Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 06 December 2015

Penembakan San Bernardino: Mengapa Kekerasan Bersenjata Sering Terjadi di Amerika?


151204192640-farook-malik-inset-t1-exlarge-169

Proses penyelidikan serangan bersenjata yang menewaskan 14 warga sipil di San Bernardino, California, Amerika Serikat (2/12) hingga hari ini masih berlangsung. Dua hari lepas insiden berdarah itu, Biro Investigasi Federal (FBI) Amerika Serikat (AS) turun memimpin langsung proses penyelidikan kasus yang terjadi di sebuah lembaga layanan orang-orang cacat, San Benardino.

Setidaknya tiga pelaku yang teridentifikasi terlibat dalam peristiwa Rabu pagi itu. Dua pelaku tewas “didor” oleh kepolisian San Benardino dan satu pelaku lainnya berhasil meloloskan diri. Dua pelaku yang akhirnya diketahui sebagai sepasang suami-istri itu bernama Syed Rizwan Farook dan Tashfeen Malik.

Meski sedang ditelusuri sebagai aksi terorisme, hingga tulisan ini diturunkan, motif pelaku yang menembakkan senjatanya ke arah korban secara acak itu belum terungkap. Terlebih, belum ada bukti kedua pelaku termasuk dalam jaringan terorisme seperti Alqaida. Bahkan, nama pasangan suami-istri ini bersih dari catatan kriminal.

”Sampai saat ini berdasarkan informasi dan fakta-fakta seperti yang kita tahu tentang mereka, kami sedang menyelidiki perbuatan mengerikan ini sebagai aksi terorisme,” kata David Bowdich, Asisten Direktur FBI di Los Angeles.

Setelah mengungkapkan duka atas tragedi Rabu nahas itu, Presiden AS Barack Obama mengungkapkan kekesalannya karena masih longgarnya kontrol kepemilikan senjata api di kalangan warga sipil. Orang nomor satu di negeri Paman Sam itu juga menyoroti fenomena penyerangan bersenjata yang kerap berulang terjadi di negaranya.

“Kami tidak memandang peristiwa ini sebagai peristiwa biasa yang secara kebetulan terjadi karena ini tidak terjadi di negara lain dengan frekuensi yang sama,” katanya dalam sebuah wawancara beberapa jam lepas terjadinya tragedi di San Bernardino, (2/12).

Fenomena ini memang tidak lagi aneh di AS akhir-akhir ini. Tiga dekade sebelumnya, korban penembakan ‘hanya’ berkisar pada aparat keamanan dan para pelaku kejahatan atau ‘geng’ yang terlibat konflik. Dalam tragedi San Bernardino, pelaku tidak memiliki catatan kriminal selain belum terbukti kuat sebagai anggota jaringan terorisme.

Korban yang berada di pusat pelayanan cacat itu pun hanyalah warga sipil yang tentunya tak bersenjata. Bahkan kerabat dekat kedua pelaku, tidak menyangka keduanya melakukan perbuatan sekeji itu. Meski diduga melakukan aksinya dengan terencana, motif pelaku yang menjatuhkan 30 lebih korban tidak mudah teridentifikasi.

Belajar dari pengalaman AS, bahkan penyerangan membabi-buta ‘tanpa alasan’ bukan lagi mustahil. Masih terngiang di benak warga AS bagaimana penembakan secara brutal terjadi di bioskop Colorado, sekolah di Connecticut dan universitas di Virginia. Setelah menghilangkan nyawa yang terdiri dari perempuan, laki-laki hingga anak-anak, pelaku yang diduga “cacat mental” itu biasanya menembak dirinya alias bunuh diri.

Aksi “teror” di San Bernardino bukan kali pertama di California. Sebelumnya juga pernah terjadi aksi teror hingga jatuhnya korban jiwa  di sebuah gereja, California Selatan, negara bagian Colorado. Seperti yang disinyalir oleh Obama, aksi-aksi brutal ini kerap dilakukan di ruang publik seperti sekolah, bioskop, tempat ibadah, universitas, pusat perbelanjaan, hingga yang terakhir di lembaga pelayanan penyandang cacat.

Semua catatan aksi teror atau penyerangan bersenjata hingga maraknya peredaran senjata api paling tidak mengindikasikan masih belum stabilnya keamanan dalam negeri AS. Tragedi San Bernardino melengkapi deretan alasan ketidaknyamanan warga di negara yang pemerintahannya dikenal sibuk berburu teroris di negara-negara lain.

Agama atau Politik?

Jumlah korban mungkin jauh berbeda dari yang terjadi di Paris belum lama ini. Dan mungkin juga motif pelaku tidak sama. Di antara banyaknya perbedaan itu, kedua peristiwa tersebut dilakukan oleh orang yang diduga beragama Islam. Lepas dari banyaknya orang yang berpendapat bahwa mereka bukanlah Muslim, sikap eksitrimisme dalam setiap agama sulit dinafikan.

Yang menjadi pertanyaan “klasik” ialah mengapa media (Barat) dengan mudah mengasosiasikan aksi terkutuk di San Bernardino dengan ajaran Islam hanya karena pelakunya penganut Islam? Mengapa pelaku ‘non muslim’ yang juga selama ini beraksi di AS tidak dipersoalkan agamanya? Bagaimana dengan ketika seorang pemuda Kristen, Dylann Roof, menembak 9 jamaah gereja orang-orang kulit hitam “Charleston” di California Selatan?

Sejauh yang tercatat di berbagai media, hampir tidak ada yang mempersoalkan agama Roof. Tidak ada sentimen anti Kristen pasca penembakan berdarah itu. Oleh sejumlah media, pelaku pembantaian tragis ini dianggap sebagai sosok rasis dan radikal. Bagaimana jika Roof adalah seorang Muslim?

Tragedi San Bernardino yang motif pelakunya belum terungkap ini, menurut sejumlah pengamat, telah memicu Islamophobia semakin meningkat drastis di AS. Sedemikian sehingga – seperti dikutip Associated Press (5/12) -, Bushra Naqib warga Muslim AS berkata, “Anda akan lelah dan kewalahan menghadapi tuduhan ini bila tidak disertai iman yang kuat.”

Program ‘pemeriksaan khusus’ pada setiap warga Muslim di negeri Paman Sam yang dikampanyekan oleh salah satu kandidat presiden AS mungkin semakin mendulang dukungan. Warga Muslim AS dan manajer Attari Supermarket, Wisconsin (25), mengaku khawatir tragedi San Bernardino ini dimanfaatkan untuk tujuan politis. “Itu menakutkan,” katanya menanggapi pernyataan salah satu capres AS yang mengkhawatirkan itu.

Memang tidak mudah untuk menilai motif penyerangan semata-mata persoalan psikologis, teologis atau politis apalagi mengadili tanpa kehadiran pelaku hidup-hidup. Sayangnya dua pelaku tragedi San Bernardino yang tidak diduga cacat mental itu (untuk kesian kalinya) tidak dilumpuhkan dalam keadaan hidup.

Bahkan kepolisian belum berhasil menemukan satu pelaku lainnya yang berhasil melarikan diri. Meski media kelompok “Islamic State” mengakui bertanggungjawab atas penyerangan itu, tetap belum cukup dijadikan bukti pembenaran. Seperti diketahui, dunia intelejen tidak kalah misteriusnya dengan dunia teroris.

Sebagian pengamat terorisme berpandangan aksi toror tidak lepas dari pesan sosial atau politik yang ingin disampaikan kepada publik. Salah satu tipenya, menurut Analis Politik-Ekonomi Ivan Hadar, ialah ‘state-sponsored’. Tipe ini mencerminkan pemerintah berkuasa memanfaatkan pihak ketiga – seperti teroris ‘non-state’ bayaran – untuk ‘mendestabilisasi’ sebagai pesan pada lawan politik atau kelompok oposisi.

Kerja Intelijen

Deretan pegalaman kekerasan bersenjata ini bisa jadi memicu warga AS untuk berburu senjata ‘ilegal’ demi menjaga keselamatannya dari teror di ruang publik. Pada saat yang sama maraknya pembelian senjata ‘ilegal’ semakin menambah aksi kekerasan di AS. Demi memutus ‘siklus setan’ ini, ada baiknya AS segera mengevaluasi cara kerjanya dalam memberantas tindakan kekerasan atau terorisme. Baik sekaliber Osama bin Laden apalagi ‘teroris kelas lokal’ di dalam negerinya sendiri. Terulangnya tragedi seperti di San Bernardino, kerja intelijen AS yang terkenal canggih itu patut dipertanyakan.

Kritik ini termasuk upaya agar pelaku diseret ke meja hijau dalam keadaan hidup demi langkah keamanan yang semakin terang dan efektif. Langkah ini tidak menafikan hukum seberat-beratnya bagi pelaku termasuk hukuman mati sekalipun, tapi dengan proses pengadilan yang transparan.

Pengalaman AS memburu teroris di Afganistan dan Irak dengan meninggalkan kerusakan fasilitas publik, modal sosial-budaya yang tak terhitung nilainya seharusnya menjadi pelajaran besar bagi dunia. Lepas dari konflik dengan Iran, AS seharusnya melirik (untuk belajar) pada seteru politiknya itu. Sebelumnya, Eks Presiden Iran, Ahmadinejad sempat meminta penjelasan AS perihal apa yang telah dikerjakannya selama berburu teroris di Afganistan.

Bagi Ahmadinejad, menangkap teroris itu hanya memerlukan kerja intelijen bukan gelar pasukan militer dalam jumlah ratusan ribu. Seperti diketahui, pemerintah Iran berhasil menangkap pemimpin organisasi teroris Jundallah, Abdolmalek Rigi, dalam keadaan hidup. Rigi dan kelompoknya merupakan orang paling dicari oleh Iran sebagaimana nilai kepala Osama bin Laden yang disayembarakan oleh AS. Adalah wajar jika Negeri Mullah itu, seperti kata pengamat Timur Tengah Zuhairi Misrawi,  menjadi satu-satunya negara yang bersih dari kelompok militan “Islamic State” atau ISIS.

 

Edy/ Islam Indonesia/ Dari berbagai sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *