Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 18 March 2014

Rajut Damai Lewat Bola (2):Kuncinya adalah Komunikasi


foto:hendijo

Bagaimana kelompok-kelompok anak muda lintas iman membangun persaudaraan dan perdamaian melalui kegiatan sepakbola

 

SITUASI penuh prasangka di kalangan muda lintas agama tersebut ditangkap oleh para aktivis AMAN. Sebagai lembaga swadaya masyarakat yang salah satunya bergerak di bidang pembangunan kehidupan toleransi di kalangan kaum beragama, AMAN mengajak anak-anak muda dari  berbagai lintas iman untuk membentuk sebuah forum komunikasi. “ Hingga kini forum tersebut belum diresmikan dan bahkan belum bernama,”kata Dessy, salah satu aktivis AMAN.

Begitu terkumpul, kegiatan pertama yang mereka lakukan adalah saling mengenalkan diri dan berdiskusi sekaligus saling  mengonfirmasi berbagai hal yang selama ini mereka dengar dari apa kata khalayak.

Menurut Dessy, konfirmasi informasi mengenai perikeadaan masing-masing tersebut merupakan suatu hal yang sangat penting sebagai bentuk komunikasi yang sehat. Seperti misalnya, dari sebagian orang yang ditemuinya sepanjang perjalanan menuju Kampus Al Mubarak, Desy mendapatkan informasi bahwa para anggota JMA tak melakukan ibadah haji  ke Mekah melainkan cukup di Kampus Al Mubarak saja.

“Setelah soal ini saya konfirmasi ke Ustadz Billal, salah seorang pimpinan Khuddam, ternyata informasi itu tidak benar,”ujar perempuan berkacamata ini.

Soal misinformasi itu dialami pula oleh Khusnul (23). Sebelum bergaul dengan anak-anak GMKI dan aktivis Khuddam, lelaki muda asal Aceh itu mengaku memiliki perasaan antipati terhadap orang-orang Kristen dan orang-orang Ahmadiyah. Dari mana awal mulainya ia memiliki sikap antipati tersebut? Khusnul menyatakan media massa memiliki peran yang sangat signifikan dalam pembentukan opininya itu.  

“Dalam kenyataannya, saya menemukan mereka sebagai kawan-kawan yang baik. Kalaupun mereka berbeda keyakinan, namanya manusia ya pasti dilahirkan berlainan. Ya bawa enak saja,”kata aktivis PMII dari Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Bogor tersebut.

Togu Stardo Tampubolon dan Roseno Siahaan dari GMKI mungkin dua anak muda yang lebih mengerti apa yang dirasakan oleh anak-anak Khuddam. Sebagai penganut Kristen, mereka pun kadang mengalami perlakuan yang sama dengan apa yang dialami oleh anggota Ahmadiyah.

“ Kami prihatin dan merasa simpati dengan apa yang dialami oleh saudara-saudara di Ahmadiyah. Di negara ini tidak seharusnya mereka mengalami perlakuan demikian,”ujar Togu yang merupakan mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) itu.

Sementara Roseno (akrab dipanggil Seno) menyebut praktek intoleransi sesungguhnya tidak hanya terjadi di kalangan Islam semata. Prilaku tersebut merupakan sesuatu yang bisa terjadi di keyakinan mana saja. Guna mengantispasi hal tersebut menurut Seno kuncinya hanya satu: komunikasi.

“ Karena itu, kami sekarang sedang melakukan itu. Salah satunya sepakbola adalah bentuk komunikasi kami tersebut,” ujarnya.

Senja sebentar lagi meninggalkan Kampung Babakan. Usai pertandingan mereka pun bersalaman, saling peluk dan melakukan foto bersama. Sepeninggal anak-anak GMKI yang duluan pamit, anak-anak muda lain melangkah menuju masjid, diiringi suara adzan yang  berkumandang laiknya di masjid-masjid lain.

 

Sumber: Islam Indonesia 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *