Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 29 October 2016

Prof. Sumanto: Mengherankan Jika Ada Habib Tak Hormati Bung Karno


proklamasi-kemerdekaan-indonesia-17-agustus-1945

islamindonesia.id – Prof. Sumanto: Mengherankan Jika Ada Habib Tak Hormati Bung Karno

 

Video ceramah Petinggi Front Pembela Islam, Habib Rizieq, yang dinilai melecehkan simbol negara kembali menjadi sorotan pasca-dilaporkan ke Bareskrim oleh salah satu putri Soekarno, Sukmawati Soekarnoputri (27/10). Seperti disebutkan Sukmawati di detik.com, Habib Rizieq diperkarakan karena menyatakan “Pancasila Sukarno Ketuhanan ada di Pantat sedangkan Pancasila Piagam Jakarta Ketuhanan ada di Kepala.”

Atas aduan itu, Habib Rizieq pun menjawab dalam situsnya yang menyebut putri Soekarno itu tak paham sejarah. “Ironis … !Sukmawati Soekarnoputri tidak paham sejarah Pancasila..?!,” tulisnya di laman situs Habibrizieq.com, Jumat (28/10).

Habib Rizieq menjelaskan, ungkapannya di video soal itu bukan tanpa alasan. Menurutnya, pada tanggal 1 Juni 1945 Soekarno dalam Sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) mengusulkan Pancasila sebagai Dasar Negara RI dengan sila Ketuhanan yang ditempatkan pada urutan terakhir.

“Soekarno, ‘Sila Ketuhanan’ dijadikan ‘Sila Buntut’ yaitu sila kelima atau sila yang terakhir,” katanya.

Lepas dari kontroversi materi video itu, intelektual Muslim Prof. Sumanto Al Qurtuby mengungkapkan keheranannya jika memang masih ada sosok habib yang benar-benar membenci para pendiri bangsa dan Pancasila.

“Jadi NKRI ini juga hasil kerja keras dari perjuangan para tokoh Arab di Indonesia karena itu tidak heran jika ulama kharismatik Habib Luthfi bin Yahya, misalnya, sangat patriotik dan nasionalis dan sangat mencintai Indonesia.” kata Prof. Sumanto di akun facebooknya yang dalam waktu dua jam telah dibagikan dua ratus kali lebih (28/10).

Profesor di King Fahd University Saudi ini melanjutkan, “Yang mengherankan justru kalau ada para habib atau tokoh Arab ataupun “Arab KW” kontemporer yang tidak menghormati Bung Karno serta tidak mengindahkan konstitusi dan dasar-dasar negara, anti-Indonesia, dan seterusnya. Apalagi membenci para pejuang bangsa.”

Kelompok ini, kata Sumanto, sama saja tidak menghargai perjuangan dan jerih-payah kakek-nenek moyang mereka sendiri. Pria kelahiran Batang ini pun berkisah tentang sosok Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi atau yang populer dengan panggilan Habib Ali Kwitang (1870–1963).

“Habib Ali Kwitang adalah salah seorang ulama kharismatik yang sangat dihormati dan disegani.”

Selain seorang penulis produktif, Habib Ali dikenal penceramah hebat, pendidik handal, tokoh dermawan, dan seorang sayyid atau syarif (keturunan Nabi Muhammad) yang sangat alim dan saleh. Habib kelahiran Jakarta ini wafat pada usia 98. Ayahnya, populer dengan panggilan Habib Cikini, juga seorang pendakwah dan sarjana Islam mumpuni. Sementara ibunya adalah putri dari seorang kiai Betawi dari Kampung Melayu, Jakarta Timur.

“Meskipun Habib Ali beserta keluarga dan keturunanya pada umumnya pengikut mazhab Sunni-Syafii, tetapi salah satu cucunya, Ali Ridha bin Muhammad, konon seorang sarjana Syiah alumnus Qom, Iran,” kata akademisi jebolan IAIN Walisongo ini yang kini mengajar di Arab Saudi.

Habib Ali adalah adalah pendiri Islamic Center Indonesia dan Majelis Taklim Kwitang (pada 1911), sebuah forum untuk diskusi, ngajar dan ceramah mengenai masalah sosial-kemasyarakatan-keagamaan. Habib Ali juga mendirikan al-Rabithah al-Alawiyah pada 1928. Selain membangun masjid, Habib Ali juga mendirikan sebuah madrasah Unwanul Falah.

“Murid-murid beliau tida hanya dari Indonesia saja tetapi juga dari berbagai negara yang kelak mendirikan madrasah atau majelis taklim di masyarakat atau negara masing-masing.”

Penting juga untuk diketahui disini, lanjut Sumanto, adalah beliau juga teman dekat Sang Proklamator Bung Karno. “Dengan kata lain Bung Karno ini adalah “auliya”-nya Habib Ali. Beberapa hari sebelum proklamasi kemerdekaan tahun 1945, Habib Ali menawarkan kepada Bung Karno untuk tinggal di rumahnya sebelum memproklamirkan kemerdekaan RI. Tujuannya adalah untuk menghindari ancaman Jepang dan juga Belanda.”

Kalau Bung Karno tinggal di kediaman Habib Ali, jelas Sumanto, jelas aman karena Habib Ali adalah tokoh Muslim kharismatik yang sangat dihormati oleh lawan maupun kawan, termasuk Belanda. Pemerintah Belanda dulu pernah menganugerahi “Medali Kehormatan” kepada Habib Ali atas jasa-jasanya dalam mendamaikan kemarahan warga Periyangan.

“Selama tinggal di rumah Habib Ali, Bung Karno menghadiri berbagai aktivitas keagamaan dan keislaman yang diprakarsasi sang habib legendaris ini.”

Prof. Sumanto kembali menegaskan bahwa Habib Ali tidak sendirian. “Ada banyak habib dan tokoh Arab dulu seperti Syaikh Salim bin Sumair, Habib Husain Alattas, Abdurrahman Baswedan atau Hamid Al-Gadri yang ikut berjuang bersama tokoh-tokoh Indonesia melawan penjajah (Belanda maupun Jepang), ikut merumusan dasar-dasar dan falsafah kenegaraan, serta ikut mendirikan NKRI,” katanya. []

 

 

YS / islam indonesia

 

One response to “Prof. Sumanto: Mengherankan Jika Ada Habib Tak Hormati Bung Karno”

  1. akuSinten says:

    Entah ia ini turunan yang keberapa dan dari mana… Apalagi jika hanya habib kw. Sungguh meragukan kwalitas kehabibannya. hehehe….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *