Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 15 July 2014

Rahmat Allah Meliputi Segalanya


anakkedahukm.com

Salah satu asas dalam ilmu doa adalah memulai hubungan dengan Allah melalui sisi rahmat-Nya. Tapi, sebagian orang mengira bahwa “rahmat Allah” semata-mata muncul dalam bentuk kesenangan dan kekayaan. Penderitaan, kemiskinan, penyakit dan kematian adalah perwujudan dari murka-Nya. Padahal, rahmat Allah jauh melampaui batas-batas kesenangan dan kesusahan duniawi. Banyak penderitaan yang justru menyimpan kebaikan besar, seperti penyakit yang mampu mengingatkan kita untuk berhenti dari kealpaan dan mulai bersyukur kepada Allah.

Tidak jarang kesedihan dan derita berubah menjadi berkah terbesar bagi seseorang. Mitch Albom mengisahkan bagaimana amyotrophic lateral sclerosis (ALS) yang meluruhkan anggota-anggota tubuh Morrie Schwartz dan membunuhnya satu demi satu dapat memberi kebahagiaan terbesar bagi Morrie. Paul Solman, saat memberikan pengantar pada buku Morrie Schwartz yang berjudul Cahaya di Ujung Senja menuliskan demikian: “Morrie merasa berterima kasih pada asma. Penyakit yang relatif terlambat datang dalam kehidupannya ini telah mengajarkan kepadanya—demikian Morrie berkata—bagaimana mengambil jarak dari rasa panik akibat sekarat, yaitu saat dia mengalami sesak nafas yang hebat.’ Bukan itu saja, Morrie mampu mengubah frustasi menjadi kesabaran.

Banyak sekali yang dapat kita petik dari kisah Morrie, tapi lebih banyak lagi pelajaran yang dapat kita petik dari pengalaman hidup kita masing-masing. Marilah kita ambil waktu sebentar untuk merenungkan betapa ratusan penyakit yang telah kita derita sebenarnya justru membuat kita lebih banyak bersyukur, beristirahat dan berbuat hal-hal baik yang kita lupakan saat kita merasa sehat. Syukur tentu saja adalah haidah Ilahi paling menyenangkan buat manusia. Para peneliti psikologi telah menjelaskan dengan panjang lebar arti penting syukur bagi kebahagiaan manusia.

Derita dan sakit juga satu-satunya jalan manusia mencapai puncak kekuatan. Orang yang mendaki tebing atau gunung pasti menderita sakit, penat dan sebagainya. Tapi buah pendakiannya akan mendatangkan kesenangan, kekuatan, kesehatan, relaksasi dan sebagainya yang tak mungkin didapat tanpa derita sakit itu. No pain no gain—begitulah pepatah yang sering kita dengar.

Nah, saat kita meminta Allah dengan rahmat-Nya yang meliputi segala sesuatu, maka kita harus siap menerima semua bentuk rahmat Allah. Harus ada kerelaan dalam hati kita untuk menerima semua perwujudan rahmat Allah, apakah itu berupa sesuatu yang kita persepsi sebagai kesenangan ataupun penderitaan, sesuatu yang kita inginkan ataupun tidak. Al-Qur’an mengajarkan bahwa banyak yang tidak kita sukai sebenarnya baik buat kita, sedangkan banyak yang kita sukai itu buruk buat kita.

Sikap itulah yang puncaknya dapat mengantar kita berlabuh pada kepasrahan dan kesadaran seperti ini: “Ya Allah, perlakukanlah aku dengan apa yang layak bagi-Mu”. Itulah puncak penghambaan dan kepasrahan kepada Allah. Di situ terkandung keyakinan mutlak pada kemurahan dan rahmat Allah, sehingga lahir kegirangan dan keterbukaan untuk menerima apa saja yang datang dari Allah sebagai Dzat yang paling mengetahui apa yang terbaik buat kita. “Ya Allah, perlakukanlah aku dengan apa yang layak bagi-Mu” atau “Ya Allah, perlakukanlah daku sesuka-Mu!”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *