Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 22 October 2016

Peneliti Perancis : Sebagian Besar dari Remaja ‘Teroris’ Tidak Berpendidikan Agama


olivier-roy_5139213

islamindonesia.id – Peneliti Perancis:  Sebagian Besar dari Remaja ‘Teroris’ Tidak Berpendidikan Agama

 

Peneliti gerakan ektrimis Olivier Roy tidak menyangkal adanya dimensi agama, khususnya pada sejumlah aksi “jihad” bom bunuh diri yang dilakukan oleh remaja-remaja Barat di sejumlah negara Eropa. Bagi Roy, dimensi agama ini penting karena ia membuka peluang para jihadis itu untuk menafsirkan ulang nihilisme mereka dengan suatu janji surga.

“Aksi bunuh diri mereka menjadi jaminan bagi kehidupan abadi. Saya hanya ingin menekankan bahwa para pemuda ini tidak berasal dari komunitas Muslim. Bagian terbesar remaja itu tidak punya pendidikan agama dan nyaris tak pernah berkunjung ke masjid,” katanya dalam wawancaranya di koran liberal Jerman Frankfurter Allgemeine Zeitung pasca rangkaian aksi teror di Paris dan Brussels.

Bahkan, hampir semua dari mereka itu juga pernah melakukan kejahatan ringan. Mereka juga umumnya meminum alkohol dan mengkonsumsi narkoba. Adanya radikalisasi berkedok agama bukan juga akibat dari suatu integrasi budaya yang gagal. Jika pun ada, bagi peneliti kondang berdarah Perancis ini, itu hanya masalah sepele.

“Banyak remaja yang mengibarkan bendera jihad justru merupakan remaja yang sangat terintegrasi dalam masyarakat (Barat). Mereka berbicara bahasa Prancis, Inggris dan Jerman dengan sempurna. ISIS mendirikan sebuah batalion bagi para anggota yang berbahasa Prancis persisnya karena para pemuda Prancis dan Belgia itu nyaris tak mampu berbahasa Arab. Jadi, masalahnya bukan karena kurangnya atau gagalnya suatu integrasi budaya,” kata Roy yang juga profesor di European University Institute,  Florence, Italia ini.

Yang menarik, meski mereka telah memisahkan diri dari masyarakat sekitar, namun para jihadis Eropa itu tetap setia dengan gaya dan model Barat. “Ini nihilistik, yang sama sekali tidak sesuai dengan tradisi Islam.”

Dalam banyak kasus, mereka ini mengidap keterpesonaan pada estetika dan indahnya kekerasan dari film-film dan video-video yang mereka tonton (di Barat). Dari pembacaan ini, mereka lebih mirip dengan para siswa yang mengamuk di Columbine High School. Peristiwa yang terjadi di Amerika Serikat tahun 1999 itu telah merenggut 12 nyawa siswa dan seorang guru. Atau mirip dengan pelaku pembunuhan massal Anders Behring Breivik  asal Nowegia yang melenyapkan sekitar 77 nyawa warga.

“Bagi saya, persentase yang cukup besar dari mualaf merupakan indikator yang menarik. Tidak ada dalam budaya Muslim lain di dunia ini organisasi seperti ISIS yang memiliki anggota 25 persen berasal dari kaum mualaf,” katanya menegaskan bahwa imigrasi di Eropa dan jihadisme tidak berbanding lurus.

Jadi, bagi Roy, penjelasan kultural tidaklah cukup untuk menjelaskan apa yang menjadikan ISIS sedemikian menariknya. “Lebih dari itu, remaja yang tak memiliki jejak imigrasi juga tertarik pada ide jihad.”

Lalu bagaimana dengan pendapat bahwa, khususnya para migran, mengangkat bendera ‘jihad’ sebagai bentuk dendam sejarah terhadap kolonialisme Eropa?

Pandangan pos-kolonial sayap kiri tidaklah memadai untuk menjelaskan soal ini. Menurut saya, radikalisasi Islam ini tak bisa ditautkan dengan kebijakan luar negeri masa kini maupun kejahatan-kejahatan kolonial masa lalu. Para pemuda radikal ini tak pernah berbicara soal perang di Aljazair, sekalipun nenek moyang mereka mungkin datang dari sana. Pada umumnya mereka tidak tahu menahu soal itu,” kata penulis buku “Secularism Confronts Islam” ini.

Fenomena yang juga menjadi sorotan ialah tidak sedikitnya mereka yang terlibat merupakan adik-kakak. Jika diteliti lebih jauh, mereka ini adalah remaja yang ingin memisahkan diri secara radikal dari generasi orangtua mereka.

“Orangtua mereka tidak membina dan membimbing mereka dengan budaya Islam. Dengan menjadi radikal, mereka ingin memandang diri mereka sebagai Muslim yang lebih baik dibanding orangtua mereka.”

Orangtua di Eropa mengutuk anak-anaknya yang ikut berjihad, tidak seperti orang-orang tua Palestina yang umumnya menyetujui aksi kekerasan anak-anak mereka. Para orangtua Eropa menyatakan: “Saya tak mengerti apa yang mendorong putra atau putri saya melakukannya.”

Konflik baru antar generasi juga sedang berlangsung di sana. Ini juga menjelaskan mengapa sering sekali kakak-adik, umumnya saudara lelaki, yang memutus hubungan dengan orangtua mereka.

“Para petarung ISIS adalah anggota generasi yang sama, saudara atau teman masa kecil.”

Kebanyakan jihadis adalah mereka yang bisa disebut sebagai “born again” (menemukan kembali akar agamanya). Dengan ajaran yang mereka temukan dengan bercorak radikal, mereka mendapatkan sambungan hidup yang baru.

“Itulah mengapa sangat jarang sekali jihadis yang merupakan bagian dari generasi pertama masyarakat pendatang. Generasi itu masih hidup dalam suatu keyakinan Islam yang tradisional.”

Sejak generasi kedua pendatang itulah suatu keterputusan dengan masa lalu itu terjadi, karena pendidikan dan pembinaan nilai dan ajaran agama (Islam tradisiona) itu tidak lagi berjalan.

“Kebanyakan teroris itu berasal dari generasi kedua komunitas pendatang.”

Karena itu, menurut Roy, lahan subur terorisme sendiri itu harus diteliti. Setelah sekian lama bekerjasama dengan para psikologis dan psikoanalis dalam peneltian ini, Roy menyebut perilaku gemar mengambil risiko di kalangan remaja meningkat pesat, diikuti oleh keterpesonaan pada bunuh diri dan kekerasan.

“Kita harus lebih banyak memperhatikan dimensi ini.”

Dan fenomena ini umum terjadi di Eropa. Di Italia, misalnya, dua anak remaja membunuh sebayanya. Saat ditahan, satu-satunya alasan di balik perbuatan itu tak lain karena mereka ingin merasakan pengalaman membunuh. Media menyebut mereka anak-anak gila.

“Tapi, jika kedua anak remaja itu berteriak “Allahu Akbar” sebelum melakukan aksinya, pers akan mempersepsi mereka sebagai teroris.” []

 

 

YS / islam indonesia / sumber: www.faz.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *