Satu Islam Untuk Semua

Friday, 30 May 2014

Rasulullah dan Pemuda


Dalam sejarah, peranan pemuda sangat  penting, karena oleh  generasi muda-lah Islam  dijaman Rasulullah menjadi berkembang pesat. Dikalangan sahabat rasulullah, yang tergolong belia dan muda pasca Rasulullah menerima wahyu adalah Saidina Abu bakar berusia 37 tahun, Saidina Umar berusia 27 tahun, Saidina Ali berusia 9 tahun, demikian juga  sahabat-sahabat Rasulullah yang lain yang ikut berjuang menyebarkan Islam di tanah Arab.   Seperti yang dilakukan Ali bin Abu Thalib RA yang turut membantu perjuangan Rasulullah sejak dakwah masih di fase Mekkah hingga Madinah. Ali selalu tampil di barisan depan dalam banyak peperangan penting, mulai dari Badar, Uhud, Khandaq, Hudaibiyah, Fathu Mekkah, Hunain dan lain sebagainya. Saidina Ali juga berani  menggantikan tempat tidur Rasulullah s.a.w semasa baginda dikepung oleh pemuda-pemuda Quraish sedangkan beliau tahu nyawanya terancam.  Etika peperangan yang diajarkan Rasulullah pun dipegang teguh oleh Ali, seperti  jangan sekali-kali balas dendam, membunuh musuh dari belakang, dan membunuh musuh yang sedang luka parah.  

Kisah pemuda dijaman Rasulullah juga tidak bisa dilupakan peran dari Zaid bin Tsabit, seorang sahabat Rasulullah s.a.w yang bergabung dengan Islam saat usianya 11 tahun ketika terjadi perang Badar. Beliau seorang sahabat belia yang  menghafal ayat dan surat yang diturunkan Allah kepada Rasulullah. Beliau adalah pemuda yang cerdas sehingga Rasulullah mengangkatnya menjadi pembantu Nabi untuk menulis wahyu yang turun dan menulis surat kepada orang Yahudi, meskipun dia masih belia.

Juga peranan pemuda yang bernama Mush’ab bin Umair (24 tahun), pemuda Quraisy tampan, anak seorang bangsawan yang gagah berani. Meskipun berkecukupan, beliau lebih memilih meninggalkan  gemerlapnya dunia, karena Mush’ab bin Umair lebih mencintai Allah SWT dan Rasulullah s.a.w dari dunia dan seisinya. Beliau juga seorang pemuda yang menjadi Duta Pertama Islam di  Madinah dan berhasil membangun masyarakat Islam di sana. Malah menjadi seorang guru pertama di Madinah dan itu dilakukan saat usianya yang masih muda.

Adalagi Kisah Abdullah bin Mas’ud, seorang sahabat yang terkenal sangat mahir dengan al-Quran, memeluk Islam berusia kira-kira 18 tahun. Beliau dengan beraninya memperdengarkan bacaan al-Quran dihadapan masyarakat kafir Quraish di sekitar Ka’Bah, sehingga beliau pulang dengan mukanya yang luka dan berdarah. Demikian juga, kisah tentang Usamah bin Zaid, panglima perang termuda kesayangan Rasulullah s.a.w. Ketika itu usianya belum pun mencapai  dua puluh tahun, tetapi mendapat  kepercayaan yang sangat tinggi daripada Baginda.

Sahabat Rasulullah lainnya dari kalangan pemuda diantaranya: Az-Zubair bin Al-Awwam, Thalhah bin Ubaidillah (11 tahun); Al Arqaam bin Abil Arqaam (12 tahun);  Abdullah bin Mazh’un (17 tahun);  Ja’far bin Abi Thalib (18 tahun); Qudaamah bin Abi Mazh’un (19 tahun); Said bin Zaid dan Shuhaib Ar Rumi (20 tahun); ‘Aamir bin Fahirah (23 tahun); Al  Miqdad bin al Aswad (24 tahun); Abdullah bin al Jahsy (25 tahun), Umar bin al Khathab (26 tahun), Abu Ubaidah Ibnu Jarrah dan  ‘Utbah bin Rabi’ah, ‘Amir bin Rabiah, Nu’aim bin Abdillah, ‘ Usman bin Mazh’un, Abu Salamah, Abdurrahman bin Auf  (30 tahun);  Ammar bin Yasir (35 tahun);  Abu Bakar Ash Shiddiq (37 tahun);  dan Hamzah bin Abdul Mutalib (42 tahun).

Di dalam Al Qur’an, Allah SWT dengan jelas menyebutkan definisi pemuda atau as syabab tersebut di dalam surat Al Kahfi ayat 13:

“Kami ceritakan kepadamu (wahai Muhammad) perihal mereka dengan benar sesungguhnya mereka itu orang-orang muda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahi mereka dengan hidayah petunjuk”.

Dalam sebuah hadis Rasululullah s.a.w bersabda:
”Aku berpesan kepadamu supaya berbuat baik kepada golongan pemuda, sesungguhnya hati mereka paling lembut. Sesungguhnya Allah telah mengutusku membawa agama Hanif ini, lalu para pemuda bergabung denganku dan orang-orang tua menentangku” (HR. Bukhari)

Allah dan Rasulullah SAW meletakkan pemuda dikedudukan yang begitu istimewa, sampai Rasulullah SAW mewasiatkan untuk berbuat baik pada golongan kaum belia ini kerana hati mereka lembut.   Karena para pemudalah yang pertama sekali bergabung dengan  Rasulullah s.a.w. mengusung agama yang hanif (Islam).

Banyak ayat al-Qur’an dan hadis Rasulullah SAW yang mengajarkan agar membina dan mengarahkan para pemuda kepada kebaikan. Karena jika mereka baik maka umat ini akan memiliki masa depan yang cerah, dan generasi tua akan digantikan dengan baik oleh generasi muda yang shaleh.

Seperti yang diriwayatkan dari Rasulullah Saw ; “Wahai pemuda Quraisy, barangsiapa yang mampu diantaramu untuk memberi nafkah, maka hendaknya ia menikah, Sesungguhnya menikah itu lebih  menutup mata dan lebih memelihata faraj. dan barangsiapa tidak mampu, hendaknya ia puasa. Sesungguhnya puasa merupakan tameng baginya (HR. Bukhari).

Tidak kalah penting adalah wasiat Rasulullah kepada para pemuda dalam hadis  yang diriwayatkan Hakim ; Jagalah lima hal sebelum datang lima hal; masa mudamu sebelum masa tuamu, kesehatanmu sebelum datang sakitmu, kayamu sebelum datang fakirmu, masa senggangmu sebelum datang masa dibukmu dan masa hidupmu sebelum datang matimu. Dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari ; Rasulullah menjanjikan 7 golongan yang mendapat naungan Allah pada hari kiamat, dimana pada hari itu tidak ada naungan selain naungan-Nya; antara lain pemuda yang hatinya terpaut masjid.

Begitu pentingnya peranan pemuda, Rasulullah juga “mewanti-wanti” kepada siapa pun (orang tua) untuk pintar dan bijaksana dalam menghadapi anak-anaknya, apalagi yang termasuk golongan muda.  Imam Abul ‘Ula al-Mubarakfuri dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi berkata: “ Dalam beberapa hadis Rasulullah SAW mengkhususkan penyebutan seorang pemuda karena usia muda adalah masa yang berpotensi besar untuk didominasi oleh nafsu syahwat, disebabkan kuatnya pen­dorong untuk mengikuti hawa nafsu pada diri seorang pemuda. Maka, dalam kondisi seperti ini untuk berkomitmen dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah tentu lebih sulit”.

Diera globalisasi seperti saat ini, tantangan menjadikan seorang anak menjadi pemuda yang saleh, taat dan tangguh, menjadi semakin berat. Salah satu langkah awal, seperti yang dianjurkan banyak ulama dan kaum intelektual, adalah dengan mengedepankan pola pendidikan (di rumah dan sekolah). Melalui kegiatan  mendidik,  orang tua dan guru dituntut untuk menjadikan anak  agar memiliki sifat-sifat yang penuh dengan kebaikan, sopan, cerdas, dan berkarakter.  Sehingga jika sudah besar nantinya, mereka bisa membedakan perilaku yang baik dan buruk, serta sebisa mungkin menghindari   perilaku yang bisa merugikan orang lain.

Hal lainnya adalah pergaulan. Untuk itu orang tua harus mengarahkan dan mengawasi anak-anaknya agar tidak salah dalam bergaul dan memilih teman. Karena perilaku pergaulan jaman sekarang semakin banyak model pergaulan  yang sudah tidak lagi mempedulikan antara halal-haram, dosa-pahala dan baik-buruk tidak menutup kemungkinan akan mempengaruhi pola hidup generasi muda, terjerumus dalam pergaulan bebas, perzinaan, tawuran, kecanduan narkoba, minuman keras dan pengaruh jelek lainnya.

Mengenai hal ini Rasulullah bersabda ; “Perumpamaan teman bergaul yang sholih dan teman bergaul yang jelek adalah sebagaimana penjual minyak wangi dan ubupan (perapian) pandai besi. Penjual minyak wangi tidak akan melewati padamu, adakalanya kamu akan membeli minyak wangi itu darinya, atau (paling tidak) kamu akan mendapatkan bau wanginya. Dan (sedangkan) pandai besi akan membakar badanmu atau pakaianmu atau (paling tidak) akan kamu dapatkan bau sangitnya.”(HR Bukhori)

Untuk mengalihkan kepada sifat-sifat buruk, anak-anak dan pemuda  perlu diarahkan kepada kegiatan yang positif dan menyibukkan diri dalam kegiatan-kegiatan positif tersebut seperti kegiatan menghadiri pengajian, komunitas hobi, sepakbola, basket, olah raga bela diri, kursus ketrampilan dan lain-lain,  sehingga  mereka terhindar dari kekosongan waktu. Karena Kekosongan waktu biasanya mendorong remaja keluar rumah dan menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang dapat menyeret dirinya kepada hal-hal yang negatif.

Peran Orang Tua
Orang Tua memiliki peran penting dalam mendidik, menjaga, mengawasi, komunikasi efektif tumbuh kembang anak di era globalisasi dan modernisasi ini.Dengan maraknya korupsi, kejahatan, kekerasan dan pergaulan bebas, maka mendidik anak hanya agar sekedar pintar dalam pelbagai pelajaran,  tanpa dibarengi dengan pendidikan agama dan akhlaqul karimah, bisa jadi hanya akan mencetak calon-calon koruptor atau calon penjahat. Maka utamakan pendidikan moral dan agama sejak dini agar generasi penerus kita menjadi masyarakat yang santun, jujur dan amanah. Sholeh sebagai individu, sholeh juga sebagai warga masyarakat.

Orang tua juga harus menekankan anaknya agar memiliki pandangan yang luas dan berwawasan ke depan. Harus mampu memikirkan semua perbuatannya, apa dampak positif dan negatifnya. Jika suatu perbuatan akan mendatangkan dampak negatif, maka mereka harus menjauhinya. Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda : Ketika kamu akan mengerjakan suatu perkara maka pikirkanlah, jika perkara itu baik maka teruskanlah dan jika perkara itu jelek maka berhentilah. (HR Ibnu Mubarok). Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab. [Sutono, penulis aktif dalam komunitas Islam Damai]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *