Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 18 October 2015

PROFIL – Kenangan dan Kejernihan Lauren Booth


wpid-img_20151018_080620.jpg

Lepas memeluk Islam dan menjejakkan kaki kali kedua di Indonesia, Lauren Booth tampil sebagai pembicara dalam sebuah seminar bertajuk “Islam Rahmatan lil Alamin”, diselenggarakan Nahdhatul Ulama dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, di Jakarta, Jumat (16/10).

Siapa dia? Booth adalah seorang jurnalis sekaligus aktivis perdamaian dan kemanusiaan London, Inggris. Dia sekaligus adik ipar mantan perdana menteri Inggris, Tony Blair. “Dua puluh tahun lalu saya mengunjungi Indonesia. Saat itu saya masih mahasiswi. Dulu tidak pernah terbayang dalam benak saya kalau saya akan duduk di sini sekarang sebagai seorang Muslimah dan mengenakan hijab,” ujarnya membuka sesi seminar. Ucapannya segera disambut tepuk tangan hadirin.

Booth bercerita hatinya mulai tertarik pada Islam saat menyaksikan berita sore yang menayangkan gambar remaja Palestina bernama Faris Odeh berhadap-hadapan dengan tank Israel. Apalagi saat sebagian orang menyebut Odeh sebagai teroris dan sang pengemudi tank sebagai pahlawan. “Alhamdulillah rasa penasaran saya besar. Saya melihat orang-orang yang tidak seagama ataupun satu ras dengan kami, diperlakukan seperti hewan,” katanya.

Kejadian itu lantas membuat hati wanita 48 tahun ini ingin tahu lebih banyak soal Islam.

Perjalanannya mengenal Islam menggantarkannya mengunjungi Palestina. Di sana, pada satu malam yang dingin, seorang nenek tua di Tepi Barat mengajak Booth ke rumahnya dan memberi tempat perlindungan serta selimut hangat. “Ini benar-benar tidak seperti yang dikatakan orang Barat.”

Di Palestina, Booth mendapatkan Al-Qur’an pertamanya. Dia merasakan ketakutan karena melihat banyaknya ayat keras dalam Al-Qur’an. “Tuhannya orang-orang Muslim akan menyiksaku sepedih ini?” Tapi dia kemudian menyadari bahwa ayat-ayat yang berisi ancaman senantiasa beriringan dengan ayat-ayat tentang rahmat Allah.

Meski menghadapi banyak hinaan, pada 2010, Booth akhirnya memutuskan memeluk Islam. “Dulu saya bagian dari mayoritas. Kini saya minoritas. Dan saya mendapat banyak ujian dari ini. Beberapa bahkan tak sungkan menuliskan hal-hal buruk tentang saya. ‘Oh Lauren Booth yang malang, mengapa kamu masuk ke agama yang gemar membunuh dan menyiksa perempuan?’”

Dia juga menyesalkan sejumlah media yang gemar menghina umat Islam. “Saya syok. Bagaimana bisa media-media menghina 1,8 milyar orang yang ada di dunia? Tapi saya tahu bahwa di Barat, hal itu dianggap normal. Saya ingatkan pada orang-orang Indonesia, bahwa orang-orang luar hanya tahu tentang kalian dari media. Dan media hanya tahu hal-hal buruk tentang kalian. Bahkan sebuah lembaga riset di Barat sampai berani mengatakan 70 persen umat Islam mendukung syariat Islam yang merupakan bibit terorisme.”

Menutup pembicaraannya, Booth berpesan agar umat Islam Indonesia mengikuti suri tauladan Rasul dalam menyikapi perbedaan dan penghinaan. “Toh Nabi kita juga pernah disebut ‘gila’, dituduh sebagai penyihir, dan lain sebagainya. Tapi Nabi tak balas dendam atau bunuh mereka. Karena Al-Qur’an memerintahkan kita agar mengabaikan saja omongan mereka dan bersabar,” katanya.

JM/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *