Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 16 October 2018

Professor dari Maroko: Indonesia adalah Contoh Islam yang Damai


Mariam Ait Ahmed

islamindonesia.id – Professor dari Maroko: Indonesia adalah Contoh Islam yang Damai

 

Guru Besar Universitas Ibnu Tufail Maroko, Prof. Dr. Mariam Ait Ahmed, pada Sabtu (13/10) berkunjung ke Indonesia. Dalam acara Dialog Peradaban Lintas Agama di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, dia menyampaikan bahwa Indonesia merupakan negara yang dapat menjadi contoh dalam penerapan dialog antar umat beragama.

“Kalau kalian ingin melihat contoh aplikasi dialog antarumat beragama itu diterapkan, silakan datang ke Indonesia,” kata Mariam yang mengaku sering menyampaikan hal itu dalam berbagai forum internasional, sebagaimana dilansir dari NU Online.

Menurutnya, Indonesia merupakan negara yang mempunyai prinsip membangun perdamaian. Jadi, siapa pun yang ingin masuk ke Indonesia akan merasakan kedamaian dan kenyamanan. “Saya merasa tenang di Indonesia karena di Indonesia, Islam disebarkan dengan cara moderat,” kata perempuan yang sudah sering mengunjungi Indonesia dari sejak 10 tahun yang lalu itu.

Dia tidak memungkiri bahwa Indonesia dari sejak masa penjajahan telah mengalami banyak tekanan dan masyarakatnya berpotensi mengalami perpecahan. Namun menurutnya, keberadaan ulama-ulama di Indonesia, seperti Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari yang selalu mengajarkan pemahaman agama yang moderat, membuat Indonesia tetap bertahan dan bersatu.

Perempuan yang juga merupakan Ketua Perhimpunan Persaudaraan Maroko – Indonesia ini mengatakan Islam pada hakikatnya agama kasih sayang dan perdamaian, namun wajah tersebut sering berubah karena kepentingan-kepentingan politik kelompok tertentu.

Di era demokrasi, sambungnya, perbedaan politik merupakan sebuah hal yang wajar, tetapi jangan sampai agama dijadikan sebagai komoditas politik.

“Kita menghormati itu semua karena perbedaan politik, tapi jangan sampai perbedaan politik memanfaatkan agama untuk alat jualan, untuk memberikan, mendukung kelompok tertentu, dan sambil menyalahkan kelompok lain,” ucapnya.

 

Hubungan Indonesia – Maroko dan Masalah Pendidikan

Bulan sebelumnya (13/09), Mariam juga sempat menjadi pembicara dalam Kuliah Umum yang diselenggarakan oleh Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Di sana dia berbicara tentang Hubungan Indonesia – Maroko dan Masalah Pendidikan.

Dilansir dari FDI UIN Jakarta, dalam acara tersebut Mariam menyampaikan tujuh poin penting:

Pertama, hubungan baik antara Maroko dan Indonesia sudah lama terjalin bahkan sejak berabad-abad silam. Hal ini dibuktikan dengan adanya keturunan berdarah Maroko di antara raja-raja kerajaan Islam, seperti kerajaan Samudera Pasai dan kerajaan Sumenep Madura.

Kedua, komponen dalam konstruksi peradaban tidak lepas dari upaya pengembangan diri dan integrasi ilmu pengetahuan. Selain itu, asumsi bahwa ilmu-ilmu agama hanya terbatas pada wacana hukum yang berkaitan dengan halal dan haram adalah tidak benar, melainkan sangat luas dan mencakup segala sesuatu yang bermanfaat bagi orang-orang.

Ketiga, kurangnya sikap kritis pelajar muslim dalam melihat berbagai kajian pada masa kini khususnya yang berasal dari dunia barat. Keunggulan integrasi pengetahuan dalam Islam sudah dimulai sejak zaman dahulu, ketika para ulama menggunakan berbagai sudut pandang ilmu dalam melihat berbagai permasalahan, baik yang bersifat duniawi maupun yang ukhrawi.

Keempat, seruan untuk bergerak menuju reformasi sistem pendidikan dengan pendekatan integratif yang kognitif yang berusaha untuk menduplikasi ilmu pengetahuan dan menggunakannya dalam pelayanan kemanusiaan sesuai dengan ajaran agama Islam yang welas asih.

Kelima,  tuntutan untuk terus mengkaji berbagai pengetahuan islam untuk kemudian dapat mengawal dan menjadi solusi atas perubahan-perubahan zaman di masa depan.

Keenam, berbagai proyek dalam pendekatan hubungan, dialog, persatuan Islam, pengenalan, dan pemahaman lintas peradaban tidak akan dapat dicapai oleh mentalitas yang egois, tetapi itu bisa diwujudkan dengan kerjasama dan mediasi.

Ketujuh, fakta sekarang adalah bahwa kita semua berada dalam persaingan global dalam berbagai hal, termasuk kajian ilmiah, kita dituntut untuk dapat menyediakan pendidikan berbasis universitas yang berusaha untuk melatih pikiran dan cara berpikir, menggunakan metodologi yang terbuka untuk berbagai hal baru, dan mampu untuk membaca berbagai mekanisme baru, untuk menyiapkan generasi yang mampu belajar, mengkonstruksi, menganalisis, dan mengontrol.

 

PH/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *