Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 08 March 2017

Peneliti: Sebarkan Islam, Sufi di Nusantara Gunakan Syair Barazanji, Burdah


barazanji

islamindonesia.id – Peneliti: Sebarkan Islam, Sufi di Nusantara Gunakan Syair Barazanji, Burdah

 

Menurut Peneliti Filologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Padang, Pramono, Islam yang berkembang di Nusantara adalah Islam bermazhab Syafi’i yang disebarkan oleh para sufi dengan ajaran tasawuf yang kuat. Hal ini tercermin dalam peninggalan sastra berbentuk syair seperti “Kasidah Burdah” dan “Barzanji”.

Kedua syair itu dipakai oleh kalangan sufi untuk menanamkan nilai-nilai keislaman dan kecintaan terhadap Nabi Muhammad Saw.

“Dalam melakukan ini para sufi juga melakukan penyalinan, penulisan serta penggubahan teks-teks keislaman sebagai media untuk penyebaran agama Islam,” kata Pramono di Fakultas Ilmu Budaya Unand Padang seperti dilansir Antara, 8/3.

Ia mengatakan bukti-bukti tersebut dapat dilihat dari karya-karya para ulama dalam bentuk naskah yang masih bisa disaksikan hingga saat ini. Ulama itu diantaranya adalah Syekh Abdul Karim Amrullah, Syekh Muhammad Djamil Djambek, Syekh Sulaiman Arrasuli, Syekh Khatib Al-Fadani Syekh Bayang Muhammad Dalil dan masih banyak ulama-ulama lainnya.

“Sejauh ini, dapat diketahui bahwa syair-syair karya ulama ini ditemukan dalam bentuk salinan tangan dan salinan cetakan yang ditulis dengan aksara jawi,” katanya.

Tak terkecuali ulama-ulama tradisional Minangkabau, mereka menggunakan syair sebagai media untuk menanamkan nilai-nilai keislaman ke masyarakat.

“Pada permulaan abad XX kalangan ulama Minangkabau menggunakan sastra dalam bentuk syair sebagai media untuk syiar agama,” katanya.

Di tanah Jawa, penyebaran Islam pertama kalinya dari para sufi sulit untuk dibantah. Peneliti naskah-naskah Jawa kuno, Nancy K. Florida, tidak sependapat jika dikatakan corak mistis atau umum dikenal tasawuf dalam Islam Jawa itu bersumber dari ajaran Hindu.

Dari 500 naskah di Kraton Surakarta misalnya, hanya 17 yang berbau Hinduisme. Selebihnya adalah Islam. Ia pun mencontohkan mengenai tahapan perjalanan ruhani di Islam Jawa yang dikenal suluk.

Suluk itu lebih kuat karena pengaruh Islam, bukan Hinduisme,” kata Indonesianis berusia 67 tahun itu seperti yang telah diulas di islamindonesia.id.[]

 

YS/ Islam Indonesia/ Foto Ilustrasi: santrinews.com

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *