Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 16 April 2014

Pelajar Indonesia di Yaman Berusaha Pulihkan Hubungan Sunni-Syiah


Nu.or.id

Perdebatan, dialog bahkan konferensi internasional antara ulama Sunni-Syiah yang sudah kerap digalakkan, tetap saja efeknya belum bisa dirasakan.

 

Sebagaimana dilansir NU Online, Departemen Pendidikan dan Dakwah Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Hadhramaut, Yaman, tengah berusaha memulihkan hubungan antar madzhab-madzhab di dunia Islam, terutama antara Sunni dan Syiah dengan cara menggagas rekonsiliasi.

Kemungkinan digagasnya rekonsiliasi tersebut dibahas secara khusus dengan menggelar acara diskusi di aula Daarul Ghuroba pada Jumat (11/4). Acara tersebut dihadiri sejumlah mahasiswa Al-Ahgaff dan Darul Guroba’.

Menurut Nor Cholis saat mengawali presentasi, pertikaian antara Sunni dan Syiah, bukanlah masalah baru karena sejak abad ke-3 dan 4 sudah bergejolak. Perbuatan naif antar kelompok madzhab yang tidak pantas telah merambah ke berbagai lini kehidupan hingga berdampak pada kekacauan umat Islam itu sendiri.

“Inilah kerapuhan persatuan umat yang saya kira tidak pantas,” kata pengurus cabang istimewa NU (PCINU) Yaman ini.

Perdebatan, dialog bahkan konferensi internasional antara ulama Sunni-Syiah yang sudah kerap digalakkan ini, lanjut Nor tetap saja efeknya belum bisa dirasakan.

Mengutip perkataan Al-Habib Abu Bakar Al-Adeni, Nor juga mengatakan bahwa dalam menyatukan antara kedua sekte Islam ini bukanlah dengan beradu argumen, melainkan mencari benang merah kesamaan antara mereka.

Dzul Fahmi, sang moderator acara mengatakan, “Memaksa kehendak antara dua sekte yang mempunyai pemahaman berbeda adalah hal yang sulit, kecuali mengumpulkannya mereka pada titik persamaan,”

Sementara itu, panelis lain, Imam Nawawi mengatakan, berbagai pihak perlu melakukan percepatan untuk meminimalisir keretakan di antara Sunni dan Syiah.

“Dari berbagai hasil konferensi, diskusi dan perdebatan efek nyata yang kita alami tak begitu signifikan. Diskusi tersebut telah merumuskan beberapa konsep. Setidaknya keluar dari diskusi membawa hasil, di antaranya pemahaman yang berbeda bisa dibicarakan dalam diskusi ilmiah bukan dengan perbuatan arogansi.”

“Pergantian baju alias memaksa kehendak untuk saling mengikuti antara ajaran kedua sekte sangat sulit karena mereka punya akidah dan kita punya akidah dan titik tekan,” tambahnya.

Karenanya, Nor menambahkan, salah satu kunci rekonsiliasi itu ada pada tokoh masyarakat di daerah masing-masing basis Sunni atau Syiah. Sehingga, ia merekomendasikan bahwa harmonisasi antara Sunni dan Syiah bisa dijalin pada ranah muamalah atau interaksi sosial. Selain itu, berbagai ide rekonsiliasi bisa disampaikan dalam berbagai silabus pendidikan.

Sumber: NU Online.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *