbagai alasan.

Pertama, kaum salihin berpandangan bahwa kehidupan sejati adalah kehidupan setelah mati. Ketika itu kita seperti dibangunkan dari tidur. Kehidupan di bumi ini adalah sekadar mimpi dalam tidur kita. Hari kematian sejatinya adalah hari lahir yang sebenarnya.

Pada saat itu terbukalah semua yang tadinya tertutup dan tak tertangkap oleh indra kita. Allah mewahyukan dalam al-Qur’an “laqod kunta fi ghoflatin min hadza faksyafna ‘anka ghitho-aka fabashorukal-yauma hadid”. Artinya: “Sungguh, kamu dahulu lalai tentang (peristiwa) ini, maka Kami singkapkan tutup (yang menutupi) penglihatanmu, sehingga penglihatanmu pada hari ini sangat tajam.” (QS. 50:023)

Alasan kedua, kelahiran dan kematian dalam Islam adalah sebuah proses evolusi dalam kehidupan makhluk Allah, khususnya manusia. Berbeda dengan teori evolusi Darwin, Islam mengajarkan kepada kita proses yang diawali dengan penciptaan roh manusia seluruhnya oleh Allah. Seluruh roh manusia baik yang sudah tiada, yang ada sekarang, maupun yang akan ada, dikumpulkan di sebuah alam tertentu pada awalnya dan diminta berjanji taat kepadaNya. Pada saatnya roh kemudian satu persatu ditiupkan kedalam tubuh masing-masing olehNya, dan setelah sembilan bulan dalam rahim ibu, manusia dilahirkan ke alam dunia. Pada saat lain yang telah ditentukan pula, dicabut nyawanya untuk dilahirkan kembali ke alam barzakh dan alam malakut serta alam-alam lain diatasnya.  Roh yang dititipkan ke tubuh kita kembali pulang ke pemiliknya.

Ketiga, kematian lebih penting dari kelahiran karena ketika dilahirkan semua kita sama. Namun, pada saat kematian manusia akan dibedakan dipandang dari perilaku dan amalnya saat hidup. Kematian adalah akhir dari masa bakti kita sebagai khalifah Allah di bumi. Masa menutup buku. Semua yang kita amalkan dalam kehidupan ini melekat dan tercatat dalam neraca hidup kita. Kualitas kehidupan kita yang berikut akan bergantung kepada amal kita hari ini.

Keempat, hari kematian lebih utama dari hari kelahiran karena di saat kematian lengkap dan utuhlah sudah sisi kemanusiaan kita. Saat ketika kita tak bisa lagi mengubah citra kita di hadapan Allah maupun di mata manusia. Karenanya para bijak bestari tak menyarankan kita memberi nama anak kita dengan nama orang besar yang masih hidup. Kita belum tahu apakah kehebatan dan kebaikan orang besar itu akan berlanjut sampai akhir hayatnya.  Apakah kehidupannya akan diakhiri dengan husnul khatimah? Sebuah akhir yang baik yang didambakan setiap manusia.

Bila hari kematian lebih utama dari hari kelahiran, mengapa orang memperingati maulid (hari kelahiran) Nabi Muhammad SAW dan bukan hari wafatnya? Dari berbagai riwayat tentang tanggal kelahiran dan wafatnya Rasulullah, ada riwayat kuat yang mengatakan bahwa tanggal lahir dan wafatnya Nabi Muhammad SAW sama jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awal. Karenanya, Maulid Nabi sebenarnya juga haul Nabi kita.

Umur juga berhubungan erat dengan waktu. Dan waktu bukan milik kita melainkan milik Allah semata. Bahkan Allah bersumpah demi waktu dalam kitab suci bagi mengingatkan agar kita tak lalai memanfaatkan waktu demi kebaikan. Imam Ali bin Abi Thalib mengatakan bahwa waktu bagaikan pedang. Bila kita tak memakainya untuk menebas maka pedang itu akan menebas kita.

Dalam hubungan dengan waktu, ada konsep barokah (berkah) dalam Islam yang diajarkan kepada kita. Terjemahan barokah ke dalam bahasa modern paling dekat barangkali berarti efisien dan efektif. Umur yang berkah adalah umur yang memberi hasil sebesar-besarnya berupa amalan baik dalam usia kita yang terbatas. Ini bisa dicapai dengan memanfaatkan waktu seefisien dan seefektif mungkin. Bukan sekadar dengan kerja keras tetapi juga dengan kerja cerdas yang menuntun langkah kita lebih sistematis dengan arah tujuan yang jelas.

Dalam hubungan dengan barokah dalam umur, ada dua jenis umur manusia. Umur fisik dan umur mental. Umur fisik berjalan sejajar dengan kondisi kesehatan tubuh kita sedang umur mental dengan kejiwaan kita. Umur mental tak selalu sejalan dengan umur fisik. Ada anak muda yang sudah matang jiwanya, sebaliknya ada orang berusia lanjut yang jiwanya masih kekanak-kanakan. Hidup bagaikan sebuah botol. Ada yang botolnya masih kosong dan ada yang telah hampir penuh terisi. Pengisian botol kehidupan itu bergantung kepada kematangan jiwa dan rohani kita.

Sampai disini aku bertanya, masih inginkah hari kelahiranku di bumi ini dirayakan? Atau lebih baik hari kematianku saja yang diperingati oleh orang yang masih hidup dengan mengirim doa-doa untukku?

AJ/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *