Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 13 May 2018

Pernyataan PBNU dan Pendapat Tokoh terkait Aksi Terorisme


Rois Aam PBNU KH Ma'ruf Amin (kedua kiri), Ketua Umum PBNU Said Aqil Siraj (kedua kanan), Sekjen Helmy Faishal Zaini (kanan) dan Katib Aam Syuriah PBNU Yahya Cholil Staquf (kiri) bersiap untuk melantik pengurus lembaga-lembaga Pengurus Besar Nahdlatul Ulam. Photo: Antara/Reno Esnir

islamindonesia.id – Pernyataan PBNU dan Pendapat Tokoh terkait Aksi Terorisme

 

Terkait aksi teroris yang belum lama terjadi, yakni pembunuhan aparat kepolisian di Mako Brimob pada hari Selasa (8/05), dan aksi peledakan bom di tiga gereja di Surabaya pagi ini (13/05), Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengeluarkan pernyataan resmi. Berikut ini adalah pernyataannya, dikutip dari laman resmi Nahdlatul Ulama:

1. Mengecam dan mengutuk keras segala tindakan terorisme, apapun motif dan latar belakangnya. Segala macam tindakan menggunakan kekerasan, apalagi yang mengatasnamakan agama dengan cara menebarkan teror, kebencian, dan kekerasan bukanlah ciri ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. Islam mengutuk segala bentuk kekerasan. Bahkan tidak ada satu pun agama di dunia ini yang membenarkan cara-cara kekerasan dalam kehidupan.

2. Menyampaikan rasa bela sungkawa yang sangat mendalam kepada keluarga korban atas musibah yang sedang dialami. Segala yang terjadi merupakan suratan takdir dan kita harus menerimanya dengan penuh sikap kedewasaan, lapang dada, ketabahan dan kesabaran.

3. Mendukung penuh upaya dan langkah-langkah aparat keamanan untuk mengusut secara cepat dan tuntas motif, pola, serta gerakan yang memicu terjadinya peristiwa tersebut. Gerakan terorisme sudah semakin sedemikian merajalela, maka diperlukan penanganan khusus yang lebih intensif dari pelbagai pihak, utamanya negara melalui keamanan.

4. Mengajak seluruh warga Indonesia untuk bersatu padu menahan diri, tidak terprovokasi serta terus menggalang solidaritas kemanusiaan sekaligus menolak segala bentuk kekerasan. Jika mendapati peristiwa sekecil apapun yang menjurus pada radikalisme dan terorisme segera laporkan ke aparat keamanan. Segala hal yang mengandung kekerasan sesungguhnya bertentangan dengan ajaran Islam dan bahkan bertentangan dengan ajaran agama apapun. Islam mengajarkan nilai-nilai kesantunan dalam berdakwah. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan Al Hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (Q.S. An-Nahl: 125)

5. Mengimbau warga NU untuk senantiasa meningkatkan dzikrullah dan berdoa kepada Allah Swt. untuk keselamatan, keamanan, kemaslahatan, dan ketenteraman hidup dalam berbangsa dan bernegara. Nahdlatul Ulama (NU) juga meminta kepada semua pihak untuk menghentikan segala spekulasi yang bisa memperkeruh peristiwa ini. Kita percayakan penanganan sepenuhnya di tangan aparat keamanan. Kita mendukung aparat keamanan, salah satunya dengan cara tidak ikut-ikutan menyebarkan isu, gambar korban, dan juga berita yang belum terverifikasi kebenarannya terkait peristiwa ini.

6. Nahdlatul Ulama (NU) mendesak pemerintah untuk mengambil langkah tegas serta cepat terkait penanganan dan isu terorisme dan radikalisme. Langkah ini harus ditempuh sebagai bagian penting dari upaya implementasi dan kewajiban Negara untuk menjamin keamanan hidup warganya. Dan apapun motifnya, kekerasan, radikalisme, dan terorisme tidak bisa ditolerir apalagi dibenarkan, sebab ia mencederai kemanusiaan.

Selain itu, KH. Ahmad Mustofa Bisri, atau akrab disapa Gus Mus, yang pernah menjadi Rais Aam PBNU dalam akun Twitter-nya, meskipun tidak secara eksplisit menyebutkan tentang terorisme, turut berkomentar. Berikut ini pernyataan Gus Mus, “Kekerasan dan kekejaman bukan dari Islam. Islam bertuhankan Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang dan datang rahmatan lil’ãlamïn. Kekerasan dan kekejaman lahir dari kebodohan yang dihasut oleh fitnah kedengkian.”

Selain Gus Mus, tokoh Islam lainnya, Professor Azyumardi Azra, Guru Besar UIN Jakarta, juga menyoroti peristiwa terorisme. Dari sudut pandang penegakkan hukum, menurutnya UU Anti-Terorisme yang dibahas di DPR terlalu berlarut-larut. Di dalam akun Twitter-nya, Azyumardi berkata, “Ada tarik menarik di kalangan anggota DPR RI yg mengakibatkan tidak selesainya revisi tsb.Tarik menarik dan pembahasan revisi UU Anti-Terorisme itu memberikan angin pada para teroris karena mengisyaratkan adanya pembelaan dan pemberian restu kepada mereka. Azra.”

 

PH/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *